Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#51. Ilham ingin menanyakan perihal hubungan mereka


__ADS_3

Ilham mencoba menelepon Clara melalui via telepon.


Tut....Tut ..Tut...


Belum diangkat, kembali Ilham menghubungi Clara.


Tut....Tut ..Tut...


"Halo", sahut Clara begitu tahu kalau handphone sedang berdering.


"Clara ini aku Ilham, aku ingin mengatakan sesuatu kepada mu Clara!", Ilham membuka obrolan.


"Mau bilang apa lham?, katakan saja, kebetulan aku sedang tidak sibuk", Clara memberitahu, sedikit bingung dan penasaran apa hal yang sedang Ilham ingin bicarakan. Karena Ilham tidak pernah sebelumnya menelepon dengan minta izin seperti ini. Ilham langsung saja mengatakan kalau ada sesuatu yang perlu.


"Aku tidak bisa mengatakan nya via telepon Clara!", Ilham diam tidak melanjutkan perkataannya.


"Pie to, mau ngomong katanya tidak bisa mengatakan via telepon. Maksud nya apa sih lham?", Clara bingung dan makin penasaran.


"Nanti sepulang kerja, kita janjian untuk ketemu disebuah cafe tempat pertama kali kita bertemu ya!, boleh tidak Clara?. Harapan ku kamu mau. Dan kamu bisa datang", Ilham dengan tegas mengatakan keinginannya.


Clara merasa seperti ada yang ingin dikatakan Ilham yang sangat penting. "Baiklah kalau begitu aku akan datang. Atau kamu jemput aku dong supaya aku tidak lupa kalau kita janjian", Clara ingin tahu keseriusan Ilham.


"Baiklah kalau begitu Clara, nanti sebelum kamu pulang kerja, aku sudah berada di warung dekat tempat kerjaan kamu", Ilham memberitahu kesediaan nya.


"Wah, cepat banget datangnya. Kalau aku tiba-tiba ada kerjaan tambahan kamu akan menunggu lama dong. Datang ketika aku sudah pulang dan aku langsung telpon kamu, supaya kamu tidak terlalu lama menunggu nya", Clara merasa kasihan nanti kalau Ilham akan terlalu lama menunggui nya.


"Tidak apa-apa Clara. Tidak usah mengkhawatirkan aku. Aku senang kok kalau menunggui kamu. Lagian supaya waktu kebersamaan kita bisa lebih lama. Sehingga kamu tidak terlalu kemalaman sampai di rumah", Ilham memberi penjelasan dan sedikit menggoda Clara.


Clara pun Tertawa kecil, senyum-senyum sendiri sampai memerah pipinya.


"Baiklah kalau begitu. sampai ketemu nanti ya. Hubungi aku kalau kamu sudah sampai di warung, agar aku bisa mengcancel kalau ada kerjaan tambahan", Clara menyanggupi keinginan Ilham.

__ADS_1


"Ok. Selamat melanjutkan pekerjaan nya kembali ya sayang. Semangat ya bekerjanya, demi masa depan kita", Ilham memberi semangat kepada Clara.


"Ok.. terimakasih ya", Clara merasa tersipu atas perkataan Ilham barusan. Sebenarnya Clara pun sangat mencintai Ilham. Dan sudah merasa cocok dengan Ilham. Clara juga menjadi dilema. Antara meneruskan hubungannya atau menyudahinya karena perbedaan keyakinan.


Clara merupakan penganut kahtolik ortodoks. Merupakan kahtolik yang sangat fanatik, bahkan untuk berpindah ke keyakinan ke protestan pun sangat berat.


Dari dulu orang tua Clara sudah mengajarkan ketaatan dan syukur yang sangat besar kepada Sang Pemilik napas kehidupan. Artinya segala usaha yang dikerjakan saat ini, dan atas apa yang diperolehnya saat ini. Bahwa itu adalah campur tangan Tuhan sendiri. Keluarga Clara menyakini bahwa ada Tuhan sang pencipta dan pemilik hidup kita. Kita wajib menyembah dan taat kepadaNya.


Setiap hari Clara juga taat menjalankan ibadahnya, berdoa, bernyanyi dan membaca firman Tuhan. Orangtuanya pun selalu menekankan itu kepada Clara, agar rutin melakukan ibadahnya.


Sampai saat ini Clara belum niat dan ada pikiran untuk meninggalkan agamanya. Bahkan Clara pun takut untuk menjalani hubungan nya dengan sangat serius terhadap Ilham. Bukan tidak mencintai Ilham, tetapi Clara pasrah, kalaupun harus berpisah akhirnya.


Clara juga sering membawa doa atas hubungannya dengan Ilham yang berbeda keyakinan.


"Apakah Ilham akan menanyakan kelanjutan hubungan mereka?", sejenak terlintas prasangka Clara kalau Ilham akan menanyakan itu Sehingga ingin bertemu setelah pulang sekolah, pikir Clara semakin pusing dan gusar.


Untuk putus sekarang dengan Ilham Clara masih belum siap. Pasalnya Ilham telah membuatnya merasa seperti perempuan yang sangat berharga. Ilham sangat menghormati nya, Ilham pandai mengambil hatinya, Ilham bahkan begitu sabar bila emosi Clara memuncak. Bahkan Ilham yang selalu menasihati nya jangan begini, harus begini. Ilham sebagai sosok ayah kedua bagi Clara.


Clara mencoba cuek dan melanjutkan pekerjaannya.


***


Tidak terasa waktu kerja Clara pun berakhir, nada dering wa Clara berbunyi, Clara melihat nya dari siapa kah wa yang baru saja masuk ke handphone nya.


Ternyata dari Ilham, Ilham telah datang dan sedang menunggu di warung. Begitu informasi pesan singkat Ilham.


"Hai Clara, kita nongkrong di warung bakso bersama Randy yok. kamu kan tidak kemana-mana" ajak Stefani kepada Clara. Maklum Clara satu arah pulang dengan Stefani jadi selalu pulang bareng. Stefani mengajak Clara agar Stefani ada teman pulang nantinya.


"Maaf Clara, aku sudah janjian dengan Ilham dan Ilham sudah menunggu di warung dekat sini", Clara memberitahu Stefani.


"Tumben banget pulang kerja dijemput. Cie.... cie... cie... mencoba serius ni kayaknya", goda Stefani kepada Clara.

__ADS_1


"Terserah", Clara pun segera meninggalkan Stefani dan berpura-pura marah.


"Selamat berduaan ya Clara. da...da...da.


", Stefani terus meledek Clara. Clara pun cuek saja lalu mencibir kepada Stefani sambil senyum-senyum.


Begitu Clara keluar dari gerbang kantornya. Ilham datang langsung menghampiri Clara.


"Hai sayang, yok berangkat sekarang", ajak Ilham sambil menarik tangan Clara. dan segera naik kedalam mobil rentalan Ilham.


"Kamu bawa mobil lham?", tanya Clara.


"Iya, tadi rental", jawab Ilham sambil menyalakan mesin mobil.


"Memangnya mau ngomong apa sih lham, sampai harus menyewa mobil begini. Boros tahu, kan bisa ditabung uangnya", Clara mencoba memberi gambaran.


"Tidak apa-apa sayang, demi sayang aku. Apa yang tidak aku lakukan. Semua demi kamu, mas akan melakukannya selagi mas masih mampu. Lagian sekali-kali untuk menyenangkan ayang mas, tidak apa-apa lah", lham menggunakan kata mas. Karena ilham merasa akan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi.


Awalnya Clara meledek. "Mas, tumben banget ingin dipanggil mas", Clara mencandai Ilham.


"Iya dong. Supaya kamu nanti terbiasa memanggil aku mas. Karena aku tidak ingin kita main-main. Kita harus serius, aku ingin hubungan kita hubungan yang serius. aku memikirkan masa depan kita nantinya.


Clara merasa tersanjung kalau Ilham telah memikirkan untuk masa depannya kelak. Hati perempuan mana yang tidak tersanjung kalau pasangannya serius menjalani hubungan mereka.


"Oh iya mas, mas mau bilang apa sih. Sampai melalui telepon tidak bisa diungkap kan?", tanya Clara penasaran dan segera ingin tahu maksud Ilham mengajaknya.


"Nanti saja iya, kalau sudah sampai di cafe. Takut nanti akan membuyarkan pandangan dan fokus ku dalam mengendarai", Ilham mencari-cari alasan yang tepat.


"Iya juga sih, nanti malah terjadi kecelakaan kalau Ilham tidak fokus berkendara", Clara memakluminya.


Clara pun hanya diam saja tidak tahu lagi apa yang akan dibicarakan.

__ADS_1


"Lho kok jadi diam begitu sayang, kan bisa ngomong yang lain", Ilham menggoda Clara.


__ADS_2