Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#29. Radit menolak kemauan Maria.


__ADS_3

"Syukur Vina dan Radit menolak Clara disuapin sama aku. Aku hanya pura-pura menunjukkan sikap baik dan pura-pura perhatian sama Clara.


Lagian siapa juga yang mau menyuapi Clara, secara aku tidak menganggap Clara sebagai cucuku.


Aku menunjukkan sikap baik di hadapan Radit, agar semua yang dikatakan Vina mengenai kejelekan ku, tidak akan dipercayai oleh Radit", pikir Maria di dalam benaknya penuh kebanggaan telah membohongi Vina,


"Mampus kamu Vin, ketika Radit pergi nanti keluar kota. Aku akan membuat kamu menjadi tidak betah. Kamu pun akan sendiri nya pergi dari rumah ini dan minta cerai dari Radit", pikir Maria menambahi, raut wajahnya menyimpan senyum kemenangan.


Untuk lebih menyakinkan Vina dan Radit atas perubahan sikapnya yang menjadi baik Maria pun berpura-pura minta maaf kepada Vina atas perbuatan jahatnya, "Vin, maafkan ibu selama ini ya, karena sudah jahat sama kamu. Kamu mau kan memaafkan ibu", Maria berpura-pura minta maaf kepada Vina.


"Ibu salah apa Vin, sampai minta maaf begitu", Radit bertanya ingin tahu.


Tetapi Maria mencoba memotong pembicaraan, agar Vina tidak menjawab pertanyaan Radit.


"Hei Vin, nanti ibu mau membawa Clara jalan-jalan ya. Simpang dekat lapangan ada loh odong-odong. Sekali-kali kamu bawa dong Clara main ke sana, agar tidak bosan.


Disana banyak kok anak-anak kecil bermain-main ketika sore hari", Maria mencoba memotong pembicaraan antara Vina dan Radit.


Karena di potong begitu, akhirnya Vina tidak jadi menjawab pertanyaan Radit mengenai kejahatan Maria.


****


Melihat sikap Maria yang berubah menjadi baik, Vina pun tidak jadi memberitahu kepada Radit atas kebohongan Maria yang berpura-pura stres dan putus asa atas kematian Steven.


"Sudahlah aku tidak usah memberitahu kepada Radit bahwa perubahan Maria selama ini adalah kepura-puraan karena takut diancam oleh steven. Toh ibu Maria sudah tobat dan sudah bersikap baik", pikir Vina dalam benaknya.


Selama Radit di rumah. Sikap Maria begitu baik, sama seperti ketika Steven masih hidup. Selalu menunjukkan perhatiannya kepada Clara mau bermain boneka bareng dan membawa Clara bermain odong-odong di dekat lapangan.

__ADS_1


Ketika Vina sedang berbelanja ke warung, Maria dan Radit sedang duduk bersama di ruang keluarga.


Maria ingin membujuk Radit, agar gajinya kembali di berikan kepada Maria.


"Radit, gaji kamu diberi kepada mama dong. Seperti kemarin itu, biar mama saja yang mengaturnya. Mama melihat Vina sangat boros membuat menu makan kita selalu yang berlebihan", Maria berusaha membujuk Radit dan menjelek-jelekkan Vina.


"Mengapa ma, Radit tidak mau Vina nanti kecewa ma. Radit lihat menu makanan kita biasa kok, tidak mewah dan berlebihan.


Biarlah Vina yang mengelola nya. Agar Vina bisa menyimpan untuk kebutuhan pendidikan Clara ketika sudah besar nanti", Radit membela Vina, karena Radit merasa begitu bahagia setelah gajinya di percaya kan kepada istri.


Steven telah mengingatkan Radit, bahwa rumah tangga nya akan bahagia dan bertambah rezeki bila suami tidak melukai perasaan istri.


Radit pun senantiasa mengingat pesan almarhum Steven, terbukti memang rezeki Radit bertambah setelah kelahiran Clara dan keceriaan Vina karena merasa dihargai dan dihormati oleh suaminya.


"Kalau ibu yang memegang gaji kamu, ibu pasti akan menyisihkan nya untuk keperluan pendidikan Clara kelak", Maria terus berusaha membujuk dengan berbagai alasan agar Radit setuju memberi gajinya kepada Maria.


Vina itu istri Radit Bu, bukan pembantu. Pembantu saja di gaji kenapa Vina tidak pantas memegang gaji Radit. Masak iya Vina di rumah ini hanya mengerjakan rumah saja, pasti Vina akan merasa kecewa dan tidak bersemangat", Radit kokoh tidak mau terhasut oleh bujukan dari Maria.


"Nanti kalau Vina meninggalkan kamu, pasti kamu akan menyesal tidak mendengarkan semua perkataan mama". Maria langsung masuk ke kamar meninggalkan Radit sendirian di ruang keluarga dengan muka cemberut.


***


Percakapan Radit dan Vina di kamar tidur mereka sebelum terlelap tidur.


"Vin, mama tadi bicara sama Abang. Mama membujuk Abang agar uang gaji Abang diserahkan semua kepada mama", Radit membuka pembicaraan, sebenarnya Radit ingin tahu sikap dan ekspresi Vina menegetahui bila gaji diserahkan kepada Maria.


"Aku sudah yakin, pasti ibu akan mengatakan dan membujuk kamu bang. Apa alasan ibu, agar kamu memberikan gaji kamu kepada ibu?", Vina bicara dengan suara pelan dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


"Mama mengatakan kalau kamu boros membuat menu makanan sehari-hari, dan mama juga mengatakan kalau mama yang pegang gaji Abang.


Mama juga akan menyimpan untuk biaya pendidikan Clara kelak", Radit memberitahu semua yang dikatakan Maria.


"Apa!. ibu mengatakan kalau Vina boros?. Bang, Vina tidak ingin membela diri, menurut Abang bagaimana menu yang Vina buat, apakah itu boros bang?", Vina malah ingin tahu pendapat Radit.


"Tidak juga, itu menu yang biasa menurut Abang. Tidak apa-apa lah kalian sesekali menunya enak-enak. Jangan tempe, telur ikan asin. Kalian pun perlu asupan makanan yang bergizi.


Abang saja di jalan menunya selalu yang enak-enak. Setiap hari makan daging terus. Karena makan daging atau ikan harganya cuma beda tipis. Jadi sekalian saja pilih menu daging saja", Radit memberitahu kebiasaan makannya sehari-hari bila di perjalanan.


"Bang, jadi bagaimana keputusan Abang. Abang setuju kalau gaji Abang akan diserahkan kepada ibu semua?", Vina sedih dan tertunduk ingin tahu keputusan Radit.


"Untung lah aku tidak mau menyetujui kemauan mama, pasti Vina akan sedih. Belum tahu keputusan ku yang sebenarnya saja. Vina sudah terlihat murung dan sedih", pikir Radit dalam benaknya.


"Vin, aku tidak menyetujui keinginan mama. Aku tahu kamu akan sedih bila gajiku kuserahkan kepada mama. Jadi keputusan nya gajiku akan tetap kuserahkan kepada mu ya", Radit mencubit pipi Vina, agar Vina tidak bersedih lagi.


"Bang, besok kalau Abang mau berangkat. Berikan lah sedikit uang untuk ibu pegang, agar ibu bisa merasa senang", Vina menyarankan Radit.


"Kamu tidak marah kalau aku memberi uang gaji ku sedikit kepada mama?, Radit penasaran.


"Tidak apa-apa bang. Supaya ibu senang. Agar rezeki Abang juga bisa bertambah", Vina tersenyum bahagia kepada Radit.


"Terimakasih banyak ya bang, Abang sudah mengerti perasaan Vina. Tadinya aku juga berpikir kalau Abang pasti mau menuruti kemauan ibu. Ternyata tidak, sekali lagi terimakasih banyak bang", Vina memeluk Radit dengan erat.


Karena ini adalah malam terakhir Radit di rumah, Radit pun sangat bernafsu untuk segera mengeluti tubuh Vina.


Vina pun pasrah, dan begitu menikmati hubungan suami-istri yang mereka lakukan. Vina merasa sangat menikmati pelukan di dada Radit. Semua beban beratnya terasa lepas.

__ADS_1


"Ternyata Radit bisa menjadi sandaran dan pelindungku", pikir Vina dalam benaknya dan terus saja memeluk Radit dengan erat.


__ADS_2