
"Vin, mengapa mengemasi pakaian kamu dan Clara ke dalam tas?", tanya Radit bingung dan penasaran.
"Vina tidak tahan lagi tinggal disini bersama ibu, bang", Vina mantap.
"Tapi Vin, Abang belum bicara kepada ibu, tunggulah Abang bicara dulu sama ibu, dan bagaimana keputusan nya kalau ibu memang setuju barulah kamu mengemasi pakaian ke dalam tas.
Kalau ibu tidak setuju kita mengontrak rumah, Radit akan meminta ibu agar berjanji untuk tidak berlaku kasar dan jahat lagi kepada kalian", ucap Radit agar Vina bisa mempertimbangkan keputusan nya untuk mengontrak rumah sehingga jauh dari Maria.
"Bang, walaupun katanya ibu berjanji untuk bersikap baik kepadaku. Vina tidak akan mempercayai nya. Karena Vina sudah paham dan tahu sikap ibu dari dulu. Ibu orangnya pendendam dan tidak mau kalah.
Entah apa yang menyebabkan ibu begitu bencinya kepada Vina.
Padahal ketika lamaran mau menemui kak Sari dan bang Deni, ibu kelihatan sangat ramah dan baik.
Tetapi setelah selesai acara pernikahan, kita sudah sah jadi suami istri. Ibu berubah sifatnya. Padahal pernikahan kita pun diselenggarakan secara amat sederhana tanpa resepsi pernikahan.
Keluarga ku harusnya bisa memaksa, tetapi dari awal keluargaku selalu patuh dan memaui kemauan ibu. Tetapi apa balasan ibu kamu.
Ibu kamu tidak pernah bisa menghargai orang lain dan selalu sepele. Entah terbuat dari apa hati ibu sehingga bisa berbuat Setega itu", Vina sudah tidak bisa memaklumi sikap dan sifat Maria.
"Aku juga tidak mengerti Vin, bukannya tidak percaya kepada perkataan mu. Abang juga tidak percaya ibu bisa melakukan hal Setega itu kepada mu dan Clara", Radit bingung antara percaya perkataan Vina atau mempercayai Maria.
"Terserah Abang saja, mau percaya perkataan Vina atau ibu. Ibu setuju atau tidak setuju, Vina dan Clara akan tetap mengontrak tidak ingin serumah dengan ibu.
Abang terserah mau ikut Vina atau tidak. Vina juga tidak yakin ibu akan bisa berubah dengan tulus, semua pasti kepura-puraan", Vina menyakinkan Radit.
Radit hanya diam saja. "Iya Vin, kita mengontrak rumah saja. Tetapi tunggulah, setidaknya aku memberitahu ibu terlebih dahulu.
__ADS_1
Radit pun meninggalkan Vina dan pergi ke kamar Maria untuk memberitahu kalau Radit dan keluarga kecilnya akan mengontrak rumah jauh dari Maria.
tok...tok...tok.
"Bu, ibu, buka pintu nya Bu. Ini. Radit", Radit mengetuk dan memanggil-manggil Maria. Mengetahui Radit yang mengetuk pintu. Buru-buru Maria langsung membukakan pintu.
Pura-pura Maria menguap dan seolah-olah baru bangun tidur.
"Kamu dit, mama baru bangun dan sangat mengantuk. Ada apa kamu membangunkan mama?", Maria menyapa dengan ramah dan lembut.
Sehingga Radit merasa bingung sampai detik ini pun Radit masih merasa kalau Maria selalu ramah dan lembut bila mama menjawab dan menyapa Radit.
"Ma, Kami ingin mengontrak rumah. Vina dan Clara tidak betah tinggal serumah dengan mama. Ma, mengapa mama begitu tega, telah memperlakukan Vina dan Clara seperti orang lain saja.
Yang lebih parahnya lagi mama begitu tega menyuruh Vina Makan harus tempe, tahu, telur dan ikan asin. Rasanya gaji Radit masih cukup untuk membeli ikan dan daging sesekali ma, Mengapa mama begitu perhitungan?", Radit kesal Maria jahat kepada Vina dan Clara.
"Jelas dong, Vina dan Clara itu orang lain, sudah syukur mama masih mau kasih makan tahu, tempe, telur dan ikan asin. Mereka tidak berhak menghabiskan semua gaji kamu hanya dengan tenang-tenang saja di rumah.
" Ya ampun mama, Radit tidak menyangka kalau mama telah dibutakan oleh uang. Sadar dan bertobat lah ma, Vina menantu mama lho, begitu juga Clara adalah cucu mama.
Mama juga tega mengambil uang Vina, padahal itu bukan uang Radit seluruh nya, itu adalah uang dari pemberian kakaknya Vina dan ayah nya Vina yang telah dikumpulkan Vina untuk tabungan pendidikan Clara.
Tolong kembalikan ma. Mama seperti tidak ada uang, untuk apa mama menimbun-nimbun banyak uang.
Kalau anggota keluarga mama yakni Vina dan Clara, menantu dan cucu mama sendiri menderita. Uang tidak mama bawa mati lho ma.
Coba mama bayangkan seandainya mama meninggal dunia, padahal Radit sudah tidak tinggal bersama mama, kemana semua harta kekayaan mama ini?.
__ADS_1
Pasti akan di curi orang, apa tidak sia-sia mama telah bersusah payah mengumpulkannya padahal sampai berbuat jahat kepada Vina dan Clara.
Harusnya di masa tua mama saat ini mama menanam kebaikan dan pahala agar, kelak mama meninggal ada yang mendoakan sehingga mama bisa masuk sorga", Radit memberitahukan panjang lebar.
"Kamu mendoakan mama supaya cepat meninggal dunia ya, anak durhaka kamu", Maria penuh emosi malah salah paham menuduh Radit yang tidak-tidak.
"Bukan seperti itu maksud Radit ma, mama malah salah paham dan mengingat hanya perkataan terakhir Radit, itu seumpama lho mama", Radit kesal Maria tidak bisa diberi masukan.
"Sudah lah Radit, tidak usah menceramahi mama, seolah-olah kamu yang paling mengerti dunia dan akhirat. Kamu itu anak bau kencur tidak tahu apa-apa.
Tadi kamu mengatakan ingin mengontrak rumah?. Ya sudah tidak apa-apa silahkan saja, mama menyetujuinya. Mungkin lebih baik kalian mandiri saja, agar bisa lebih dewasa.
Kamu mengontraknya di Jakarta saja, biar nanti ketika mama ingin melihat kamu sesekali. Mama sekalian liburan dan jalan-jalan ke Jakarta.
Kapan lagi mama bisa jalan-jalan ke Jakarta kalau tidak dengan cara begini", Maria senang dan senyum-senyum menanggapi kemauan Radit.
Tadinya Radit berpikir kalau Maria akan menentang mereka untuk mengontrak rumah, ternyata mama setuju. Radit polos menerima jawaban Maria.
Padahal di dalam pikiran Maria, telah ada rencana jahat. "Maria setuju Vina mengontrak dan tinggal di Jakarta.
Dengan begitulah Maria bisa menyingkirkan Vina. Setelah mereka mengontrak rumah beberapa lama, agar tidak Vina tidak curiga, biarlah Vina merasa bahagia sesaat.
Maria akan membujuk Radit dengan segala cara agar Radit tidak pergi dan tinggal bersama Vina.
Setelah Radit tidak pernah lagi mendatangi dan menafkahi Vina. Maka pasti Vina akan menganggap bercerai dengan sendirinya dengan Radit.
Vina pasti tidak mampu mengongkosi dirinya untuk datang menemui Radit. Karena jarak Jakarta sangat jauh dan mahal ongkosnya ke Tanjung pinang", pikir Maria dalam hatinya telah menyusun rencana jahat untuk memisahkan Vina dan Radit.
__ADS_1
"Mama setuju kami mengontrak?", Radit masih kurang percaya atas perkataan Maria.
"Iya Radit, mama menyetujuinya. Mama senang dengan niat baik kalian ini. Mama pun telah lama ingin mendukungnya. Tetapi terkadang mama memikirkan kamu, kamu kan tidak ingin jauh-jauh dari mama!", Maria menggoda Radit.