
Sifat Maria sudah tidak bisa di tolerir lagi, kelakuannya sudah melewati batas. Sikap kikirnya juga di lampiaskan kepada Clara. Vina sangat sedih bila Clara harus makan tahu, tempe, telur dan ikan asin. Itupun dengan potongan kecil saja.
"Baiklah aku akan coba membujuk Radit agar tidak tinggal dengan ibu Maria", pikir Vina dalam benaknya.
Tiba-tiba lamunan Vina buyar karena mendengar ada suara ketukan pintu.
Tok..tok..tok
Vina langsung berlari kearah pintu dan langsung membukakan pintu.
Ternyata Radit sudah datang dari luar kota.
"Abang sudah datang ternyata, tumben sekali bang kali ini cepat pulang?", Vina bingung bercampur gembira.
"Iya Vin, aku memang agak cepat pulang, Hanya 10 hari. Itu karena dari kantor yang di Jakarta dan Medan memberitahu bahwa banyak sekali barang yang akan dimuat.
Padahal truknya kebanyakan dalam posisi di perjalanan, baik yang mau ke Jakarta dan yang mau ke Medan. Agar Abang bisa kecipratan. Abang dan teman Abang lanjut terus bergantian membawa mobilnya, tidak ada istirahatnya.
Jadilah aku bisa pulang-pergi cuma memakan waktu selama 10 hari di perjalanan. Lumayan sekali aku bisa lebih menghemat minyak dan biaya makan dalam perjalanan.
Terkadang bisa juga lebih 14 hari, bahkan mau sampai 1 bulan, itu kalau barang tidak ada untuk di muat, sehingga banyak mobil yang menganggur menunggu hingga barang ada untuk di muat.
Kalau sudah menganggur akan butuh uang makan sampai menunggu ada barang untuk di muat.
Begitu lah Vin, ada kalanya susah ada kalanya senang, ini rezeki Clara.
Bersyukur sejak Clara lahir, Abang belum pernah berlama-lama dalam perjalanan. Ternyata benar ya, rezeki anak itu ada", Radit bercerita dengan wajah berbinar-binar, karena lumayan uang yang akan diberikan kepada Vina pun akan bertambah pikir Radit dengan senyum-senyum.
"Iya bang, Vina senang Abang bisa pengertian dan menyadarinya. Vina takut malah Abang merasa kalau itu adalah karena hasil kerja Abang sendiri. Tidak ada gunanya kami ini", Vina dengan raut wajah sedih sampai menitikkan air mata.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Vin?, mengapa kamu jadi menangis seperti itu?", Radit bingung dan penasaran mengapa Vina tiba-tiba menangis.
"Sudah lah bang, tidak ada guna nya Vina bercerita, karena Vina yakin pasti Abang tidak akan mempercayai nya", ucap Vina datar.
"Abang percaya lah sama istri Abang sendiri, Abang sudah menyadari kesalahan Abang selama ini. Lebih mementingkan perasaan mama daripada perasaan kamu", ucap Radit mantap.
"Nanti saja Vina ceritanya bang, takut mengganggu istirahat Abang, mana tau Abang sangat butuh istirahat sekarang ini.
Abang mau istirahat di ruang keluarga, di kamar kita, atau Abang mau segera mandi saja?", Vina menanyakan keinginan Radit.
"Abang beristirahat di kamar kita saja Vin, kan enak sambil bercanda, maklum sudah 10 hari kita tidak ketemu", Radit mencoba menggoda Vina.
Vina pun hanya memerah wajahnya karena si goda Radit.
Radit pun langsung bergerak dan berjalan ke arah kamar mereka, di ikuti Vina yang sedang membawa tas yang berisikan kain kotor Radit selama 10 hari di perjalanan.
Melihat Clara pun dalam posisi tertidur, "Lumayan bisa bersenang-senang untuk bercanda ria dengan istri sendiri", gumam Radit dalam benaknya.
Vina pun pasrah tidak menolak, karena 10 hari tidak berhubungan suami-istri, itu adalah hak suami dan kewajiban istri untuk memenuhi kebutuhan hasrat suaminya.
Setelah puas melakukan hubungan suami-istri, Radit tidak langsung tertidur. Biasanya Radit langsung tertidur, tetapi Radit penasaran dengan perkataan Vina yang sampai membuatnya menitikkan air mata.
"Vin, jawab Abang dengan jujur. Mengapa kamu tadi sampai menitikkan air mata?", Radit penasaran dan ingin tahu.
"Ibu bang, selama ini berlaku kasar dan belakangan selalu menjatah untuk lauk Vina dan Clara hanya telur, tempe, tahu dan ikan asin, itupun hanya sepotong kecil saya.
Tetapi ibu makan ikan.
Pernah sekali, kami hanya makan sayur dan garam saja, karena tidak menuruti perintah ibu", Vina bercerita tentang kelakuan jahat Maria selama ini.
__ADS_1
"Apa, ibu tega melakukan semua itu. Sebentar...sebentar, Abang bingung kok ibu yang menjatah menu kamu dan Clara. Secara kamu kan yang pegang dan mengelola gaji Abang!", Radit bingung.
"Iya bang, tetapi setelah Abang berangkat 5 hari dalam perjalanan. Ibu masuk ke kamarku dan mencuri semua uang belanja termasuk simpanan ku untuk biaya pendidikan Clara, yang jumlahnya lumayan banyak.
Itu simpanan dari uang pemberian ayahku, kak Sari, dan pak Steven, dan sisa gaji yang Abang berikan", Vina bercerita dengan raut wajah sedih.
"Apa maksud ibu berbuat jahat kepada kamu dan Clara?, padahal selama ini Abang melihat ibu baik dan perhatian sama kamu", Radit geram mengetahui perlakuan Maria kepada Vina.
"Ibu merasa kalau kami tidak pantas dan tidak berhak untuk menikmati semua jerih payah Abang.
Menurut ibu, hanya ibu yang pantas menikmatinya, karena itu adalah sebagai bentuk bakti Abang kepada ibu kandung yang telah melahirkan dan merawat Abang hingga besar.
Ibu juga tidak ingin Vina memegang gaji Abang, karena ibu takut. Gaji Abang akan Vina berikan kepada kak Sari dan ayah Vina.
Ayah Vina dan Kak Sari tidak akan menerima pemberian Vina, karena mereka takut kalau Vina memberi padahal Vina kekurangan.
Malahan kak Sari dan ayah menitipkan uang untuk Vina pegang sebagai simpanan ketika ada hal yang perlu dan mendadak. Sekarang uang itu telah dicuri ibu, aku sudah memintanya berulang kali, tetap tidak diberikan.
Ibu juga tidak menganggap Clara sebagai cucunya, karena ibu menginginkan cucu laki-laki sebagai penerus kamu. Anak perempuan dianggap sebagai beban saja karena akan menambah pengeluaran untuk biaya hidup", ucap Vina.
"Ternyata sikap ibu sudah keterlaluan sama kamu dan Clara. Sekarang keinginan kamu apa Vin. Abang juga tidak mungkin memarahi dan membentak ibu, pasti ibu akan menangis", tanya Radit ingin tahu keinginan Vina.
"Vina mau kita hidup mandiri bang, tidak serumah dengan ibu", Vina tegas dan mantap.
Sejenak Radit terdiam. "Apakah ibu akan menyetujuinya?, apakah ibu bisa hidup sendiri?, siapa nanti yang menemani ibu bila ibu sakit?", pikir Radit bingung dan penuh dilema.
"Abang pasti tidak mau jauh dari ibu, Vina sudah tahu jawaban dan keputusan Abang", Vina ketus.
"Baiklah Vin, Abang nanti akan mencoba menanyakan bagaimana pendapat ibu?", Radit bingung memutuskan.
__ADS_1
"Bang, apapun keputusan Abang, setuju atau tidak setuju. Aku dan Clara tidak mau lagi tinggal bersama ibu.
Kami akan mencari kontrakan agar jauh dari ibu. Karena bila kamu tidak di rumah, ibu sangat memberlakukan kami sangat kejam dan tidak adil", Vina mantap untuk hidup mandiri tidak serumah dengan Maria.