Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#45. Vina bertemu dengan anak-anak Beni


__ADS_3

Vina sangat senang melihat sifat Beni yang sangat perhatian dan pengertian. Sepertinya bisa memahami apa yang dirasakan orang-orang terdekatnya. Beni juga Dewasa dan terbuka, menginginkan keterbukaan dari pasangannya kelak.


Walaupun Beni selisih usianya jauh dari Vina, "Tidak apalah yang penting dalam rumah tangga bisa sehati dan sepikir, kedua pasangan bisa saling menghormati dan menghargai itulah yang terpenting. Usia Radit juga lebih tua dari Vina, separuh dari sifat Beni tidak ada dimiliki Radit", pikir Vina dalam benaknya.


"Tidak apalah aku membuka diri mendalami sifat dan sikap Beni, Clara juga membutuhkan sosok ayah yang bisa jadi contoh dan panutannya.


Kalau anaknya Beni mau menerima aku jadi ibu sambung mereka dan Clara pun menerima Beni sebagai ayah sambungnya. Kalau semua sudah merestui akupun tidak akan menutup diri untuk menjadikan Beni sebagai suamiku", pikir Vina menambahi dalam benaknya.


Lagian perkawinan Vina dengan Radit adalah menikah secara agama saja, menikah secara civil tidak didaftarkan oleh pihak keluarga Radit, karena takut menghabiskan uang dan keluarga Radit khususnya ibu mertua tidak mau ambil pusing dan tidak mau turut campur. Ibu Maria menyerahkan semua urusan hal yang menyangkut pribadi Vina kepada Vina sendiri.


Sehingga walaupun Vina tidak bercerai secara resmi, tidak akan repot urusannya. Karena memang perkawinan Vina dan Radit tidak terdaftar secara civil.


Seandainya Radit datang kemudian hari, padahal Beni dan Vina sudah menikah. Radit tidak akan bisa menuntut Vina, karena tidak memiliki bukti perkawinan yang sah secara catatan civil.


***


Anak-anak Beni datang berkumpul sengaja di rumah Tuti. Setelah tahu kalau Tuti dan ayah mereka, Beni ingin mencari jodoh untuk Beni. Mereka pun senang dan merestui Beni menikah lagi. Karena menurut anak Beni. Bila Beni menikah lagi, maka di hari tua Beni akan ada yang menemani dan merawatnya.


Karena anak Beni semua sudah menikah dan memiliki keluarga dan kesibukan. Walaupun Beni dalam kondisi sakit, mereka tidak bisa dengan cepat membawa dan merawat Beni.


"Pak, kami senang kalau bapak memang ada niat untuk mencari pengganti ibu. Tidak apa-apa Pak, kami tidak akan menghalangi keinginan bapak.


Kalau boleh bapak undang lah ke rumah ini, calon yang bakal menjadi ibu sambung kami. Agar kami bisa memberi restu, mana tau bakal calon ibu sambung kami pun berpikir kalau kami anak bapak tidak merestui hubungan bapak.


Dengan datangnya juga bakal calon ibu sambung kami kesini kami pun bisa mengenal nya lebih dekat lagi.


Tidak usah menunggu lama pak, segera lah bapak melamar bakal calon ibu sambung kami tersebut", anak-anak Beni merestui dan setuju Beni kawin lagi.

__ADS_1


"Tuti, tolong kamu panggil Vina datang kemari", Beni menyuruh Tuti untuk memanggil Vina, agar Vina tahu bahwa anak-anak Beni merestui Vina menjadi ibu sambung mereka.


"Baik bang, sebentar aku akan pergi ke rumah Vina dan memanggil Vina segera", Tuti menyetujui untuk memanggil Vina, "Kebetulan memang Vina sudah pulang dari pasar. Tadi Tuti berpapasan di depan gang", ucap Tuti menambahi, Tuti pun segera beranjak dari duduknya dan pergi keluar untuk memanggil Vina.


**


Tok...tok.... tokk


"Vin... Vina...buka pintu dong. Ini kakak", Tuti mengetuk sambil memanggil-manggil Vina.


Mengetahui ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Vina pun segera membuka pintu dan mempersilahkan Tuti masuk ke rumahnya.


"Ada apa kak, tiba-tiba datang kemari?", Vina penasaran dan ingin tahu.


"Begini Vin, anak-anak nya bang Beni sedang datang ke rumah dan berkumpul. Mereka sudah mengetahui kalau kamu sedang dekat dengan Bang Beni, mereka pun menyetujui bang Beni untuk menikah lagi.


Lagian semua keputusan ada ditangan bang Beni, anak-anak hanya menyetujui kalau mereka tidak menolak bang Beni untuk menikah lagi. Kalau mengenai calon ibu sambung itu terserah kepada pilihan Bang Beni.


Mungkin yang tidak setuju adalah anak perempuan bang Beni yang paling bungsu, yaitu Rani. Itupun tidak menjadi peghalang kalau kamu tidak jadi menikah dengan bang Beni. Kakak dan Abangnya Rani nanti akan memberi gambaran dan pandangan kepada Rani.


Dan aku pikir pun, kalau mereka melihat kamu mereka pasti akan setuju", Tuti menyakinkan Vina. Karena Vina merasa tidak percaya diri, takut ada penolakan dari anak-anak nya Beni.


"Ayo lah Vin, sebentar saja. Ayo segera pakai baju kamu. Takut mereka menunggu terlalu lama. Malah mereka nantinya berpikir yang tidak-tidak. Kakak akan membela kamu kalau mereka bicara yang tidak-tidak kepada mu", Tuti berusaha membujuk Vina, karena Vina sedikit ragu dan takut, nanti akan jadi bahan ledekan atau amarah dari anak-anak Beni. Akhirnya Vina pun menyetujui setelah Tuti menyakinkan Vina.


****


"Ini namanya Vina", Tuti memperkenalkan Vina kepada anak-anak Beni, sambil menjabat tangan mereka masing-masing dan menyebut namanya.

__ADS_1


"Wah, bapak pintar memilih calon bakal jadi istrinya. Cantik dan masih muda!", ucap anak tertua dari Beni. Sontak semua pun tertawa dan Vina jadi tersipu malu-malu.


"Pak, kalau aku secara pribadi menyetujui bapak menikah dengan ibu Vina. Bagaimana pendapat kalian adik-adik ku?", anak tertua Beni meminta pendapat adik-adiknya apakah setuju terhadap Vina. Serentak mereka pun berkata, "Kami sangat setuju bang atas calon bapak yaitu ibu Vina.


"Ibu Vina bagaimana, apakah mau menerima bapak kami sebagai teman hidup bapak seumur hidupnya?", tanya anak tertua Beni kepada Vina.


Vina merasa terharu dan tidak bisa berkata-kata. Mereka sangat menghormati dan menghargai Vina. Walaupun usia Vina lebih tua dari anak tertua Vina. Tetapi mereka tetap menghargai Vina sebagai calon istri dari bapak mereka.


"Bagaimana Bu?, apakah ibu setuju mau menikah dengan bapak?. Apakah ibu jadi ingin berubah pikiran setelah melihat kami anak-anak bapak?", tanya anak tertua Beni bertanya ulang.


"Oh tidak, saya setuju kok, menikah dengan Bapak kalian. Tadinya saya sangat terharu sampai tidak bisa berkata-kata karena kalian sangat menghargai dan menghormati saya.


Maaf walaupun saya lebih muda dari salah satu kalian.


Tetapi sebelum saya menyetujui untuk menerima atau tidak menerima bapak kalian.


Saya sangat ingin mendengar jawaban kalian. Benar kah kalian mau menerima saya apa adanya sebagai ibu sambung kalian dan Clara anak bawaan saya sebagai adik kalian.


Dan nantinya apabila setelah Saya menikah dengan bapak kalian, anak yang lahir dari rahim saya. Apakah kalian mau menerimanya sebagai adik kalian, dan mau menyayaginya seperti adik kandung kalian sendiri?", Vina bertanya secara tegas, Dan ingin tahu jawaban pasti dari anak-anak Beni.


Karena Vina tidak ingin Vina hanya diperalat sebagai perawat pribadi bapak mereka. Vina ingin agar anak Vina yang lahir dari rahimnya boleh diterima baik oleh anak-anak Beni kelak.


"Kami akan menerima mereka sebagai adik-adik kami Bu. Dengan sangat senag hati kami menerima. Bila ibu melahirkan anak lagi itu berarti akan menambah keturunan bapak", anak-anak Beni menyakinkan Vina.


Vina pun senang dan puas atas perkataan dari anak-anak Beni.


"Baiklah kalau begitu. Aku menerima bapak kalian sebagai suami saya. Dan mau menikahi dan menemaninya seumur hidupnya", Vina bicara dengan pelan.

__ADS_1


__ADS_2