Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#30. Maria bersikap jahat ketika Radit tidak di rumah


__ADS_3

Ku..ku... ruyuk.


Bunyi suara Kokok ayam jantan berbunyi begitu nyaring dan lantang. Sehingga membangunkan Vina yang begitu lemas dan merasa sangat mengantuk.


"Mengapa badan ku begitu lemas dan sangat mengantuk", pikirnya dalam hati. Vina ingat semalam antara dirinya dan Radit melakukan hubungan intim. Vina senyum senyum sendiri, kenikmatan semalam masih membayang di ingatannya.


Vina memang tidak malu-malu lagi untuk memuaskan Radit, bahkan mengatakan bagian-bagian yang paling Vina inginkan untuk disentuh, bahkan di ***** oleh Radit.


Dengan malas Vina memaksakan diri untuk bangun mengerjakan rutinitas pekerjaan rumah setiap harinya.


Sungguh Vina telah menjadi wanita yang seutuhnya. Sifat dan sikap Radit yang selalu menghargai dan menghormati nya sebagai istri dan ibu dari putrinya.


Telah Radit perlihatkan. Terbukti Radit tidak mau menuruti Maria untuk memberikan seluruh gaji Radit kepada Maria.


Dengan senyum bahagia Vina memberangkatkan Radit "Hati-hati di jalan ya bang, jangan nakal kepada perempuan lain. Ingat istri dan anak di rumah, agar tidak macam-macam", pesan Vina sebelum Radit berangkat ke luar kota.


"Iya, tenang saja sayang. Aku akan tetap setia dan ingat pulang", balas Radit menyakinkan Vina, agar Vina pasrah dan tidak khawatir melepaskan kepergian Radit.


"Oh iya ma, ini ada sedikit sebagai uang pegang saja untuk mama, tidak banyak memang. Tetapi kan kebutuhan dapur dan kebutuhan rumah sudah diurus sama Vina. Ini uang pegang mama saja", Radit memberikan sedikit uang kepada Maria, dengan di lihat oleh Vina dan itu adalah kesepakatan Vina dan Radit.


"Iya Terimakasih Radit", ucap Maria dengan muka tidak puas. Karena sesungguhnya Maria mengharapkan semua gaji Radit, biar Maria saja yang mengatur pengeluaran, begitu pikiran Maria.


"Sudahlah tidak usah memikirkan perasaan mama, lama-lama mama pasti terbiasa. Mama kalau di maui, malah akan seenaknya", pikir Radit dalam benaknya dan segera meninggalkan Maria dan Vina di rumah.


Setelah Radit berangkat, Maria langsung masuk ke kamarnya dengan menghempaskan pintu kamarnya dengan kencang.


Menunjukkan muka tidak senang.


" Ternyata Radit lebih mendengar apa kata istri nya dari pada mama kandungnya", pikirnya dalam benaknya.

__ADS_1


Vina melihat sikap Maria, "pasti ibu Maria lagi marah", gumamnya berusaha cuek dan tidak menanggapi sikap Maria.


"Nanti juga akan baik sendiri, sekarang mungkin masih emosi. Biarlah aku cuek dan berpura-pura tidak menanggapi", pikir Vina dalam benaknya. Dan langsung ke kamarnya, bermain-main dengan putrinya Clara.


Tidak beberapa lama Maria berteriak dengan sekencang-kencangnya "Vina, cepat kemari!, Vina cepat..t...t", Maria teriak sekencang-kencangnya.


Vina terkejut, berpikir dalam benaknya "Apakah telah terjadi sesuatu", Vina langsung berlari menghampiri Maria.


"Ada apa Bu!, mengapa berteriak begitu kencang, Vina pikir telah terjadi sesuatu", Vina bertanya ingin tahu.


"Ini, segera cuci pakaian ini, ini rasanya kurang bersih. Bagaimana sih kamu menyucinya. Badan saya sampai gatal-gatal dan iritasi semua. Kamu sengaja ya mencucinya supaya kulit saya ruam merah-merah semua!", Maria bicara dengan suara keras dan membentak dengan lantang dan kasar menuduh Vina, berpura-pura kalau tubuhnya gatal dan iritasi memakai pakaian yang baru selesai dicuci Vina.


"Bu, ini sudah Vina cuci dengan bersih. Vina mencucinya dengan memakai sabun dan deterjen yang biasa dan masih batas normal, tidak terlalu banyak.


Begitu juga bilasannnya Vina membilas nya 3 kali. Noda yang masih melekat mungkin saja itu sudah noda lama yang tidak bisa lagi dibersihkan", Vina berusaha menjelaskan kepada Maria dengan suara pelan dan lembut.


Mencoba terus membujuk agar Maria pengertian. Karena pekerjaan yang menumpuk di rumah tidak mungkin diselesaikan dalam satu hari, karena Clara pun harus diperhatikan dan harus ditemani bermain.


Vina merasa kesal bila ibu mertua memberikan pakaiannya untuk di cuci kembali. Sama saja telah membuang-buang waktu dan tenaganya dan kerugian material lainnya.


Tetapi bagaimanapun Vina berusaha untuk membujuk Maria. Maria tidak perduli dan tetap memaksa Vina untuk mencuci pakaiannya kembali.


Vina bingung dengan sikap Maria, "Padahal kemarin ketika Radit di rumah. Maria begitu ramah dan lembut bicaranya", pikir Vina dalam benaknya.


"Apakah Maria hanya berpura-pura baik ketika hanya di depan Radit saja, ketika Radit sedang pergi ke luar kota. Seolah-olah Maria telah menunjukkan sikap aslinya", gumam Vina menambahi.


Dengan terpaksa Vina harus mencuci kembali pakaian Maria dengan sangat banyak.


Belum selesai mencuci semua pakaian yang harus di cuci, terdengar suara rengekan Clara yang memanggil-manggil sambil menangis "mama....mama.. mama a..." Clara terus berteriak.

__ADS_1


Vina mendengar teriakan Clara dan langsung menghampiri nya dengan tergesa-gesa mencoba mengendong dan membujuk Clara agar diam dan menghentikan tangisnya.


Maria malah tidak perduli atas kerepotan Vina. Maria berteriak kencang "Vina ...Kenapa mencucinya belum selesai-selesai, kapan dong ini di jemur. Padahal pakaian yang kamu rendam ini, ibu mau pakai ke pesta nya ibu Dina besok siang", Maria memaksa Vina untuk segera mencucinya.


"Ibu, pakai pakaian lain saja apa tidak ada?, mengapa harus memaksakan harus memakai yang sedang di rendam.


Lagian itu kan tadinya sudah Vina cuci, kalau ibu ada rencana mau memakainya besok. Mengapa ibu merendamnya dan memaksa Vina harus mencucinya kembali?", Vina berusaha memberikan penjelasan.


"Tidak usah sok pintar kamu, sudah saya bilang pakaian yang kamu cuci membuat kulit ibu ruam merah-merah, dan iritasi, makanya menyuruh kamu mencuci ulang. Tidak usah membantah, cepat kamu cuci, kapan keringnya kalau kamu asing protes", Maria kesal dan terus memaksa, kalau pakaian itu harus segera di cuci.


"Ibu, bagaimana saya mengerjakan nya sekarang, secara Clara terus menangis. Kalau ibu merasa kalau pakaian yang Vina cucu gatal dan menimbulkan iritasi bagi ibu. Mengapa ibu masih menyuruh Vina yang mencucinya?", ucap Vina yang masih saja menggendong Clara dan berusaha membujuk Clara agar tidak menangis lagi.


"Ibu tidak mau tahu ya Vin, sekarang juga cepat kerjakan apa yang ibu perintahkan. Kamu tidak mau lagi mencuci pakaian mertuamu?, biar nanti saya kasih tahu kepada Radit!", Maria malah menuduh Vina tidak mau lagi mencuci pakaian ibu mertuanya .


"Ibu bukan begitu maksud Vina, mengapa ibu jadi salah paham begitu. Vina mau kok mencuci pakaian ibu.


"Ibu tolong temani Clara main Iya. Agar Vina bisa menyelesaikan pekerjaan ini", Vina membujuk Maria.


"Apa main sama Clara. Enak sekali kamu. Saya sudah bilang kalau saya tidak menerima Clara sebagai cucu saya", Maria kesal.


"Kemarin waktu bang Radit di rumah, ibu begitu perhatian kepada Clara. Mengapa sekarang ketika bang Radit tidak di rumah. Seolah-olah sikap ibu berubah seratus delapan puluh derajat", Vina bingung dan ingin tahu.


"Kamu tahu kenapa?, Karena walaupun kamu menjelek-jelekkan aku di depan Radit. Radit tidak akan percaya semua perkataan mu.


Kamu memang bodoh Vin. Kamu pikir aku berubah dan mau bersikap baik kepadamu.


Pakai ilmu apa kamu, suami saya Steven dan anak saya Radit tunduk dan patuh kepadamu. Kamu sudah memelet Radit kan?.


Dulu Radit sangat patuh dan takut kepada ibu. Tetapi setelah kamu datang Radit seolah-olah menjauh dan tidak patuh lagi kepada ibu. Awas kamu ya Vin", Maria berbicara dengan penuh emosi dan prasangka buruk.

__ADS_1


"Ibu jangan asal menuduh begitu dong. Vina tidak ada memakai ilmu apa pun. Semua sikap jahat ibu kepada Vina itu semua karena prasangka buruk ibu saja kepada Vina.


Ibu merasa telah di tinggal kan dan dicueki Radit. Padahal sesungguhnya Radit dan Vina sangat sayang kepada ibu", Vina sedih dituduh yang tidak-tidak


__ADS_2