
"Apa ibu bilang!, coba sekali lagi ibu mengatakan kalau ibu menerima bapak sebagai suami dan teman ibu seumur hidupnya", pinta anak tertua Beni kepada Vina untuk mengulangi perkataan nya.
Sebenarnya bukan maksud mereka untuk mengerjai Vina, tetapi untuk lebih menyakinkan Beni. Karena Beni ekspresinya biasa saja.
"Saya menerima bapak kalian sebagai suami saya kelak, dan mau menjadi teman hidup seumur hidup nya", Vina berbicara dengan keras. Beni pun merasa senang dan bersyukur Vina mau menerimanya dengan senang hati.
Beni pun segera datang menghampiri Vina ketempat duduknya dan menjabat tangan Vina sambil berucap, "terimakasih banyak ya Vin, Abang berjanji akan selalu setia dan mau menemani kamu dikala senang maupun sedih. Dan Abang juga akan menjadi sandaran bagi ku kelak", Beni berjanji kepada Vina.
Setelah mendapat restu dari anak-anak Beni. Pernikahan Beni dan Vina semua akan diatur oleh anak-anak Beni. Bahkan untuk pakaian pengantin Vina semua di siapkan dan diberikan oleh anak-anak Beni. Mereka sangat senang dan antusias Beni menikah dengan Vina.
Sejauh ini, Beni pun mau kompak dan dekat dengan Clara. Clara merasa senang bila Beni mengajaknya bercerita dan menemani Clara bermain. Vina pun lengkap sudah kebahagiaan nya, bila melihat Clara akhirnya pun ikut senang.
***
Akhirnya Vina dan Beni menikah secara sah. Pernikahan diselenggarakan secara agama dan adat. Resepsi pernikahan berjalan dengan baik dan tamu undangan lumayan banyak diundang.
Maklum dari pihak anak-anak Beni dan Beni bersaudara sendiri sudah banyak. Dari pihak Vina hanya dihadiri oleh Deni, sang kakak ipar karena pernikahan diselenggarakan di Jakarta dan dalam tempo waktu yang singkat.
Ketika itu Deni sedang dalam perjalanan ke Jakarta. Jadi tidak sempat lagi membawa Sari dan ayah Vina ikut menghadirkan pernikahan Vina dan Beni.
"Vin, Abang senang akhirnya kamu menemukan jodoh yang terbaik bagi kamu. Kakak turut senang melihatnya begitu juga Sari dan ayah. Titip salam kepada mu.
Mereka senang akhirnya kamu bisa menemukan jodoh yang baik. Selamat ya Vin, semoga kalian berbahagia dan langgeng hingga kakak nenek", Deni mengucapkan selamat kepada Vina sambil menjabat tangan Vina.
"Terima kasih banyak bang", Vina menerima jabat tangan Deni.
"Kalian akan tinggal menetap di Jakarta. Tidak kembali ke kampung?", tanya Deni ingin tahu.
"Mungkin sementara ini masih di Jakarta bang, tetapi tidak menutup kemungkinan akan pindah ke kampung. Karena bang Deni memang berencana tinggal di kampung. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan", Vina memberitahu rencana mereka ke depan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Abang senang mendengarnya. Kamu sudah mempunyai kehidupan yang lebih baik", Deni turut senang atas kebahagiaan Vina.
****
Dari perkawinan Vina dengan Beni. Setelah satu bulan menikah. Vina pun hamil. Beni sangat senang. Vina bisa melahirkan anak dari keturunan nya. Vina melahirkan anak pertama dari Beni berkelamin perempuan.
"Asik Clara akan mempunyai adik baru", Clara senang setelah Vina memberitahu tentang kehamilannya.
Clara pun menganggap beni adalah bapak kandungnya sendiri, karena sosok Radit tidak pernah disinggung oleh Vina dan lagian Clara masih berumur 1 tahun berpisah dengan Radit.
Sehingga di usia Clara yang memasuki 4 tahun sekarang, sosok Radit tidak ada dalam ingatan nya. "Sudahlah ngapain juga mengingatkan dan mengenal kan sosok Radit kepada Clara.
Adanya Clara nanti malah sakit hati, atau berkecil hati kepada adik-adik nya karena tidak satu bapak, dan merasa jadi anak tiri. Toh Beni pun sangat menyayangi Clara seperti anak kandungnya sendiri", pikir Vina dalam benaknya.
Hari demi hari berlalu. Kehidupan Vina menjadi lebih baik. Vina tidak lagi mengupas bawang merah setelah menikah dengan Beni.
Vina menjalankan usaha menjual minuman, teh, kopi dan susu, serta mie kuah dan mie goreng. Vina pun menambah variasi jualannya dengan menjual gorengan yang diolah Vina sendiri, jajanan dan sembako ditambahkan Vina. Sehingga warung Vina semakin bertambah banyak dan penghasilannya pun lumayan bertambah.
***
Hampir setiap tahun, Vina melahirkan anak. Agaknya setelah lama menduda ditinggalkan istrinya selama hampir 10 tahun lamanya.
Setelah menikah dengan Vina. Gejolak dan gairah bercinta Beni semakin kencang dan terus bergairah. Sehingga Vina setiap tahun melahirkan anak. Sekarang Vina sudah melahirkan anak yang ketiga bagi Beni.
Sesuai dengan janji anak-anak Beni. Mereka pun menerima anak-anak yang lahir dari Vina dianggap sebagai adik kandung mereka sendiri.
Setiap Vina melahirkan anak. Anak-anak Beni selalu datang menjenguk dan memberikan hadiah berupa bingkisan dan uang. Mereka turut berbahagia atas kelahiran adik-adik baru mereka.
***
__ADS_1
Clara sudah memasuki Usia Remaja, duduk di tingkat SMP Selisih Clara dengan adik tirinya hanya terpaut 3 tahun. Tidak terlalu jauh beda usia nya, tinggi badan dan tingkat pendidikan mereka. Mereka pun sudah bisa membantu Vina berjualan dan membereskan pekerjaan rumah.
***
Sesuai janji dan keinginan Beni. berkeinginan untuk kembali ke kampung. Mengolah tanah warisan orang tua. Serta menjaga tanah peninggalan orang tua agar tidak diambil dan direbut orang lain.
Maklum Beni bersaudara kebanyakan tinggal di kota. Beni sebagai anak bungsu dari laki-laki disuruh pulang kampung untuk menjaga tanah warisan dari orang tua, agar tidak diambil dan direbut orang lain.
Vina pun tidak berani melawan, walaupun warung yang dikelola Vina di Jakarta sangat laris dan berkembang pesat.
***
Sekarang Vina dan Beni serta anak-anak mereka sudah berada di kampung Vina pun membuka warung seperti ketika berada di Jakarta.
Kebetulan lokasi tempat tinggal Vina ada wisata air panas. Maka usaha warung Vina pun berjalan dengan baik dan berpenghasilan lumayan banyak pula.
Walaupun usaha Vina laris manis. Vina harus bertanggung jawab untuk membayar uang kuliah dari anak bungsu Beni dari istri terdahulunya.
Agak bersusah payah Vina untuk menutupi kebutuhan nya. Karena gaya hidup Rani sangat tidak bagus. Rani suka berpoya-poya membeli tas, pakaian dan sepatu yang bermerk. Padahal Rani masih di biayai orang tuanya.
"Bang, kamu bicaralah kepada Rani. untuk berhemat. Menggunakan uang yang ku kirim dengan sebaik-baiknya.
Toh kita disini juga mencari uang tidak gampang. Harus putar otak juga. Kemarin aku sudah kirim uang 1juta. Masak dalam waktu 2 minggu sudah minta uang lagi", Vina berkeluh kesah atas sifat boros Rani kepada Beni.
Beni hanya diam saja, terkadang Beni tidak ada memberitahu atau menasihati Rani untuk menghemat uang belanja yang diberikan.
**
"Bang ternyata abang-abangnya Rani mengirimkan uang setiap bulan kepada Rani. Kemana semua uang itu bang. Untuk beli apa Rani dengan uang sebanyak itu. Padahal dari aku, Rani sudah meminta 2 juta dalam sebulan ini", kembali Vina marah kepada Beni atas kelakuan Rani yang begitu boros dan sesuka hatinya meminta uang kepada Vina. Lagi-lagi Beni hanya diam saja.
__ADS_1
"Itu karna Abang terlalu memanjakan Rani", Vina terlihat kesal.