
Setelah Vina selesai urusannya di pasar, Vina bermaksud pulang ke Meranti 3.
"Darimana kamu Vin, mengapa pulang se sore ini. Saya pikir kamu tersesat dan tidak tahu arah pulang. Saya sampai bingung mau mencari kamu kemana", Tuti merasa khawatir.
"Iya kak, sepulang dari kantor expedisi tempat kakak ipar bekerja. Saya langsung mampir ke pasar mencoba mencari pekerjaan. Dan disana saya sudah mendapatkan pekerjaan untuk mengupas kulit bawang merah.
Hasilnya memang tidak seberapa, tetapi lumayan lah daripada tidak ada sama sekali. Gaji yang kita peroleh tergantung banyak tidaknya bawang merah yang kita kupas.
Gajinya boleh diambil mingguan setiap hari Sabtu, atau bulanan diakhir bulan", Vina memberitahu cara kerja dari pekerjaan yang di lakukan nya.
"Tetapi itu kerjanya capek sekali lho Vin, pinggang terasa mau patah saja. Apalagi kalau kamu rutin setiap hari bekerjanya", Tuti memberi tahu Vina.
"Semua pekerjaan akan terasa lelah kalau kita tidak ihklas melakukan nya. Tidak apa-apa lah kak. Yang penting aku bisa kerja dan mendapatkan penghasilan daripada tidak ada sama sekali", Vina ihklas.
"Iya sih. Ya sudah terserah kamu saja. Mudah-mudahan kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi ya", Tuti memberi semangat kepada Vina.
"Terimakasih kak, Vina dan Clara mau mandi dulu ya", Vina pamit meninggalkan Tuti di ruang tamu sebelum ke kamar mandi, Vina terlebih dahulu hendak masuk ke kamarnya. Kebetulan kamar Vina berada di belakang dekat kamar mandi.
"Oh iya, Vin. Kamu setelah mandi kita makan bersama ya, tidak apa-apa lah. Nanti kamu langsung datang saja ke ruang tamu", Tuti mengajak Vina.
"Tidak apa-apa kak, tidak usah ngerepotin. Tadi Vina sudah makan kok. Kakak sama Abang saja yang makan. Tidak usah memikirkan dan segan kepada kami, kami akan masak sendiri juga", Vina menolak dan merasa segan telah merepotkan Tuti, takutnya malah membebani keluarga Tuti.
"Sudah lah Vin, tidak ngerepotin kok. Tidak apa-apa lah sekali-kali, pokoknya kamu nanti selesai mandi datang ke ruang tamu. Kita makan bersama. Kali ini kamu tidak boleh menolak", Vina pun tidak bisa menolak ajakan Tuti untuk makan bersama.
***
__ADS_1
Setelah selesai mandi ternyata semua makanan telah di sajikan Tuti di ruang tamu. Acara makan bersama tinggal menunggu kedatangan Vina dan Clara.
"Aduh kak, jadi tidak enak. Malah harus menunggu kami", Vina merasa tidak enak, karena keluarga Tuti sudah menunggu lama.
"Sudah tidak apa-apa, kamu duduk sini. Tidak usah segan dan malu-malu, apa yang tersaji boleh di makan, tidak usah malu-malu", Tuti memberitahu.
Vina pun segera mengambil nasinya, terlebih dahulu menyuapi Clara makan. Lalu segera mengisi perutnya.
Sambil makan Tuti bertanya, "Jadi kapan kamu mulai bekerja Vin?".
"Besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat dari rumah, toko buka diantara jam 7-8 pagi. Tidak apa-apa lah memulainya pagi sekali, agar sore bisa mendapat banyak bawang yang bisa di kupas. Dan tentunya supaya gajiku bulan depan bisa dapat banyak", Vina memberitahu keinginannya.
"Iya juga, kamu tetap jaga kesehatan lho Vin. Oh ya kalian makannya bagaimana?", Tuti mengingatkan.
"Iya kak. Kami akan masak sendiri terpisah dari dapur kakak, agar kami pun bisa mandiri dan tidak ngerepotin kakak. Setiap hari kami akan membawa bekal makanan ke tempat kerja, agar lebih hemat", ucap Vina.
Setelah semua sudah merasa kenyang, Vina pun bergegas langsung memberesi piring-piring kotor dan segera membersihkan di dapur.
****
Ku...ku. .ru..yuk...
Bunyi Kokok ayam jantan berbunyi.
Vina segera bersiap-siap untuk memasak dan segera beres-beres membenahi segala yang perlu dibawa. Karena seharian Vina dan Clara akan berada di luar, termasuk pakaian ganti Clara pun dibawa.
__ADS_1
Vina pun memulai hari pertama kerjanya dengan penuh semangat dan segala doa dan harapan di panjatkan agar semua yang dilakukan nya bisa menjadi berkah, dan kiranya semua bisa lancar dan dibukakan rezekinya oleh Yang Kuasa serta dijauhkan dari segala kesialan dan bencana.
Selesai semua dibenahi Vina pun berangkat naik angkutan umum, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Vina tiba di toko sebelum jam 7 pagi, ternyata sudah ada ibu-ibu lain yang menunggu. Sebelum toko dibuka, Vina pun mencoba akrab dan saling kenal dengan ibu-ibu yang satu profesi dengan nya.
"Ibu juga mau bekerja sebagai pengupas bawang merah disini?. Cepat sekali datang nya, ibu tinggal di sekitar sini ya. Nama ibu siapa?", tanya Vina ramah dan ingin tahu sambil menyebutkan namanya.
"Iya, rumah saya lumayan jauh dari sini, naik angkot sekali saja. Nama saya Ranti", jawab Ranti ramah.
"Kamu sendiri bagaimana, rumah mu dekat sini, makanya datang pagi-pagi sekali?", tanya Ranti balik.
"Tidak, sama seperti ibu sekali naik angkutan. Saya sangat butuh pekerjaan dan harus membawa anak makanya saya terpaksa harus melakukan pekerjaan ini", Vina jujur mengenai keadaannya.
"Saya pun begitu, Saya ditinggal suami dan saya mempunyai 3 orang anak, anak saya tinggal di rumah, karena ada kakaknya sudah berusia 6 tahun dan 8 tahun", Ranti ikut terbuka atas kondisinya.
"Begitu lah hidup di Jakarta harus lebih keras berjuang, agar mampu bertahan hidup. Masih lebih bersyukur aku masih mempunyai 1 orang anak, kalau sudah mempunyai 2 atau 3. Mungkin akan sangat sulit sekali untuk menutupi biaya hidup", gumam Vina dalam hatinya.
Begitu lah keseharian Vina selalu membawa serta Clara ketika sedang mengupas bawang merah, Vina tidak tahu harus sampai kapan melakukan profesi ini.
Yang pasti hidup terus berjalan dan terus harus berjuang agar mampu menjalani hidup. Terkadang setelah selesai mengupas bawang merah. Vina mencari bawang merah di tumpukan sampah kulit bawang merah mana tahu ada tececer atau terjatuh, atau sekedar bawang yang kecil-kecil.
Lumayan juga untuk kebutuhan bumbu dapur di rumah dan sisanya di kumpulkan, setelah terkumpul kira-kira 1-5 kg kemudian dijual kepada pembeli dibawah harga pasar. Lumayan hasil penjualan nya untuk menutupi kebutuhan dapur.
Terkadang juga Vina mengumpulkan sampah botol bekas minuman air kemasan, kalau lagi banyak ketemu di jalan. Atau ketika dipasar begitu banyak berserakan. Vina pun mengumpulkannya dan membawa ke rumah dan setelah jumlahnya lumayan banyak kemudian di jual ke tukang pengepul.
Vina harus pintar-pintar mengolah apa saja agar bisa menghasilkan uang. Vina juga tidak malu bekerja sebagai tukang cuci dan tukang gosok. Karena minggu Vina libur, tidak mengupas bawang merah. Vina pun bersedia jadi tukang cuci dan tukang gosok pada tetangga yang membutuhkan.
__ADS_1
Tiga tahun sudah Vina menjalani hidup tanpa Radit. Berjuang sendiri membesarkan Clara. Tidak ada kabar dari Radit. Bahkan Radit pun tidak berusaha mencari Vina dan Clara. Vina pasrah dan tidak berharap lagi kepada Radit. Dan harus mengubur sedalam dalamnya kenangan bersama Radit.
Kehidupan Vina sedikit membaik, Vina sudah mempunyai kontrakan sendiri tidak mengontrak di rumah Tuti lagi. Vina bersyukur masih bisa makan 3 kali sehari. Dan tidak pernah mengutang kepada tetangga.