
Kehidupan Ekonomi keluarga Clara makin membaik. Clara dan Ilham saling sehati sepikiran dan sejalan dalam mengelola rumah tangga. Clara mengambil posisi sebagai bagian yang mengatur segala pemasukan dan pengeluaran keluarga. Itu sudah merupakan kesepakatan antara Clara dan Ilham.
Sedangkan Ilham sendiri adalah sebagai pencari nafkah. Apa saja dikerjakan Ilham. Begitu juga Clara, terkadang Clara berjualan buah di rumah dan menjual pakaian anak-anak, remaja dan ibu-ibu. Clara menjualnya dengan sistim cash dan credit. Sehingga semakin hari bisnis berjualan pakaian Clara makin berkembang.
Satu persatu adik Clara di suruh kuliah dan mencari pekerjaan di Jakarta. Mereka pun tinggal dan menetap di rumah Clara.
Ilham tidak mempermasalahkan itu, Ilham dan Clara ikhlas untuk membantu adik-adiknya. Begitu juga dari pihak Ilham, baik keponakan dan sepupu Ilham terkadang datang minta bantuan Ilham.
Clara pun tidak mempermasalahkan itu. Baik dari pihak Clara maupun pihak Ilham. Clara dan Ilham tidak mempermasalahkan selagi masih bisa dibantu, Clara dan Ilham pun ikhlas membantu tanpa mengharapkan imbalan.
*****
3 Tahun kemudian.
"Clara... ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan, tetapi kamu yang tenang ya menanggapi nya!", Vina sejenak terdiam tidak melanjutkan perkataannya.
"Bu, cepat cerita, perasaan Clara tidak enak. Ibu ingin menyampaikan berita apa sih", Clara menjadi penasaran, karena dari kemarin perasaan dan firasat nya tidak enak. Tetapi Clara tidak tahu arti dari firasat tidak enak itu.
"Begini Clara, bapak mu sudah meninggal dunia, 1 jam yang lalu", belum sempat Vina melanjutkan perkataannya berikut nya Clara sudah berteriak sekencang-kencangnya.
"Tidak mungkin Bu, bapak tidak mungkin pergi secepat itu. Uu...u.. padahal Clara ada rencana ingin menelepon bapak kemarin. Tetapi entah karena sibuk, Clara akhirnya lupa menelepon bapak. Sekarang malah bapak sudah pergi meninggalkan Clara. Pak....bapak....", teriak Clara sambil menangis terisak-isak.
"Sudahlah Clara relakan bapak mu pergi. Ini sudah takdir dan kehendak Tuhan. Tidak ada yang bisa menyangkalnya", Vina terus membujuk dan menasihati Clara.
"Mengapa bapak tiba-tiba sekali perginya Bu, padahal baru 3 hari yang lalu kita bertelepon. Ibu tidak ada memberitahu Clara kondisi bapak yang sedang sakit parah", Clara merasa yakin kalau Beni baik-baik saja kemarin.
"Menurut mata batin ibu, ada roh yang membisikkan kepada ibu. Kalau ayah kamu meninggal karena telah di santet oleh tetangga kita. Memang sedari dulu tetangga kita itu tidak suka kepada kita.
Mereka selalu memberi sesuatu agar warung kita tidak laris, bahkan bapak kamu sakit-sakitan awalnya tetangga kita yang menyantet nya. Sekarang malah bapak mu dibuat meninggal dunia. Konon akibat ilmu yang dipelajari nya.
Harus ada tumbal nyawa yang dikorbankan, kalau tidak maka nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya", Vina menjelaskan secara panjang lebar penyebab kematian Beni.
__ADS_1
"Sudahlah Bu, clara tidak mengerti hal-hal yang begituan. Sifat indigo ibu, yang kata ibu bisa bicara dengan para arwah. Cukup jangan terlalu dipikirkan dan tidak usah di gubris. Ibu banyak-banyak lah berdoa dan melakukan ibadah, agar roh para arwah itu tidak sering menghampiri ibu", Clara memberi nasihat kepada vina.
Vina hanya terdiam. Dalam hati Vina, sebenarnya ada untungnya bila Vina bisa bicara dengan para arwah. Vina jadi bisa menyangkal dan mengantisipasi segala perbuatan jahat orang, karena ada yang melindungi badannya. Vina dapat mengetahui siapa orang yang ingin berbuat jahat seperti guna-guna kepada nya.
Untuk menyenangkan hati Clara agar tidak terus-menerus memarahi nya. Vina pun hanya menjawab "Baiklah Clara, ibu akan coba tidak terlalu fokus dan tidak peduli terhadap suara yang bergema di telinga ibu. Ibu akan banyak berdoa da beribadah agar roh-roh tersebut tidak mau lagi menghampiri ibu", Vina menyakinkan Clara.
"Begitu lebih baik bu. Sebaiknya ibu juga fokus terhadap kesehatan ibu Clara melihat ibu semakin hari semakin kurus saja", Clara mengingatkan Vina.
"Oh iya Clara, kamu bisa datang kan untuk menghadiri pemakaman bapak mu?", Vina mengingatkan Clara.
"Iya Bu, Clara dan Mas Ilham berusaha datang untuk menghadiri pemakaman bapak. Nanti selanjutnya Clara akan memberitahu ibu, kapan Clara akan berangkat. Clara akan naik pesawat, agar bisa cepat sampai", Clara memberitahu rencana kedatangannya ke kampung.
"Baiklah Clara ibu akan menunggu kedatangan kalian. Ibu akan mempersiapkan segala proses pemakaman bapak kamu dengan berbicara kepada saudara-saudara bapak kamu yang ada di kampung ini", Vina memberitahu.
"Ok lah kalau begitu Bu, buat lah apa yang terbaik untuk bapak Bu. Nanti kalau ada biaya-biaya lain. Biar Clara saja yang bertanggung jawab", Clara menyanggupi biaya yang dibutuhkan dalam proses pemakaman Beni.
****
Vina kesurupan tiba-tiba berbicara dengan lantang dan keras terkadang dengan suara yang bergetar, dan sesekali menangis tersedu-sedu.
"Uu...uuu. Kalian tahu mengapa aku meninggal. Pak Roni tetangga 2 rumah dari sebelah kiri rumah kita. Itulah yang membunuh ku. Pak Roni mencekik ku aku berusaha melawan, tetapi aku tidak mempunyai cukup tenaga.
Akhirnya karena tidak sanggup untuk melawannya. Aku kehabisan Nafas sehingga meninggal dunia. Kalau aku sudah meninggal maka, Pak Roni pun akan merasa enteng dan mudah untuk menyakiti keluarga kita. Kalian harus waspada dan berjaga-jaga.
Rajin-rajinlah berdoa dan beribadah, agar segala maksud perbuatan jahatnya bisa kembali lagi kepada nya. Tetapi Pak Roni tidak mau dia yang jadi korban, anak dari kakak nya Vina akan dijadikan tumbal", hantu Beni memberitahu lewat tubuh Vina.
Semua keluarga yang mendengar perkataan Vina menjadi takut dan merinding. Antara percaya atau tidak atas semua yang dikatakan Vina.
"Sudahlah, tenanglah kamu di alammu. Tinggal kanlah tubuh Vina, Vina sudah merasa lelah dan tidak bertenaga. Semoga semua Anak-anak dan cucu-cucumu dijauhkan dari perbuatan setan", ucap salah satu keluarga yang sedang berkumpul diruangan itu, memohon agar beni segera keluar dari tubuh Vina.
Begitu roh Beni keluar dari tubuh Vina. Vina langsung tergeletak di lantai dengan kondisi lemas. Clara dan keluarga pun berusaha menenangkan Vina, agar Vina kembali normal dan vit.
__ADS_1
****
3 hari kemudian Vina mendapat kabar kalau anak dari Sari yang paling bungsu yang bernama Teddy meninggal dunia secara tiba-tiba.
Sebelumnya 3 hari sebelum Teddy meninggal dunia. Teddy mual dan muntah-muntah. Sari berusaha memijat Teddy, "Mungkin Teddy masuk angin", pikirnya dalam hati.
Sari pun telah membawa Teddy untuk berobat ke klinik dekat rumahnya dan diberi Obat penghilang mual.
Ternyata Minggu pagi, Sari berusaha membangunkan Teddy dan hendak melihat kondisi Teddy apakah sudah baikan, karena kemarin malam Sari masih memijat tubuh Teddy. Pintu kamar Teddy terkunci dari dalam
Sari berusaha mengetuk dan menggedor-gedor pintu kamar Teddy tetapi tidak dibuka. Akhirnya pintu terpaksa dibongkar. Dan betapa terkejutnya Sari kalau Teddy tergeletak dilantai dengan kondisi telanjang dengan berlumuran darah keluar dari mulutnya. Teddy dinyatakan telah meninggal dunia.
Setelah Teddy dimakamkan, malamnya disaat keluarga sedang ramai berkumpul. Kembali Vina kesurupan.
"uu....uuu....uuu.. Aku meninggal dunia karena ada suruhan dari seseorang. Yang memerintahkan tuyul...tuyulnya... untuk membunuh aku. Mereka melompat-lompat diatas perutku, sehingga aku muntah darah.
Aku tidak sanggup melawan mereka, mereka terlalu banyak dan sangat kuat. Aku sampai sesak dan kehilangan nafas. Sehingga aku meninggal dunia. Tuyul-tuyul itu melucuti semua pakaian ku. Tidak sehelai kain pun menutupi tubuhku, aku telanjang.
Kalian hati-hati dan waspada lah. Rajin-rajinlah berdoa dan beribadah agar ilmu sesat tidak mempan dikirimkan kepada kalian", Hantu Teddy memberitahu lewat tubuh Vina.
"Baiklah, tenang lah kamu dialam sana. Kami akan waspada dan berjaga-jaga", ucap Sari sambil menangis dan berusaha ikhlas merelakan kepergian Teddy.
Ternyata benar apa yang telah di sampaikan Vina ketika beni selesai dimakamkan, kala itu Vina pun mengalami kesurupan, dan mengatakan bahwa pak Roni telah menjalankan ilmunya untuk menyakiti anak dari kakaknya Vina.
Semua bergidik mendengar semua yang diucapkan Vina ternyata benar adanya.
"Sudahlah, kita tidak usah memikirkan benar atau tidaknya apa yang dikatakan Vina. Bisa saja itu adalah kebetulan saja. Sekarang yang perlu dilakukan adalah berdoa dan beribadah agar dijauhkan dari hal-hal yang jahat", ucap Sari mengingatkan dan menasihati seluruh keluarga yang berkumpul agar tidak terlalu memikirkan dan merasa ketakutan atas perkataan Vina.
"Vina kamu biasa sajalah menanggapi sifat kamu yang Indigo, kiranya tetangga dan oranglain tidak perlu mengetahuinya.
Cukup lah ini hanya konsumsi kita saja. Vina kamu juga jangan terlalu sering melamun, ambillah kesibukan agar kamu tidak dihinggapi roh. Jagalah kesehatan kamu, jangan terlalu memikirkan orang lain", Sari menambahi.
__ADS_1
"Baiklah kak", Vina pun hanya bisa mengangguk dan menyetujui apa yang dinasihat kan Sari.