
"Apaan sih ma, Radit kan sudah besar ma, sudah berkeluarga lagi", ucap Radit malu-malu, walaupun sebenarnya hati kecilnya memang tidak ingin jauh dari Maria.
"Oh iya, ini uang Vina yang mama ambil, mana tahu nanti bisa jadi uang pegangan dan sebagai jaga-jaga bisa di pergunakan disaat mendesak.
Mama mengambil nya sebenarnya?, maksud mama akan memberinya suatu saat di waktu yang tepat, mungkin inilah waktu yang tepat", Maria menyerahkan dompet merah berisi uang yang telah Maria ambil.
Radit berpikir bahwa Maria adalah mama yang baik dan perhatian. Padahal Maria hanya berpura-pura baik didepan Radit, agar semua yang diceritakan Vina mengenai sifat dan sikap Maria.
Radit tidak percaya, dan nanti tiba saatnya Maria akan sedikit demi sedikit akan memasukkan doktrin-doktrin tidak baik mengenai Vina, sehingga Maria bisa mengendalikan Radit. Itu seperti trik jahat Maria.
"Oh iya, kapan rencana kalian akan pindah?", Maria ingin tahu.
"Secepatnya nya ma, sekalian Radit berangkat ke luar kota dan membawa serta Vina dan Clara menumpang di truk yang Radit bawa", Radit memberitahu rencananya.
"Oh bagus itu, berarti bisa menghemat ongkos, aturan biaya untuk ongkos. Akhirnya bisa untuk menutupi biaya untuk mengontrak rumah", Maria berasa sok bijak, dan bersikap begitu manis dan sok perhatian.
"Sudah sana, beritahu Vina kalau ibu menyetujui kalian untuk mengontrak rumah, agar Vina bisa segera mengemasi barang-barang yang akan dibawa", Maria menambahi, bersikap manis dan sopan cara bicaranya didepan Radit.
"Sebenarnya sudah sedari semalam Vina mengemasi pakaian dan di masukkan ke dalam tas. Mama setuju atau tidak setuju, Vina akan tetap mengontrak rumah ", Radit memberi tahu dengan polos.
"Oh begitu, tidak apa-apa. Begitu lebih bagus. Jadi sekarang tidak jadi terburu-buru mengemasinya, sehingga akhirnya kita tahu mana barang yang tertinggal", ucap Maria ramah sambil tersenyum, padahal hatinya sangat geram, menurut nya Vina adalah menantu yang pembangkang.
****
"Bu, kami permisi untuk pergi ya, ibu jaga diri baik-baik. Kami akan memberi kabar kalau sudah sampai di Jakarta dan akan sering-sering menanyakan kabar ibu.
Kalau ibu kenapa-kenapa, atau sesekali kami akan mendatangi dan menjenguk ibu", Vina pamit menjabat tangan Maria dan Clara mengikutinya dari belakang. Sikap Vina biasa dan datar, permisi hanya sebagai bentuk menghargai terhadap suaminya Radit, karena sikap manis Maria adalah kepura-puraan saja di depan Radit.
"Oh iya, ibu minta maaf selama ini sudah jahat sama kamu. Kamu jangan mengingat nya lagi ya. Mudah-mudahan kalian disana bisa betah dan lebih baik hidupnya", Maria berpura-pura bersedih akan berpisah dengan Maria dan Clara.
__ADS_1
Mereka bertiga pun meninggalkan Maria sendirian di rumah.
"Awas kamu Vin, nikmati saja kebahagian sesaat kamu, setelah itu kamu akan menderita dan menjadi gembel di Jakarta.
Itu upah atas kesombongan dan keangkuhan kamu yang tidak patuh dan menurut kepada orang tua.
Kamu akan bersyukur makan di rumah ku dengan menu lauk tahu, tempe, telur dan ikan asin. Setelah kamu di Jakarta untuk makan sekali sehari saja kamu sudah bersyukur", pikir Maria dalam benaknya dan merasa tidak bersabar menanti dan melihat penderitaan Vina.
***
Selama di perjalanan Vina dan Clara begitu menikmati suasana kota. Dari kota yang satu ke kota yang lain. Walaupun terkadang hanya pemandangan kebun sawit dan karet saja.
Maklum kendaraan yang dikendarai Vina adalah truk, truk hanya boleh melintas di pinggiran kota, tidak diizinkan masuk area perkotaan. Tetapi suasana pemandangan itu begitu indah dirasakan Vina dan Clara.
Maklum Vina dan Clara tidak pernah kemana-mana. Hanya berdiam diri saja di rumah. Sedangkan bagi Radit, pemandangan dan suasana itu terasa membosankan.
Karena rute itu sudah sering di lalui dari hari ke hari. Radit akan selalu melalui rute ini selama jadi supir ekspedisi Medan-Jakarta.
Setiap hari menikmati menu makanan yang enak-enak, "Makan dan nikmati saja Vin, tidak usah memilih menu telur.
Kamu ambil dan makan saja daging. Sesekali tidak apalah, jangan terlalu menghemat. Dunia ini perlu dinikmati. Kalau sudah meninggal dunia, kamu akan menyesal tidak bisa menikmatinya", ucap Radit tersenyum.
"Iya bang", Vina tersenyum melirik kepada Radit sambil menyuapi Clara.
****
Sampailah di perbatasan Lampung dan Jakarta, saatnya akan menyeberangi selat Sunda. Banyak antrian bus dan kendaraan roda empat di Pelabuhan Bakauheni untuk memasuki kapal.
Tibalah giliran truk yang ditumpangi oleh Vina dan Clara. Begitu mengambil posisi untuk antri dan langsung memasuki kapal pada bagian bawah karena khusus di peruntukkan untuk segala jenis kendaraan.
__ADS_1
Suasana di lantai bawah sangat pengab dan gelap, Vina dan Clara berinisiatif untuk naik ke lantai atas untuk menikmati pemandangan laut Selat Sunda.
Vina berucap kiranya Vina tidak salah mengambil keputusan, berharap kehidupannya nanti kelak lebih baik. Karena telah jauh dari keluarga nya. Vina menitikkan air mata, karena merasa tidak akan bertemu lagi dengan kakaknya Sari dan ayahnya.
Setelah beberapa menit kemudian.
Sampailah Vina dan Clara di Jakarta, sebelumnya Radit telah meminta tolong kepada temannya sesama supir yang tinggal dan rumah nya di Jakarta.
Untuk mencarikan rumah kontrakan yang sederhana saja, tidak mewah, yang penting aman dan nyaman bisa terlindung dari panas terik matahari dan hujan.
Jadi setelah Vina dan clara tiba di Jakarta langsung bisa menempati rumah kontrakan yang sudah di panjar oleh teman Radit.
***
Radit tidak bisa menemani Vina dan Clara berlama-lama tinggal di rumah. Karena Radit pun harus bekerja, seperti biasa kalau lancar Radit akan datang sekali 14 hari.
Radit pun meninggalkan uang belanja kepada Vina, "Vin, ini uang belanja, tidak sebanyak yang biasanya. Karena saya sudah pakai untuk biaya makan kita selama di perjalanan dan uang untuk membayar kontrakan untuk beberapa bulan ke depan.
Kamu pandai-pandai lah mempergunakan uang ini untuk 14 hari ke depan, kalau bisa pikirkan untuk 1 bulan ke depan. Karena Abang tidak tahu ada tidaknya barang untuk di muat.
Kehidupan di Jakarta tidak sama dengan kehidupan waktu kita di kampung Vina, kamu tahu sendiri kontrakan kita harus bayar setiap bulan dengan jumlah uang yang lumayan besar, bahan-bahan makanan sayur, beras, ikan dan bumbu-bumbu dapur pun, mahal harganya.
Jadi kalau Abang datang per 14 hari, kamu harus pandai-pandai menyisihkan untuk bayar kontrakan untuk bulan berikutnya.
Oh iya ini uang yang diambil ibu, ibu memang bermaksud untuk mengembalikan nya suatu saat di saat yang penting.
Mungkin saat inilah waktunya mengembalikan nya kepada mu, agar bisa kamu pergunakan untuk biaya hidup di Jakarta. Makanya ibu menitipkan kepada Abang untuk diberi kepada kamu", Radit memberi wejangan kepada Vina sambil menyerahkan uang yang telah di ambil Maria.
Bukan main gembira nya hati Vina, uang simpanannya telah kembali. "Lumayan pikir Vina dalam hati, buat tambah biaya hidup, karena masih banyak perlengkapan peralatan yang masih harus dibenahi", pikir Vina dalam benaknya.
__ADS_1
Vina merasa asing dengan kehidupan barunya, suasana baru, tetangga baru. "Aku harus pandai-pandai bergaul dan ramah dengan tetangga, karena tetangga adalah orang pertama yang akan kita mintai tolong, bila kenapa-kenapa", pikir Vina dalam benaknya.