
Kuku....ru...yuk.. Suara Kokok ayam jantan bersahutan. Dengan malas, karena seluruh badan terasa begitu pegal, mata yang masih terasa mengantuk. Vina pun memaksakan diri untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Sekejap Vina berpikir untuk melaksanakan ibadah nya, berdoa memohon ampun kepada Yang Kuasa, karena selama ini telah meninggalkan ibadah. Jarang untuk datang bersembah sujud dihadapan Nya.
Berjalan sendiri, dengan usaha dan pikiran sendiri. Menyombongkan diri seolah-olah mampu berdiri sendiri tanpa bantuan dari Sang Penguasa. Vina menyadari kebodohannya.
Vina bersujud memohon ampun, kiranya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan Kiranya Tuhan tidak meninggalkan Nya, melainkan berharap agar hidupnya di berkati segala rencana dan cita-cita nya. Di masa depan kehidupannya bisa menjadi lebih baik lagi.
Begitu lega hati Vina setelah mencurahkan segala beban hidupnya di hadapan Sang Kuasa. Vina pun merasa seperti memiliki kekuatan baru, semangat yang baru dalam kehidupan yang baru. Karena sekarang Vina akan berjuang sendiri untuk kehidupan dirinya dan putrinya Clara.
Segera Vina mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke kontrakan baru. Tidak banyak barang yang akan Vina bawa, hanya beberapa tas besar dan tas kecil untuk menyimpan uangnya.
Agar mudah di jangkau ketika akan butuh untuk membayar angkutan atau sekedar membeli jajanan atau makanan kecil.
Vina pun segera meninggalkan kontrakan nya kebetulan memang kontrakan yang hari ini waktunya diperpanjang, apabila ingin melanjutkan akan menempati nya.
Tetapi Vina berkeinginan untuk pindah dan memilih kontrakan dekat pasar, agar bisa mencari pekerjaan untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari.
Vina pamit kepada tetangga dan pemilik warung, sekalian memang Vina melewati rumah pemilik warung, Bu Ijah. Untuk pergi mencari angkutan umum.
"Bu, saya pamit untuk pindah. Terimakasih ibu selama ini telah baik dan sangat perhatian kepada saya", ucap Vina kepada Bu Ijah.
"Kamu mau kemana Vin, membawa tas besar begitu", tanya Bu Ijah penasaran.
"Saya mau pindah kontrakan Bu", ucap Vina datar.
"Mengapa!, Kamu tidak suka tinggal di sekitar sini?", Bu Ijah penasaran.
__ADS_1
"Bukan begitu Bu, saya sangat senang dan bersyukur kalau semua warga disini sangat baik dan perhatian kepada saya. Saya ingin pindah dan mencari kontrakan yang dekat ke pasar Bu, agar saya bisa mencari pekerjaan. Karena saya mempunyai Clara yang tidak bisa ditinggal sendiri di rumah", ucap Vina memberitahu.
"Oh begitu ya Vin. Kamu yang kuat tabah dan tetap semangat nya Vin. Mudah-mudahan besok kamu menemukan jodoh yang baik dan perhatian, sehingga hidup mu bisa lebih baik lagi", Bu Ijah memberi doa dan harapan. Vina memang selalu curhat dan bercerita tentang Radit yang tidak pernah datang lagi menemuinya.
"Amin, terima kasih atas doa dan dukungannya Bu. Saya pamit ya Bu", Vina pun segera meninggalkan warung Bu Ijah dan melanjutkan perjalanan nya untuk naik angkutan umum menuju pasar.
Tidak terlalu lama menunggu, angkutan umum segera berhenti di depan Vina setelah Vina memberi kode kalau Vina akan naik. Begitu Vina duduk, angkutan langsung melaju.
Vina mengambil posisi paling ujung dengan seluruh tas bawaannya ditaruh didepan. Satu persatu penumpang datang masuk kedalam angkutan ada yang duduk di depan dan di samping Clara.
Tidak beberapa lama angkutan sudah penuh penumpang, sebenarnya tidak ada lagi bangku yang kosong. Tiba-tiba angkutan berhenti dan bang supir telah memberi tahu kalau angkutannya sudah penuh.
Tetapi wanita paruh baya yang memberhentikan angkutan memaksa untuk masuk dan duduk. "Bu, saya sangat buru-buru. Dari tadi saya sudah menunggu angkutan untuk nomor ini, tetapi tidak nongol-nongol.
Bolehkah saya memangku anaknya agar saya bisa duduk?. Nanti anaknya tidak usah bayar", wanita paruh baya itu memaksa duduk dan memangku Clara di samping Vina.
Vina juga mengibaratkan bagaimana kalau Vina berada di posisi wanita paruh baya tersebut dengan keadaan yang sangat mendesak ingin pergi ke suatu tempat padahal angkutan yang ditunggu tidak kunjung datang.
"Terima kasih ya Bu, sudah mengizinkan saya untuk duduk disini. Saya sudah hampir 1 jam menunggu angkutan tidak datang-datang.
Padahal saya ingin berkunjung ke rumah sakit, anak saya baru kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit oleh warga sekitar ditempat kejadian terjadinya kecelakaan", Wanita paruh baya itu menceritakan kondisinya.
"Tidak apa-apa Bu, bantuan saya tidak seberapa kok, saya ikhlas menolong. Dan mudah-mudahan anak ibu tidak kenapa-kenapa ya", Vina prihatin atas kondisi wanita paruh baya yang memaksa naik kedalam angkutan dan sekarang posisinya disamping Vina dan sedang memangku Clara.
Penumpang yang duduk di depan Vina sibuk mengajak Vina untuk mengobrol, ada saja yang di tanyakan sampai terkesan tidak habis-habisnya obrolannya, Terkadang sampai tidak membiarkan Vina menoleh ke arah Clara, selalu memaksa agar Vina terus memperhatikan nya. Seolah seperti mengalihkan perhatian Vina sehingga Vina tidak fokus terhadap barang bawaannya.
Tidak beberapa lama, turun wanita paruh baya yang tadinya sedang memangku Clara.
__ADS_1
"Bang, pinggir!. Saya turun disini saja", ucap wanita paruh baya itu lalu turun dari angkutan. Tidak begitu lama penumpang yang tadinya duduk di depan Vina juga turun.
Vina pun langsung memeriksa barang bawaannya, karena menyadari sebentar lagi akan turun.
Vina panik dan teriak "Aduh, tasku, tasku, tasku hilang", Vina teriak sambil menangis. Tas kecil tempat menyimpan uangnya berupa hasil tabungannya dari sisa belanja yang diberikan Radit. Dan penjualan dari hasil menjual televisi, kulkas dan barang-barang yang lain. Karena barang-barang itu semua tidak bisa Vina bawa.
Kemarin sebelum pindahan Vina jual untuk tambahan modal hidup Vina. Sekarang uang itu telah hilang. Vina yakin kalau tas itu tadi ada ketika Vina naik angkutan.
Berarti uang itu hilang dan dicuri orang yang di dalam angkutan yang terakhir kali naik. Vina sadar orang yang memangku Clara. "Pasti orang yang memangku Clara adalah pelaku yang mencuri tas saya", teriak Vina sambil menangis.
Supir angkutan seketika berhenti mendengar Vina menangis.
"Ada apa Bu, mengapa menangis?", tanya bang supir.
"Tas ibu ini hilang, bang!. Mungkin orang yang masuk terakhir yang memangku anaknya, pelakunya", ucap salah satu penumpang menebak.
"Kemarin juga ada kejadian penumpang seperti yang ibu alami, tiba-tiba ia kehilangan dompetnya. Makanya Bu, kalau ada yang mengajak ngobrol jangan diladeni terlalu serius.
Ibu harus tetap waspada memperhatikan barang-barang bawaan ibu. Karena mereka terkadang tidak sendiri. Ibu yang mengajak mengobrol di depan ibu.
Itu mungkin sebagai pengalih perhatian ibu. Sedangkan yang beraksi adalah orang yang memangku Clara, anak ibu.
Setelah dia berhasil maka dia akan turun dan disusul teman lainnya", ucap bang supir bercerita mengenai penumpang yang sama motif kejadiannya seperti yang dialami Vina.
Nasi sudah menjadi bubur, Vina tidak bisa berbuat apa-apa. Mau melapor kepada polisi Vina tidak bisa melukiskan wajah pelaku. karena kejadiannya sangat cepat.
Vina juga tidak fokus memperhatikan wajah pelaku. Melaporkan kepada polisi juga membutuhkan prosedur yang prosedurnya pun Vina tidak paham, lagian Vina tidak tahu dimana kantor polisi.
__ADS_1