Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#31. Maria mencuri uang simpanan vina


__ADS_3

Maria meninggalkan Vina di tempat menyuci pakaian dengan Clara yang masih menangis sesegukan. Bentakan dan suara lantang dari Maria kepada Vina telah membuat Clara menjadi ketakutan dan terus saja menangis.


"Diam dong Clara sayang, tidak usah menangis ya. Ibu baik-baik saja kok. Clara duduk manis saja dulu disitu ya, sebentar mama menyelesaikan cucian ini. Kemudian kita main lagi", Vina berusaha terus membujuk Clara dan menyuruh Clara duduk di bagian yang kering sambil memantau Vina mencuci pakaian.


Untung lah Clara bisa di beri pengertian, dan akhirnya tidak mau menangis lagi. Vina pun akhirnya bisa menyelesaikan cuciannya dan segera menjemurnya.


Sesuai janji Vina kepada Clara. Kini Clara begitu gembira bisa kembali bermain-main dengan Vina.


Vina tidak habis pikir ternyata Maria begitu membenci Clara. Di depan Radit Maria menunjukkan begitu perhatian dan mau membawa Clara bermain odong-odong dan bermain boneka.


Padahal tadi sebentar menjaga Clara saja tidak mau, padahal Vina begitu repot harus menyelesaikan cucian pakaian Maria dengan secepatnya.


"Mudah-mudahan sikap jahat Maria hanya saat ini saja, mungkin Maria memang lagi banyak beban pikiran sehingga bawaannya selalu marah, aku harus berpikiran positif", pikir Vina dalam benaknya.


Ternyata dari hari- ke hari sikap jahat Maria semakin menjadi-jadi.


Yang pegang uang belanja memang Vina tetapi ibu Maria yang menyuruh setiap harinya harus beli ini dan itu, untuk menu makanan sehari-harinya.


"Vin, stok makanan di kulkas sudah habis, kamu harus beli tempe, tahu, telur, dan ikan asin, selebihnya beli ikan tidak usah banyak hanya 1/2 kg untuk masing-masing ikan kakap dan ikan bawal.


Sayurnya terserah kamu saja, pilih mana yang segar saja, termasuk bumbu-bumbu seperti tomat, bawang dan cabe", Maria memberikan daftar belanjaan kepada Vina.


"Baik Bu", ucap Vina langsung meninggalkan Maria di rumah sendirian. Vina membawa Clara serta dengannya belanja ke pasar. Karena Clara pun tidak mau dan takut bila dititip kepada Maria. Karena Maria memang tidak mau menjaga Clara.


Selama hampir satu jam lebih, Vina pun selesai dan pulang dari pasar dengan membeli dan membawa seluruh belanjaan titipan dari Maria.

__ADS_1


Tahu Vina sudah datang, Maria langsung menghampirinya. Setiap hari kamu memasak menu makan kita sehari-hari. Dengan tahu dan tempe untuk kamu dan Clara.


Kamu memasaknya secukupnya saja tidak usah banyak-banyak, dan tambahan nya masak lah ikan hanya 3 potong.


Ikan itu untuk menu makan saya untuk pagi, siang dan malam. Kamu tidak usah makan ikan. Kamu tidak perlu makan ikan, saya yang sudah tua ini perlu asupan gizi agar bisa sehat.


Untuk hari berikutnya nya juga seperti itu, kamu menunya ya, tahu, tempe, telur dan ikan asin, ikan hanya untuk saya", Maria memberi peraturan dan rincian untuk menu makanan sehari-hari nya.


"Tidak boleh begitu dong Bu, Clara perlu asupan gizi untuk menunjang masa pertumbuhan nya. Tidak apa-apa saya yang makan telur, tempe, tahu dan ikan asin, asalkan Clara bisa makan ikan. Mengapa ibu yang mengatur menu makanan?", tanya Vina merasa tidak adil.


"Yang mencari nafkah di rumah ini adalah Radit anak saya, kalian orang lain hanya bisa tinggal makan seenaknya. Mulai sekarang menu makanan tidak boleh berlebihan dan boros", Maria dengan lantang mengingatkan Vina.


Vina merasa ada yang tidak beres, perasaan Vina tidak enak. Selesai membereskan semua belanjaan dan memasukkannya ke kulkas dan ke lemari tempat penyimpanan sembako.


Vina pergi ke kamarnya, betapa terkejutnya Vina. Kondisi kamar sangat berantakan seluruh pakaian dari dalam lemari, semua berserakan di lantai.


"Ibu, Bu...ibu...", Vina memanggil-manggil Maria sambil terus mengetuk pintu.


"Ada apa sih, mengganggu saja. Ibu mau istirahat jangan di ganggu", Maria berusaha menutup kembali pintu dengan kasar.


Vina sekuat tenaga mendorong kembali pintu itu "Ibu. Jujur Bu, ibu telah mengambil semua uang Vina kan, di dalam lemari?", Vina langsung menuduh Maria.


"Lancang sekali kamu menuduh ibu tanpa bukti", Maria ngotot tidak mau mengaku.


"Jujur saja Bu, kalau tidak ibu siapa lagi. Tidak ada orang lain di rumah selain ibu. Lagian mana ada maling yang mau mencuri jam 8 pagi. Itu hilang antara dijam ketika Vina ke pasar bersama Clara. Karena sebelum Vina ke pasar semua uang itu masih ada", Vina merasa yakin.

__ADS_1


"Memang ibu yang mengambilnya kenapa memangnya, ini uang Radit kok. Uang anak ibu sendiri apa masalah?", Maria melotot.


"Kembalikan Bu, setidaknya uang simpanan untuk pendidikan Clara yang di dalam dompet merah.


Yang di dalam dompet hitam, tidak apa-apa ibu ambil saja.


Uang yang di dalam dompet merah, Itu merupakan uang yang sudah Vina sisihkan dari sisa uang belanja. Itu juga tidak semua, itu adalah uang pemberian dari orang tua Vina dan kak Sari sebagai uang pegangan dan uang jaga-jaga buat Vina", Vina berusaha membujuk Maria, karena uang yang di dompet merah jumlahnya lumayan banyak.


"Enak saja kamu, Keluarga mu tidak ada memberikan apa-apa kepada mu, itu semua adalah uang Radit. Saya tidak Sudi uang Radit kamu nikmati", Maria tidak mau kalah dan langsung menutup kamar nya dengan sekuat tenaga.


"Bu, buka pintunya bu. Tolong kembalikan uang Vina Bu, kumohon Bu", Vina menangis memohon kepada Maria.


Vina pun tidak bisa berbuat apa-apa berulang kali Vina menggedor-gedor pintu tetap saja tidak di buka kan oleh Maria.


Vina pasrah atas kejadian hari ini. "Sia-sia dan telah bersusah payah aku menyisihkan uang itu selama ini. Itu juga tidak semua pemberian Radit, itu kumpulan uang dari pemberian pak steven, kak Sari dan Alex, ayah Vina", Vina begitu sedih dan tidak bersemangat.


Vina pun segera membereskan kamarnya, pakaian yang berserakan, dilipat dan disusun rapi kembali di lemari. Air mata Vina terus mengalir sedih melihat sikap dan sifat dari Maria.


Bentakan kasar dan keras yang dilontarkan kepada Vina, dianggap Vina biasa dan tidak terlalu menanggapi nya. Tetapi sekarang tindakan Maria sudah kelewatan batas, berani mencuri uang Vina dari lemari.


"Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus bersabar. Apa aku bisa bertahan hidup dengan Maria?.


Kalau Maria dari hari ke hari sudah kelewatan batas. Bahkan untuk menu makan saja, Vina dan Clara hanya di izinkan untuk makan tahu, tempe, telur dan ikan asin.


Padahal Maria makan ikan. Yang lebih parahnya semua menu itu Vina yang memasaknya", Vina tidak habis pikir.

__ADS_1


"Kalau aku menceritakan semua sikap ibu Maria kepada Radit, apa Radit akan mempercayaiku?, aku harus secepatnya keluar dari rumah ini, aku akan membujuk Radit agar mau mengontrak dan tinggal jauh dari ibu Maria", pikir Vina menambahi


__ADS_2