
Setelah Vina selesai masa nifas. Vina tidak pernah itung-itung an untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Prinsip Vina selagi masih bisa di kerjakan, dan si kecil juga tidak rewel dan cengeng. Vina selalu menyempatkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
Bukan menggunakan kesempatan malah bermalas-malasan karena pasti akan diselesaikan oleh Maria. Vina tidak pernah menggunakan kesempatan itu.
Bagi Vina tinggal di rumah ini bersama keluarga Radit, sudah merupakan tanggungjawab Vina untuk menjaga mertuanya dan mertuanya juga adalah orang tua kedua bagi Vina.
Keceriaan semakin bertambah di rumah ini setelah kehadiran si cantik Clara, bayi perempuan yang dianugerahkan ditengah-tengah keluarga kecil Vina.
Steven, Maria, Radit dan Vina, terkadang berkumpul bersama di ruang keluarga tertawa bersama-sama melihat tingkah lucu dari si cantik Clara.
Pernah si hantu Mala hadir, tersenyum melihat keceriaan dan kebahagiaan keluarga kecil Steven. Mala tidak merasa iri, melainkan senang dan bahagia.
Akhirnya Maria bisa berubah menjadi lebih baik, mau menghargai dan menghormati Steven sebagai suaminya. Hantu Mala pun ihklas merelakan Steven dan tidak pernah lagi menampakkan diri di rumah kediaman Steven.
Karena hantu Mala menyadari terdapat dunia yang berbeda antara dirinya dan Steven, hantu Mala hanya berharap kelak nanti akan bertemu di dunia yang sama.
"Ternyata aku salah selama ini, aku terlalu di butakan oleh sikap keras ibu, aku mau saja menuruti perkataan ibu, yang mengatakan jangan memberi semua gajiku kepada Vina.
Ternyata dengan membahagiakan keluarga itu lebih jauh menyenangkan. Aku jadi merasa bersemangat menjalani hidup dan terus bermimpi.
Bagaimana berusaha agar kelak bisa terus membahagiakan keluarga terlebih memikirkan masa depan si cantik Clara", pikir Radit dalam benaknya telah menyadari kesalahannya tidak peduli terhadap istrinya, Vina.
****
Setahun berlalu setelah kelahiran si cantik Clara. Steven meninggal dunia dengan keadaan mendadak. "Begitu bangun pagi tidak seperti biasanya Steven bangun kesiangan", pikir Maria dalam benaknya.
Maria pun bermaksud membangunkan steven. "Pa, bangun pa", Maria membangunkan Steven sambil menggoyang-goyangkan tubuh steven. Maria merasa tubuh Steven dingin seluruh tubuhnya dan kaku.
Ternyata Steven sudah tidak bernyawa lagi. Maria menangis dan berteriak dengan sekencang-kencangnya "Papa....bangun pa. papa bangun...", teriak Maria terus menerus. Hingga membangunkan seluruh anggota keluarga.
Kebetulan Radit juga sedang berada di rumah. Semua keluar berlarian menuju kamar Steven, Maria terus menangis di samping Steven berusaha terus menguncang-guncangkan tubuh Steven yang kaku.
__ADS_1
Vina dan Radit pun langsung memeluk dan menangisi Steven "Papa...papa mengapa papa meninggal Radit. Mengapa papa pergi begitu cepat", Radit terus berteriak menangisi jasad Steven.
Begitu juga Vina, Vina tidak menyangka dan tidak ada firasat kalau Steven akan pergi meninggalkan mereka.
Steven sudah dianggap Vina sebagai bapak kandungnya. Karena dari awal Steven lah yang selalu membela dan mendukung Vina dari segala hujatan dan kemarahan Maria.
Untuk lebih memastikan kematian Steven. Maria pun membawa Steven ke rumah sakit, dan memang Steven telah meninggal dunia. Dokter beramsumsi bahwa Steven terkena serangan jantung.
Steven pun di makamkan tepat di samping makam Mala di tempat pemakaman umum. Sunyi sepi terasa rumah ini setelah Steven meninggal dunia. Begitu juga Maria seminggu terus mengurung diri di kamarnya.
Vina khawatir atas kondisi Maria takut Maria nekat dan melakukan hal yang tidak-tidak. Vina pun mencoba mencari tahu dan ingin melihat apakah Maria baik-baik saja.
tok....tok...tokkk
Vina mengetuk kamar Maria. Sambil memanggil-manggil,
"Bu... Bu.....Ibu tolong buka pintu Bu.. Vina takut ibu kenapa-kenapa".
Vina masuk dan mendapati Maria sedang duduk termenung di salah satu sisi tempat tidurnya.
"Bu, jangan menyiksa diri seperti ini. Ikhlaskan dan relakan pak Steven pergi.
Karena pada akhirnya seluruh mahkluk ciptaan Nya akan kembali kepada-Nya. Pak Steven pasti akan sangat bersedih bila ibu menyiksa diri seperti ini.
Bersemangat lah Bu, Ibu masih punya Radit, Vina dan Clara. Kami masih butuh sosok orang tua seperti ibu, untuk menuntun dan mengajar kami anak-anak ibu.
Agar menjadi orang tua yang baik bagi Clara kelak", Vina berusaha ingin membujuk terus Maria agar tidak berputus asa dan terus memikirkan Steven.
"Ibu, Vina ambil nasi ya. Ibu makan lah sedikit sejak tadi pagi ibu belum ada makan. Ibu nanti sakit, sebentar Vina mau ke dapur mengambil nasi ibu ya!", bujuk Vina dan langsung meninggalkan Maria untuk menuju dapur mengambil sepiring nasi.
Tidak beberapa lama Vina datang dengan membawa sepiring nasi dan langsung menyuapi Maria.
__ADS_1
Sesendok demi sesendok nasi di masukkan ke dalam mulut Maria. Maria pun merespon sangat lambat, pandangan Maria kosong. Vina sedih dan sangat khawatir dengan kondisi Maria.
Vina berusaha terus memasukkan nasi ke mulut Maria. "Sampai habis nasinya ya Bu, agar ibu bertenaga dan tidak sakit", Vina terus menyuapi Maria.
Habis juga sepiring nasi yang Vina bawa tadi, "Syukurlah ibu mau menghabiskan nasinya", pikir Vina dalam benaknya.
Waktu Vina sangat terkuras mengurus Maria, terkadang harus menuntun Maria ke kamar mandi untuk buang air kecil dan besar dan juga mandi.
Belum lagi terkadang Clara harus terus menangis kalau aku terlalu lama meninggal kannya karena mengurus Maria. Mengurus Maria seperti mengurus orang tua yang sudah jompo tidak bisa bergerak sama sekali.
"Bu, bersemangat lah ibu, Vina bukannya tidak mau mengurus ibu. Tetapi Vina sangat kewalahan karena harus berbagi mengurus Clara yang masih umur Setahun.
Ibu harus bisa ikhlas atas kepergian pak Steven. Sudah hampir seminggu ibu mengurung diri seperti ini, Radit juga tidak ada di rumah, setidaknya bisa sedikit berbagi tugas", Vina curhat memberitahu kelelahannya dan keletihannya mengurus Maria dan Clara.
Tetapi Maria tidak bergeming sama sekali. Pandangan Maria selalu kosong. Maria pun tidak ada berkata-kata, tetapi seluruh makanan yang disajikan Vina, baik buah dan jus semua selalu habis.
****
Keesokan harinya Vina beraktifitas seperti biasa, Maria juga masih saja belum keluar dari kamarnya.
Setelah membereskan pekerjaan rumah dan memasak. Vina terlebih dahulu membereskan Clara, memberi makan, memandikan dan membawanya bermain dalam pekarangan rumah dan lalu menidurkan nya.
Setelah Clara tertidur pulas barulah Vina pergi ke kamar Maria untuk melihat kondisi Maria, apakah sudah bisa di ajak berbicara.
Vina memanggil dan mengetuk "Ibu", Vina langsung mendorong pintu. Vina merasa kecewa, Maria masih seperti biasa tidak juga mau diajak bicara, kali ini Vina mendapati Maria sedang tertidur di ranjangnya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 pagi.
"Ibu kita makan ya, setelah itu mandi", Vina membereskan kamar Maria, bantal dan selimut berjatuhan di lantai. Vina pun membuka jendela kamar, agar udara dan sinar matahari bisa masuk, sehingga kamar Maria tidak pengap.
"Vina ke dapur ya Bu, hendak mengambil sarapan ibu", Maria tidak menjawab, Vina langsung beranjak menuju dapur.
Setelah memberi sarapan Vina lanjut memandikan Maria.
__ADS_1