
Vina merasa sedih, ternyata Maria selama ini berpura-pura baik dan perhatian. Tidak menyangka kalau Maria begitu marah, begitu dendam dan begitu benci kepadanya.
Padahal sedari awal, ketika Vina sebagia menantu dan tinggal di rumah Radit. Vina tidak pernah melakukan kesalahan, pekerjaan selalu dikerjakan, Vina merasa tidak pernah bersantai-santai dan bermalas-malasan. Entah mengapa semua yang dilakukan Vina rasanya semua salah.
Baru saja Vina merasakan bagaimana menjadi istri yang seutuhnya. Sekarang harapan itu akan segera hilang. "Bagaimana nasib rumah tangga ku ke depannya", pikir Vina dalam benaknya dengan penuh kesedihan.
tok...tok..tok...pintu di ketuk, Vina langsung membukakan pintu.
"Hai sayang", sapa Radit dengan penuh senyum dan sangat bersemangat.
"Hai juga Bang", ucap Vina seadanya.
"Bagaimana sih kamu, suami datang ekspresi nya dingin begitu. Bukannya senang. Kamu tidak senang aku datang ya", Radit pura-pura ingin pergi lagi.
"Ee...ee..Bukan begitu bang, Vina senang kok Abang datang. Vina hanya sedikit ada masalah jadi tidak menyadari kedatangan Abang", Vina menarik cepat tubuh Radit dan menyuruh Radit masuk kedalam rumah sambil membawa tas berisi kain kotor Radit.
"Mana anak kesayangan papa, Abang tidak melihatnya", Radit mencari-cari ke sekeliling sosok Clara.
"Clara lagi tidur bang. Tidak usah dibangunin, nanti malah cengeng dan rewel. Clara baru saja tidur setelah selesai makan dan mandi ", Vina memberitahu. Radit pun hanya bisa manggut-manggut tanda mengerti.
"Mandi dulu bang atau mau langsung sarapan", Vina menyarankan.
"Ibu mana, aku mau rebahan dulu di ruang keluarga sambil menonton. Aku sudah sarapan tadi di full, ingin rebahan dulu dan tidur. Bangunkan Abang nanti ketika makan siang saja. Kemarin Abang tiba dini hari di kota ini. Jadi sangat merasa capek dan lelah", Radit tidak ingin diganggu karena ingin segera istirahat.
Sebenarnya Vina ingin memberitahu semua kedok ibu Maria kepada Radit. Tetapi karena Radit ingin segera istirahat dan tidak ingin di ganggu. Vina tidak mungkin memaksakan harus bercerita sekarang.
"Nanti sajalah, setelah makan siang", pikir Vina dalam hatinya.
__ADS_1
Kebetulan Clara pun masih tidur, Vina pun mempunyai kesempatan untuk mencuci semua kain kotor Radit yang baru saja di bawanya.
"Semua pekerjaan terkadang bisa diselesaikan kalau anak sedang tidur lelap. Seorang Ibu sangat pantang tidur dan pantang sakit, semua itu Vina kerjakan dengan tulus dan ikhlas. Itu sudah suatu kewajiban sebagai seorang ibu dan seorang istri", gumam Vina dalam benaknya.
Tibalah waktunya untuk makan siang, Vina pun sudah selesai mencuci dan memasak. "Waktunya untuk membangunkan Radit untuk makan siang", pikir Vina dan langsung bergegas ke ruang keluarga untuk membangunkan Radit.
"Bang, bangun. Waktunya makan siang", Vina menggoyang-goyangkan tubuh Radit.
Berulang-ulang Vina terus berusaha membangunkan Radit, akhirnya Radit bangun juga. dan langsung bergegas ke meja makan langsung duduk disalah satu meja makan.
"Ibu mana?, pergilah bangunkan ibu Vin. kita makan sama-sama", Radit menyuruh Vina.
Dengan sangat terpaksa Vina menurut apa yang diperintahkan Radit yaitu mengajak Maria untuk makan bersama.
Sebenarnya Vina merasa malas makan bersama dengan ibu Maria, dan biasanya juga ibu Maria yang selalu makan duluan.
Menyisakan ikan dan sayur hanya sebagian kecil. Ibu Maria biasanya makan siang sebelum waktu makan siang dan langsung mengambil jatah untuk makan malamnya, semua di masukkan ke kamarnya.
Walaupun Vina sudah membuat jatah seekor ikan untuk masing-masing itu untuk siang dan malam. Ibu Maria akan memotong jatah Vina dan menyisakan 1 ekor saja untuk Vina, maksud ibu 1 ekor itu di bagi-bagi untuk siang dan malam.
Vina tidak mau terlihat julid di hadapan Radit. Vina pun langsung bergegas untuk memanggil Maria.
"Bu, ayo makan bersama Bu", Vina terus mengetuk dan memanggil Maria.
"Tumben banget mengajak ibu makan bersama", Maria ketus.
"Bang Radit sudah tiba di rumah Bu, bang Radit ingin kita makan bersama", Vina memberitahu.
__ADS_1
"Oh, Radit sudah datang ya. Mama tidak dengar kamu datang sayang, jam berapa kamu tadi sampai di rumah", tanya Maria dengan ramah dan langsung menghampiri Radit, dan langsung duduk di samping Radit.
"Radit datang jam 9 tadi ma, dini hari tadi Radit tiba di kota ini, Radit langsung saja ke full, dan tidak ada ojekkan kalau dini hari. Jadi Radit di full saja sarapannya dan baru tiba di rumah jam 9 pagi. Setelah itu Radit tidur sebentar di ruang keluarga sembari menunggu waktu makan siang", Radit memberitahu.
"Oh begitu, kamu berarti sudah lapar banget dong. Vina cepat kamu sendok nasi suami kamu", Maria berkata dengan ramah dan tersenyum.
Vina bingung dan tidak percaya dengan sikap ibu Maria yang begitu ramah, "Apa ibu Maria salah minum obat?, atau ibu Maria hanya berpura-pura baik di depan Radit?.
Karena ibu Maria sangat pandai bersandiwara. Mungkin saja memang ibu Maria bersandiwara pura-pura baik di hadapan Radit.
Agar semua sikap buruk ibu Maria selama ini yang akan kuberitahu kepada Radit, membuat Radit jadi tidak akan percaya. Karena kenyataannya Radit melihat sikap Maria sangat baik", pikir Vina dalam benaknya.
Dengan sangat menyesal dan sedih Vina memikirkan itu, kalau seandainya memang betul rencana dan siasat Maria.
"Sudahlah, aku tidak perlu berprasangka buruk. Mudah-mudahan ibu Maria memang sudah menyadari kesalahannya. Dan memang bersikap baik tidak hanya di depan Radit melainkan selamanya bersikap baik", pikir Vina menambahi.
Tiba-tiba terdengar Clara sedang menangis dari kamar Radit dan Vina. Vina ingin segera beranjak dan bermaksud mengambil Clara dan ingin segera menyuapi Clara untuk makan siang.
Begitu Vina ingin berdiri ibu Maria langsung menawarkan diri, "Sudah Vin, kamu lanjut saja makannya. Biar ibu saja yang mengambil Clara dari kamar. Clara mau makan siang juga kan?", ibu Maria menawarkan jasanya terlihat ramah dan manis di hadapan Radit.
Awalnya Vina menolak "Tidak usah Bu, Vina saja. Biar ibu saja yang melanjutkan makannya", Vina berusaha menolak dan tidak enak mengganggu makan siang mertua pikir Vina dalam hatinya.
"Sudah tidak apa-apa, kamu lanjut saja makannya", Maria langsung beranjak dan menuju kamar untuk mengambil Clara.
"Sudah tidak apa-apa, biar saja ibu. Ibu kan sayang sama clara cucunya", ucap Radit.
Setelah Clara sampai di meja makan ibu Maria pun menawarkan untuk menyuapi Clara, "Vin, biar ibu saja yang menyuapi Clara makan ya", ibu Maria menawarkan dengan penuh senyum dan ramah.
__ADS_1
"Tidak usah Bu, jadi tidak enak. Ibu lanjutin saja makannya. Nasi ibu kan belum habis. Sayang kan jadi dingin dan akhirnya terbuang", Vina menolak.
"Iya Bu, biar Vina saja yang menyuapi Clara. Ibu lanjut habiskan makan siang ibu" ucap Radit.