Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#37. Radit begitu perhatian


__ADS_3

Kring....kring....kring...


Suara handphone Vina berdering, Vina memperhatikan kontak yang telah meneleponnya, ternyata Sari. Buru-buru Vina mengangkatnya "Halo", sapa Vina memulai obrolannya.


"Vin, ini kak Sari. Kamu apa kabar. Mengapa kamu tidak mengabari kakak. Dari Abang ipar kamu, kakak ketahui bahwa kamu sudah di Jakarta sekarang. Mengapa Vin?", Sari begitu penasaran dan ingin tahu.


Karena selama ini Vina tidak pernah memberitahu kondisi rumah tangganya, mengapa sekarang tiba-tiba sudah di Jakarta, Sari merasa penasaran.


"Cerita nya panjang kak, iya maaf kak. Vina tidak pernah mengabari kakak", Vina menjawab dengan datar.


"Kamu baik-baik saja kan dek?", Sari merasa penasaran.


"Vina baik-baik saja kak, bahkan terasa sangat baik setelah pindah dari rumah mertua", Vina menyakinkan Sari.


"Memang nya kamu ada masalah apa dengan ibu mertua mu?", Sari makin penasaran.


"Ibu mertua kikirnya kelewatan kak, sikapnya juga kurang baik, selalu marah dan membentak Vina kalau perlu sesuatu. Bahkan kemarin sempat gaji Radit ibu mertua yang pegang.


Setelah diancam oleh ayah mertua, barulah ibu mertua merasa takut. Tetapi ayah mertua sudah meninggal, ibu mertua kembali lagi bersikap tidak baik kepada Vina, bahkan kepada Clara. Karena Clara tidak dianggap cucu oleh ibu mertua", Vina memberitahu sifat Maria.


"Wah, kamu tersiksa dan sangat menderita dong, menikah dengan Radit. Padahal kami memaksa kamu untuk menikah, bermaksud supaya kamu hidup bahagia. Ternyata kami salah. Dan merasa bersalah ternyata kamu tidak berbahagia menjalani rumah tangga mu", Sari sedih dan merasa bersalah.


"Sudahlah kak, tidak ada gunanya mengungkit masa lalu. Beruntung Radit tidak bersifat seperti ibunya kak. Radit baik, Vina pun bersyukur mempunyai suami seperti Radit", Vina memberitahu.


"Oh, berarti Radit peduli dan perhatian kepada kamu kan. Syukurlah. Sekarang kakak merasa tidak khawatir lagi atas kondisi mu jauh di luar kota. Tidak ada keluarga atau sanak saudara tempat mengadu.


Oh iya semoga apa yang kamu cita-cita kan tercapai dan terkabul. Kamu bisa hidup sukses di Jakarta", Sari sedikit lega, dan berdoa agar kehidupan Vina dan rumahtangga nya berbahagia.

__ADS_1


"Vina tutup dulu teleponnya ya kak, Vina mau memasak. Salam buat Abang ipar dan semua keluarga disana", Vina menutup telepon. Clara merengek minta dibuatin sarapan pakai telur ceplok, sehingga Vina harus buru-buru menutup teleponnya.


****


Setelah 14 hari dalam perjalanan Radit pun datang menemui Vina di rumah kontrakan.


"Bagaimana perasaan mu tinggal di kontrakan ini Vin, sudah betahan?, atau adakah masalah ketika Abang meninggalkan kalian di kontrakan ini?", Radit bertanya dan ingin tahu cerita dan pengalaman Vina ketika awal mulai kehidupan baru di tempat baru.


"Aman lancar dan terkendali bang, tidak ada masalah, semuanya baik-baik saja. Bahkan Vina sangat bersyukur, kalau warga disini semua ramah dan baik kepada Vina.


Mereka ada yang memberi piring dan cangkir plastik, agar kupakai sehari-hari, sehingga lumayan bisa mengurangi pengeluaran ku untuk membeli perlengkapan makan", Vina bercerita dengan antusias.


"Syukurlah kalau begitu Abang senag mendengarnya, tadinya Abang sangat khawatir, kamu tidak bisa bergaul dengan warga sekitar, malah sering merasa kelaparan karena malu bertanya", Radit meledek Vina.


"Iih, apaan sih bang, bisa-bisa nya Abang berpikir kalau Vina sebodoh itu. Vina tidak bodoh bang. Vina masih bisa menggunakan akal dan pikiran Vina", Vina merasa sakit hati dikira tidak bisa ngapa-ngapain. Vina cemberut dan wajahnya keriput seperti jeruk purut.


Vina pun jadi tersenyum karena di puji oleh Radit.


"Oh iya bang, apa Abang menelepon ibu?, bagaimana kabar ibu ya. Apakah ibu sehat-sehat saja?", Vina mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Abang tidak ada menelepon ibu, begitu juga ibu tidak ada menelepon Radit. Mudah-mudahan ibu sehat-sehat dan baik-baik saja. Ibu pasti akan mengabari Radit kalau ada masalah. Sudahlah tidak usah memikirkan ibu, pasti ibu baik-baik saja kok", Radit menjawab dengan yakin.


"Oh. baiklah kalau begitu", ucap Vina.


"Oh iya, besok Abang akan berangkat Pagi sekali, karena giliran antrian Abang dapat no 1. ini uang belanja kalian untuk ke depannya. Sampai menunggu Abang datang lagi 14 hari atau lebih. Pergunakanlah baik-baik uang ini, pandai-pandai berhemat dan menyimpan untuk kebutuhan hari esok", Radit menyerahkan gajinya. Dan langsung diterima oleh Vina.


Sebenarnya gaji yang diberi Radit 14 hari yang lalu. Masih ada tersisa, walaupun sudah menyisihkan untuk biaya kontrakan. Tetapi Vina tidak memberitahu, takut Radit akan mengurangi gaji yang akan diberi Radit.

__ADS_1


Vina bersyukur dan berharap Radit tidak akan berubah. Sebenarnya Vina merasa takut, kalau suatu waktu ibu Maria akan mempengaruhi pikiran Radit.


Maklum selama ini ibu mertua bersikap sangat baik di depan Radit. Walaupun Vina memberitahukan sifat Maria yang tidak baik, di dalam benak Radit pasti tidak mempercayai perkataan Vina.


Vina bisa memakluminya, karena Radit dan Maria sangat dekat. Bahkan Radit masih bermanja-manja dengan ibu Maria, ketika baru menikah dulu.


"Vin, kantor tempat Abang untuk memuat barang sangat dekat ke rumah kontrakan kita. Hanya ditempuh sekali naik angkutan, yakni angkutan koperasi no 2A.


Tidak apa-apa kamu sesekali pergi dan menanyakan kepada teman disana, tanyakan saja nama Abang.


Mana tahu suatu waktu Abang terlambat di jalan sehingga sangat lama pulang, kamu pun sampai kehabisan uang belanja.


Pergi dan tanyakan saja Abang disana, mungkin Abang bisa menitip sedikit uang kepada teman Abang, agar diberi kepada mu, sehingga kamu bisa mempergunakan nya untuk keperluan dan kebutuhan kamu sehari-hari", Radit memberitahu.


"Baiklah bang, Terima kasih ya bang sudah peduli dan perhatian kepada kami", Vina bersyukur Radit tidak bersifat seperti ibu Maria.


"Ngomong apa sih kamu. Itu sudah kewajiban Abang. Sebagai suami dan sekaligus sebagai ayah dari anak-anak nya Abang kelak", Radit menyakinkan Vina kalau sudah tanggungjawab nya untuk menafkahi dan memenuhi kebutuhan keluarga nya.


"Sudahlah, daripada semakin ngawur nantinya omongan kita, dan nanti malah membuat kamu jadi menangis. Kita sudahi saja obrolan kita, dan kita lanjut kepada urusan yang sangat penting", Radit menggoda Vina.


Vina sudah paham kemana arah tujuan pembicaraan Radit. Vina pun segera meladeni kemauan suaminya. Vina langsung menunjukkan sikap sangat bernafsu, segera ******* bibir Radit, memeluknya sangat erat seolah tidak ingin melepaskan radit.


Pelukan itu membuat Vina merasa aman dan nyaman seolah berlindung pada suaminya. Radit pun paham dan senang melihat sikap Vina yang menganggap suaminya sebagai pelindungnya. Radit rasanya bangga bila dia di jadikan sandaran hidupnya.


Tidak mau mengulur-ulur waktu lagi dengan nafas yang menggebu-gebu dan begitu bernafsu. Karena takut Clara akan menganggu kenikmatan mereka.


Keduanya pun langsung menyudahi setelah merasa sudah pada klimaksnya. Keduanya lelah dan terlelap di dalam balutan selimut tanpa memakai busana.

__ADS_1


__ADS_2