Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#27. Ternyata Maria berpura-pura sakit


__ADS_3

Setelah memandikan Maria. Vina pun keluar dari kamar. Vina ingat kalau stok makanan di kulkas sudah habis. Vina bermaksud pergi ke warung untuk membeli sayur dan lauk di warung terdekat.


"Untuk sementara biarlah belanja di warung, nanti kalau Radit sudah pulang. Aku bisa ke pasar untuk belanja karena Clara bisa di jaga oleh ayahnya, Radit.


Karena harga sayur dan lauk lebih murah di pasar daripada di warung", pikir Vina dalam benaknya.


Vina pun segera memilih sayur dan lauk untuk dimasaknya hari ini dan stok untuk beberapa hari kedepan.


Karena belanja setiap hari sangat merepotkan Vina, dengan kondisi Maria yang masih harus di urus dan Clara yang masih bayi.


"Bu, saya beli sayur sawi manis yang ini, 1/2 Kg, sayur sawi pahit yang ini 1/2 kg, wortel 1/2 kg, tomat 1 kg, bayam 2 ikat. Untuk lauknya bawal 1 kg, Kakap 1 kg, tempe 2 bungkus dan tahu 10 buah.


Sekalian Bu di total saja langsung, berapa semua harga yang perlu saya bayar Bu?. Karena saya sangat terburu-buru, pekerjaan rumah rasanya tidak selesai-selesai", Vina tergesa-gesa.


"Memangnya ibu Maria tidak membantu nak Vina?", tanya salah satu pembeli di warung tersebut.


"Ibu Maria sedang sakit Bu, sejak kematian pak steven ibu Maria selalu mengurung diri. Ini sudah seminggu ibu Maria mengurung diri di kamar", Vina memberi penjelasan mengenai kondisi kesehatan ibu Maria.


"Apa!, Memangnya kondisinya bagaimana Vin?", tanya pemilik warung ingin tahu.


"Kondisi ibu Maria, selalu termenung dan tidak bisa di ajak bicara. Pandangan nya kosong seperti putus asa begitu Bu.


Untuk makan saja harus Vina suapi. Bahkan ke kamar mandi harus Vina tuntun untuk buang air besar maupun buang air kecil.


Bahkan mandi harus Vina ingatkan dan Vina juga yang memandikannya ke kamar mandi.


Mending mengurus baby rasanya ya kan Bu, Karena menuntun ibu Maria yang postur tubuhnya lebih besar daripada saya.


Saya menjadi kewalahan sekali Bu, apalagi kalau baby Clara cengeng. Bukannya saya mengeluh repot mengurus ibu Maria. Pekerjaan rasanya tidak selesai-selesai", Vina berkeluh kesah.


"Benar juga sih!, ngomong-ngomong Kamu tadi bilang Maria tidak bisa diajak bicara. Benar seperti itu Vin?.

__ADS_1


Tetapi tadi pagi Maria telpon dan SMS saya, untuk mengingatkan cicilan saya jangan lupa di bayar.


Ada yang tidak beres ini Vin. Jangan-jangan Maria malah pura-pura sakit, agar kamu bersusah payah untuk mengurusmya dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Coba kamu selidiki Vin, jangan-jangan ibu mertua mu sengaja untuk menyusahkanmu", pemilik warung mengingatkan Vina.


"Ibu tidak salahkan Bu, apa benar ibu menelepon dan SMS ibu Maria tadi pagi?", Vina memastikan penyataan pemilik warung.


"Iya Vin, ibu tidak salah dan ibu sangat yakin. Bahwa saya bicara langsung tadi dengan Maria", pemilik warung yakin.


"Baiklah kalau begitu Bu, saya akan coba menyelidikinya. Kalau ternyata itu benar, tega sekali ibu Maria melakukannya kepada ku. Lagian apa maksud dan tujuan ibu Maria berpura-pura sakit di depan ku", Vina merasa kesal dan sedih atas tingkah dan sikap Bu Maria.


Dengan perasaan dongkol dan kesal Vina pulang ke rumah. Vina mendapati rumah seperti kondisi waktu Vina tinggalkan ketika pergi ke warung.


Ibu Maria masih di kamar dan mengurung diri tidak mau keluar.


"Aku tidak akan membawanya makan siang hari ini, aku akan melihat reaksi ibu Maria akan seperti apa. Sehingga aku akan membongkar semua kedoknya", pikir Vina dalam hatinya.


****


Ketika sudah tiba waktunya untuk makan siang, Vina tidak membawakan Maria makan siang, sampai jam 2 siang, Vina belum juga mengantar nya.


Karena rasa laparnya tidak tertahankan lagi, Maria pun akhirnya keluar dari kamarnya dengan pelan-pelan, agar Vina tidak mendengar nya keluar dari kamar.


Maria langsung menuju meja makan dan langsung mengambil piring dan bermaksud untuk makan.


Sebelum Maria sempat memakan nasinya. Vina langsung datang dan menegur Maria "Bu, jahat sekali ibu membohongi Vina. Ibu berpura-pura tidak bersemangat dan termenung seolah ibu stress dan putus asa.


Maksud nya apa Bu, ibu membohongi Vina. Dengan bersusah payahnya aku mengurus ibu, mengurus Clara, bahkan harus menyelesaikan pekerjaan rumah.


Ibu malah keenakan di ladeni harus disuapin makan, di mandiin, bahkan untuk buang air kecil pun harus Vina yang tuntun. Ibu seperti orang jompo, atau orang yang lumpuh, bahkan melebihi seperti mengurus seorang bayi yang baru lahir.


Bedanya masih mending mengurus bayi yang baru lahir, karna memapah nya tidak terlalu memberatkan. Padahal berat badan ibu melebihi berat badan Vina", Vina mencurahkan isi hatinya dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


"Kamu ingin tahu alasannya Vin", Maria dengan juteknya bertanya, malah tidak ada merasa bersalah.


"Apa alasannya Bu", tanya Vina kebingungan dan penuh penasaran.


"Itu adalah balasan atas segala sakit hati ibi", ucap Maria lantang.


"Maksud ibu apa?", Vina masih kurang paham arah pembicaraan Maria.


"Begini Vina. Asal kamu tahu, bahwa selama ini aku melakukan pekerjaan rumah, merelakan kamu menikmati gaji Radit, bahkan merawat kamu pasca melahirkan.


Aku melakukan semua itu karena terpaksa atas semua ancaman dari Steven. Sekarang Steven telah meninggal dunia, tidak ada lagi yang harus di takut kan.


Kamu bayangkan sudah bertahun-tahun aku berpura-pura baik, betapa tersiksanya aku, harus mengalah dan patuh kepada mu.


Sekarang waktunya bagi ku untuk membalaskan semua segala sakit hatiku. Aku ingin kamu merasa kelelahan dan kerepotan melakukan segala pekerjaan rumah, mengurus aku dan mengurus Clara.


Oh iya kelahiran Clara, dari awal aku tidak suka kamu melahirkan anak perempuan. Aku menerima anakmu kalau kamu melahirkan anak laki-laki.


Nanti kalau Radit sudah datang, aku ingin gajinya diserahkan semuanya kepada ku. Enak sekali kamu menggunakan gaji Radit.


Masih mending diberikan kepada ibunya, karena itu sebagai bentuk bakti Radit kepada ibunya. Ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan Radit.


Semua itu belum seberapa bila dibandingkan dengan gaji yang diberikan Radit. Jadi masih wajar, kalau Radit memberikan gajinya kepada ibu, daripada sama kamu.


Kamu itu orang asing yang tidak ada hubungan keluarga dengan keluarga ini, jadi kamu tidak pantas memakai dan menikmati uang Radit. Kalau kamu mau menikmati uang sendiri, yah kamu harus bisa mencari uang sendiri, yakni bekerja", Maria berbicara panjang lebar, tegas, lantang dan sesekali matanya melotot seperti ingin sekali menelan Vina bulat-bulat.


"Ibu, gaji Radit itu Vina gunakan untuk membeli semua kebutuhan di rumah ini, tidak ada Vina gunakan untuk kepentingan Vina sendiri, kalau pun ada Vina simpan itu untuk simpanan untuk masa depan Clara nantinya", Vina bingung disalahkan telah menggunakan dengan seenaknya gaji Radit.


"Ellleh, sudahlah kamu itu paling pintar bersandiwara. Sudah saya bilang saya tidak terima Clara sebagai cucu saya. Saya menginginkan cucu laki-laki. Sebagai penerus Radit nantinya", ucapa Maria tegas.


"Ibu, kenyataannya Clara kan cucu ibu, anak dari darah daging Radit. Ibu tidak bisa memungkiri itu", Vina berusaha memberi penjelasan.

__ADS_1


"Tidak usah kamu sok mengajari saya, saya tahu mana yang terbaik untuk di lakukan", Maria langsung meninggalkan Vina.


Seperti biasa, Maria paling tidak bisa diberi penjelasan. Kalau Maria menganggap apa yang dipikirkannya benar, diberi penjelasan pun Maria pasti tidak akan terima.


__ADS_2