Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir

Menjadi Indigo Plus Mertua Kikir
#32. Maria menyuruh Vina makan pakai garam


__ADS_3

Vina terus saja bersedih dan tidak terima uang simpanan nya telah di curi Maria, Jumlah uang itu cukup lumayan. "Tega sekali ibu Maria mengambilnya, apa kesalahan ku sehingga ibu Maria begitu kejam dan emosional terhadap aku", pikir Vina dalam hati.


"Untuk belanja perhari bagaimana ini, semua uang telah dicuri oleh Maria. Benar-benar Vina akan makan tahu, tempo, telur dan ikan asin seumur hidup, itupun harus makan secukupnya pasti dengan potongan kecil", Vina tidak habis pikir atas sifat Maria yang terlalu kikir.


Keesokan harinya seperti biasa Vina terbangun dan melakukan aktifitas. Bedanya Vina tidak memasak lauk ikan, Vina hanya memasak tahu dan tempe goreng terus di beri sambal pedas. "Biar saja ibu Maria menu makannya sama dengan Vina dan Clara", gumam Vina.


Setelah selesai memasak Vina langsung masuk ke kamarnya, sebelum nya Vina dan Clara terlebih dahulu sarapan pagi.


Maria pun keluar dari kamarnya begitu tahu Vina sudah selesai memasak, lagian waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 pagi. Maria memang selalu bangun jam sembilan, sebenarnya Maria tahu, kalau hari sudah pagi, apalagi disamping kediaman rumah Steven begitu dekat dengan mesjid.


Tidak mungkin Maria tidak mendengar suara adzan berkumandang dengan merdunya memanggil semua umatnya untuk bersujud dan bersyukur untuk menyembah-Nya.


Memang Maria sengaja untuk tidak mau bangun pagi dan tidak mau membantu Vina menyelesaikan pekerjaan rumah.


Vina dianggap nya hanya sebagai pembantu saja. Tidak dianggap nya sebagai menantu, istri dari anak kandungnya sendiri. Bahkan Clara jelas-jelas anak kandung dari Radit.


Tidak dianggap cucunya sendiri karena Clara terlahir sebagai seorang perempuan, Maria menginginkan cucu laki-laki.


"Vina...aaa. Vina a....", teriak Maria kencang.


Vina tahu mungkin Maria mau makan pagi, Maria mungkin geram tidak ada lauk ikan tersedia. Vina hanya menyediakan lauk tahu dan tempe di sambal.


"Ada apa Bu?", sapa Vina setelah berlari tergesa-gesa dari kamarnya untuk menemui Maria yang berteriak kencang.


"Ada apa..ada apa... Pura-pura tidak tahu kamu ya. Kamu pasti sudah tahu kesalahan kamu apa!", tanya Maria ketus dan geram, Vina terlihat santai dan tidak merasa bersalah.


"Benar Bu, Vina tidak tahu. Memang kesalahan Vina apa Bu?", tanya Vina ingin tahu.

__ADS_1


" Kamu ini ya, benar-benar bodoh. Mengapa di meja makan tidak tersaji lauk ikan. Hanya ada sambal tahu dan tempe beserta sayur. Bukankah lauk ikan harus ditambah kan 3 potong untuk dimasak sebagai lauk ibu untuk pagi, siang dan malam", Maria mengingatkan Vina.


"Oh itu. Sebenarnya Vina ingat Bu, tetapi Vina berpikir. Semua uang belanja sudah ibu ambil dari lemari Vina. Vina tidak ada lagi memegang uang belanja. Vina pikir, kita harus berhemat mempergunakan stok yang tersisa di kulkas dan di lemari", Vina mantap mencari alasan.


"Kamu dan Clara harusnya tidak usah makan. Karena kamu itu orang asing. Pergilah kalian segera dari rumah ini. Pusing aku melihat kalian di rumah ini", Maria geram dan tetap makan apa yang disediakan oleh Vina. Buru-buru Maria menyendok nasi ke piring nya.


"Pergi kamu sana, jangan berdiri saja disitu. Hilang selera makanku nanti", Maria mengusir Vina. Vina pun segera beranjak dari hadapan Maria dengan wajah tersenyum dan penuh kemenangan.


"Yes, sekali-kali ibu mertua memang perlu diberi pelajaran, dan jangan Dimaui terus. Semakin dimaui ibu mertua akan semakin melunjak", Pikir Vina dalam benaknya.


Vina tidak tahu bahwa, pikiran Maria lebih kejam daripada apa yang dipikirkan Vina.


Kejadian hari ini sungguh sangat membuat Maria kesal dan marah. Maria tidak terima merasa di bodoh-bodohi, tidak dihargai dan tidak di hormati, padahal Maria jelas-jelas sudah memberikan perintah kepada Vina. Tetapi Vina tidak mengindahkannya dan menganggap nya sepele.


Maria pun segera membawa semua menu lauk yang sudah dimasak Vina, ke dalam kamarnya. Tidak sedikit pun disisakan untuk Vina dan Clara.


Semua stok di kulkas dan di lemari tempat penyimpanan sembako disimpan dan disembunyikan di kamar Maria, agar Vina tidak bisa memasaknya", pikir Maria dalam hati.


Benar-benar Maria tidak menyisakan stok bahan makanan di dapur. Vina dan Clara pun nantinya bersiap-siap hanya makan sayur dan garam saja sebagai menu lauknya untuk makan siang dan makan malam. Vina belum mengetahui siasat dari Maria.


Setelah Clara merasa lelah bermain dan waktunya pun telah tiba untuk makan siang. Betapa terkejutnya Vina melihat menu makanan yang biasanya Vina letakkkan di meja makan, hanya tersisa sayur saja.


Lauk tempe dan tahu sambal yang dimasak Vina tadi pagi sudah tidak ada lagi. Vina mencari di dalam kulkas dan lemari tempat penyimpanan sembako tetapi tidak ada.


"Mungkin ibu Maria menghabiskan untuk menu makan siangnya, karena ibu mertua selalu makan terlebih dahulu", pikir Vina dalam benaknya.


Yah sudah "Mending aku makan telur ceplok saja", Vina pun bermaksud untuk menggambil telur dari kulkas.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Vina, kalau telur, bahkan tempe, tahu dan ikan asin yang stoknya harusnya masih ada. Semua sudah tidak ada lagi.


"Kemana semua stok makanan yang ada di kulkas ini, apa ada maling yang telah masuk ke rumah ini. Tetapi tidak mungkin hanya mencuri tahu, tempe, telur dan ikan asin", gumam Vina terkejut.


Vina pun berinisiatif untuk menanyakan semua kejanggalan ini kepada ibu Maria.


tok...tok...tok...


"Bu, ibu,...buka pintunya dong, ada yang Vina ingin tanyakan", teriak Vina terus memanggil-manggil sambil mengetuk pintu.


"Ada apa sih, kamu itu ya hobinya senang banget mengganggu ibu. Apaaan sih, ibu baru saya ingin menutup mata dan ingin terlelap", Maria merasa kesal karena merasa terganggu tidurnya.


"Bu, tempe tahu yang di sambel, untuk menu kita hari ini, apa sudah ibu habiskan?. Terus stok telur, tempe tahu dan ikan asin yang ada di kulkas juga kemana semua, kenapa tidak ada di kulkas?", Vina merasa bingung.


"Semua sudah ibu masukkan ke dalam kamar", ucap Maria enteng dan tanpa merasa bersalah.


"Lho maksud ibu apa sih. Jadi Vina dan Clara makan apa Bu?", tanya Vina ingin tahu.


"Makan garam dan sayur saja, supaya ibu tidak mati penasaran. Karena kamu telah makan uang dari hasil jerih payah anak saya", Maria makin lantang dan keras suaranya.


"Ibu masak iya, ibu tega memberi kami makan garam dan sayur saja. kalau bang Radit tahu, pasti bang Radit akan marah", Vina menakut-nakuti Maria.


"Itu upah kamu yang sok berani melawan ibu. Kamu saya suruh masak ikan kepada saya. Tetapi kamu malah ingin menyamakan menu yang kamu makan dengan menu yang saya makan. Itukan sama saja kamu ingin berantem dengan ibu", Maria tegas.


"Kalau kamu masih ingin makan ada lauknya. patuhi perintah saya. Kamu tetap makan tahu, tempe, telur dan ikan asin, dan masak menu ikan untuk saya, kamu mengerti tidak!", Maria melotot.


Vina hanya tertunduk diam, "Daripada makan hanya garam, baiknya aku harus patuh atas apa yang diperintahkan ibu Maria", pikir Vina dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2