
Setengah tahun kehidupan rumah tangga Vina dan Radit berjalan dengan baik dan lancar. Rezeki Radit pun bertambah. Dari pihak ekspedisi Radit dipercayakan membawa truk container, Uang jalannya semakin bertambah, uang masuk pun semakin bertambah juga.
Vina bersyukur kehidupan nya menjadi lebih baik pula. Perlengkapan di rumah pun sudah bertambah, tadinya tidak ada televisi dan kulkas sekarang sudah ada.
Dalam benak Vina, bila Radit aman dan lancar Vina bermaksud untuk membeli sebuah KPR tipe 36. Di peruntukkan untuk yang pegawai yang bergaji dibawah 5juta/ bulan.
Vina pun gigih dan bersemangat untuk menyisihkan dan menabung uang untuk menyimpan uang DP agar bisa mengambil KPR.
"Vina tidak memberitahu maksud dan keinginannya kepada Radit, biarlah nanti setelah terkumpul cukup uangnya, aku memberitahu bang Radit, biarlah ini menjadi suprise", pikir Vina dalam benaknya dengan penuh semangat.
Setelah kepergian Radit terakhir, tidak ada perubahan sikap dan sifat dari Radit yang mencurigakan atau menunjukkan sikap tidak enak. Perkataan dan perlakuan Radit Vina rasakan biasa seperti semula.
14 hari sudah Radit pergi keluar kota, biasanya Radit sudah pulang, tetapi Radit belum juga pulang. "Biarlah ku tunggu saja dalam 1 bulan ini, mungkin seperti pernah kata bang Radit, ada kalanya terlambat hingga sampai 1 bulan.
Mungkin karena tidak ada barang yang dimuat. Walaupun kenyataannya Radit belum pernah 1 bulan lamanya tidak pulang", pikir Vina dalam benaknya berusaha tetap bersabar dan menunggu dengan pikiran tenang.
Vina masih melarang keinginannya untuk bertanya ke teman-teman Radit sesama supir di Kantor tempat bermuat barang. Tunggulah beberapa hari ini gumam Vina dalam hati.
Sebenarnya Vina masih ada simpanan untuk menutupi kebutuhannya. "Tetapi ini sudah 45 hari kepergian Radit ke luar kota ini sudah tidak wajar lagi. Aku perlu tahu kondisi sebenarnya bang Radit, takutnya telah terjadi sesuatu padanya", pikirnya dalam benaknya.
Akhirnya Vina memberanikan diri untuk pergi ke kantor ekspedisi tempat Radit bekerja untuk menanyakan keberadaan Radit, "Mungkin teman-temannya tahu apa yang telah terjadi kepada Radit", gumam Vina dalam hati.
Vina pun berangkat menggunakan. angkutan umum koperasi no 2A, sesuai yang di arahkan Radit. Selama didalam angkutan Vina terus memperhatikan tulisan plangkat yang bertuliskan PT. MARGO JOYO, sebelumnya pun Vina sudah memberitahu supir agar bang supir menghentikan angkutannya di PT. MARGO JOYO sebelum jembatan.
"Pinggir bang", ucap Vina pada bang supir setelah Vina menemukan plangkat yang bertuliskan PT MARGO JOYO.
__ADS_1
"Oh iya Bu, ini PT MARGO JOYO yang ibu cari", bang supir menyakinkan Vina.
Vina pun turun dan menyerahkan ongkos angkutan nya, "Ini ya bang ongkosnya Terima kasih banyak", Vina langsung balik badan ke arah kantor ekpedisi tempat Radit bekerja.
Satu pun, dari wajah-wajah yang ada di kantor itu tidak ada yang Vina kenal. Vina memberanikan diri untuk masuk kedalam, menemui pegawai yang sedang mengetik surat jalan "Ini mungkin pegawai atau orang tetap disini, pastilah mengenal setiap karyawan atau supir yang sedang bermuat barang", pikir Vina dalam hatinya.
"Selamat siang, Pak. Saya mau bertanya, apakah bapak kenal salah seorang supir di ekspedisi ini yang bernama Radit?", tanya Vina kepada salah satu pegawai yang bertugas sebagai tukang ketik.
"Pak Radit yang orang Tanjung Pinang ya, Bu?", Pegawai tukang ketik memastikan.
"Iya benar pak", Vina langsung mengangguk dengan senyum lebar dan bahagia.
"Ada apa Bu, mencari pak Radit, ibu siapanya pak Radit", tanya pegawai tukang ketik.
"Hei Tony, kemari dulu", ucap pegawai tukang ketik memanggil orang yang bernama Tony, "Mungkin sesama supir", pikir Vina.
"Tony, kamu tahu Radit kemana?, memang dia sudah tidak pernah saya lihat. Tetapi saya tidak tahu alasan sebenarnya dia mengapa tidak bekerja lagi", ucap pegawai tukang ketik bertanya kepada Tony.
"Iya benar bang, Radit sudah lama tidak masuk. Dengar-dengar ibunya kurang sehat, Radit tidak bekerja karena merawat ibunya yang sedang sakit", ucap Tony memberitahu.
Betapa terkejutnya Vina mendengar kabar kalau Radit sudah tidak bekerja lagi, karena sedang mengurus ibu Maria yang sedang sakit. "Mengapa saya tidak diberitahu", pikir Vina dalam benaknya.
Sebenarnya Vina telah menghubungi Radit melalui telepon tetapi entah mengapa. Nomor yang dituju tidak aktif, begitu pesan operator bila menghubungi handphone Radit.
Vina curiga, jika nomor handphone Radit yang diberikan kepada Vina berbeda dengan yang diberikan Radit ke kantor. Sesungguhnya Vina jarang menelepon Radit, karena Radit selalu pulang tepat waktu.
__ADS_1
Vina pun berinisiatif untuk menanyakan no handphone Radit kepada pegawai tukang ketik.
"Pak, boleh saya meminta no telpon nya Radit?", pinta Vina kepada tukang ketik.
"Boleh Bu, sebentar saya ambil buku catatan pegawai dulu ya Bu", berlalu meninggalkan Vina dan mencari buku catatan pegawai.
"Ini nomor nya Bu, 0825.4567.3521", ucapnya setelah menemukan buku catatan pegawai.
Vina memperhatikan nomornya. "Memang ini nomor yang diberikan Radit kepadanya", pikir Vina. Tetapi mengapa nomor ini tidak bisa dihubungi, Vina merasa nomor handphone Radit sudah di ganti yang baru.
"Bagaimana ini, mengapa Radit tiba-tiba menghilang?, apakah aku harus kembali ke Tanjung pinang?. Tetapi kalau ibu mertua tidak menerima ku dan ini adalah siasat jahat dari ibu mertua untuk memisahkan kami, bagaimana?.
Apakah aku harus pasrah, dan menjalani hidup dan merawat Clara seorang diri?. Apakah kami nantinya benar-benar berpisah?", pertanyaan itu menghantui pikiran Vina. Vina lemas dan tidak bertenaga. Apa yang harus kulakukan sekarang, ingin rasanya Vina menangis tetapi malu kepada teman-teman Radit.
Vina berusaha kuat dan tegar. Agar bisa naik angkutan untuk kembali ke kontrakan. "Setidaknya saat ini aku harus tetap tegar, nanti di rumah mungkin aku akan menangis sepuasnya", pikir Vina dalam benaknya.
Sesampainya di rumah Vina menangis sesegukan di balik bantalnya berusaha tidak mengeluarkan suara tangisnya karena takut mengganggu tidur Clara.
Karena setelah sampai di rumah Clara langsung tergelatak dan tertidur lelap mungkin karena kecapean.
"Apa yang ku khawatirkan selama ini akan terjadi, pasti ibu mertua telah membuat berbagai alasan dan bujuk rayuan, agar Radit tidak bekerja dan tidak menghubungi aku lagi", pikir Vina dalam benaknya merasa sakit.
Baru saja aku berharap untuk rumah tangga yang bahagia ternyata akan hancur berantakan.
"Oh iya, aku akan menelepon bang Deni, mungkin bang Deni bisa datang menemui bang Radit ke rumahnya, dan menanyakan kelanjutan perihal rumah tangga nya dengan aku", pikir Vina dalam benaknya
__ADS_1