
Vina hanya bisa pasrah, Uang yang sudah dicuri orang tidak berharap akan kembali lagi.
Beruntung Vina untuk ongkos angkot sudah disisakan terlebih dahulu, agar bisa langsung ambil dari saku celananya. Vina tidak tahu harus kemana, karena uang untuk mengontrak rumah sudah tidak ada.
Hingga akhirnya bang supir menanyakan tujuan Vina, karena ini merupakan trayek terakhirnya. "IBu mau turun dimana, saya mau pulang untuk makan siang. Ini trayek terakhir untuk angkutan ini Bu", ucap bang supir menanyakan Vina, "Memang betul ini trayek terakhir, karena semua penumpang telah turun, tinggal Vina dan Clara", gumam Vina dalam hati.
"Bang ini ongkos saya. Kalau untuk ongkos memang sudah saya sediakan di kantong celana, agar dapat cepat mengambilnya", Vina menyerahkan ongkos angkutannya kepada bang supir.
"Tidak usah bayar Bu, ibu baru saja kemalingan tidak apa-apa kok. Lumayan nanti bisa membeli roti untuk anak ibu", bang supir menolak uang pemberian Vina.
"Terimakasih banyak bang", ucap Vina bersyukur dan langsung memasukkan kedalam kantongnya. "Memang lumayan sekali bisa membeli roti buat Clara", pikir Vina dalam benaknya.
"Oh iya Ibu sebenarnya mau kemana?", tanya bang supir ingin tahu.
"Saya juga tidak tahu mau kemana. Tadinya saya mau turun dekat area pasar bermaksud mencari kontrakan.
Tetapi sekarang uang saya sudah tidak ada untuk bayar uang kontrakan. Saya tidak tahu bang, mau bagaimana, dan harus tinggal dimana bersama anak saya", Vina bersedih.
"Wah kasihan sekali ibu, ini kota besar, kehidupan sangat susah. Sebagian orang memang melakukan kejahatan agar mampu dan bisa bertahan hidup di Jakarta. Dari logat bicara ibu, sepertinya ibu orang Indra Pura, benar ibu berasal dari Indra Pura?", tanya bang supir penasaran.
"Iya benar Bang, saya orang Indra Pura", Vina menyakinkan bang supir.
"Saya orang Indra pura, memang sudah lama merantau sejak tamat SMA. Orang tua memang sudah meninggal dunia, sehingga saya tidak pernah lagi tinggal di Indra Pura.
Rumah saya dekat sini, kalau ibu mau boleh singgah sebentar di rumah saya. Sekalian kenalan dengan istri saya. Mana tahu istri saya bisa membantu", bang supir menawarkan.
"Saya mau bang, terimakasih bang", Vina sangat bersyukur dan bersemangat menerima tawaran bang supir. "Mudah-mudahan ada jalan keluar atas permasalahan yang kualami", gumam Vina dalam hati.
__ADS_1
Bang supir langsung bergerak berjalan ke arah rumahnya diikuti Vina dari belakang. Tidak berapa lama Sampailah mereka di rumah yang sangat sederhana. Rumah semi permanen dengan lantai semen tanpa keramik.
"Bu, bapak pulang. Ibu sebentar keluar ada tamu ini", teriak bang supir memanggil-manggil istrinya.
"Bapak sudah pulang, siapa pak tamu kita?, nama saya Tuti", tanya istri bang supir sambil langsung menjabat tangan bang supir, Vina dan Clara secara bergantian, sekaligus memberitahu namanya, Vina pun langsung menyebut namanya juga.
"Ibu ini tadi penumpang di angkutan yang bapak kendarai. Entah bagaimana caranya ibu ini tadi kemalingan di dalam angkutan bapak", bang supir memberitahu Tuti.
"Wah kasihan sekali kamu Vin, di kota besar ini kita memang harus lebih berhati-hati, tetap fokus terhadap barang bawaan. Jangan sampai lengah, kalau sampai lengah kita akan rugi sendiri", Tuti menasihati.
Vina pun hanya diam saja, menyadari akan kebodohan dan kelalaian nya.
"Oh ya Bu, ibu ini katanya orang Indra Pura. Coba kalian bercerita saja dulu. Bapak mau mandi dulu", Bang supir meninggalkan Tuti dan Vina di ruang tamu.
"Benar kamu orang Indra Pura, Vin", tanya Tuti penasaran.
"Siapa nama orang tua kamu?", tanya Tuti ingin tahu.
"Nama ayah saya Alex, nama ibu saya Tina, tetapi ibu saya sudah lama meninggal dunia ketika umur saya masih 1 tahun. Ketika itu ibu saya meninggal ketika kecelakaan kapal terbakar yang terjadi di Tanjung balai, tetapi jenasah ibu saya dibawa ke Indra Pura", Vina menceritakan perihal orang tuanya.
"Oh, orang tua kamu yang korban kecelakaan kapal terbakar yang di Tanjung Balai. Saya ketika itu umur 6 tahun. Saya orang kampung sebelah. Namanya kejadian seperti itu pasti tahu lah berita-nya", Tuti mengetahui kisah ibunya Vina.
"Kita memang tidak saling mengenal. Tetapi karena sesama anak rantau yang tinggal di kota. Saya prihatin dengan kondisi kamu. Ini anak kamu?", Tuti menanyakan Clara.
"Iya kak, ini anak saya Clara", Vina memberitahu.
"Oh. Maaf ya, saya tidak bermaksud aneh-aneh. Suami kamu kemana?", Tuti bertanya terang-terangan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak, Tadinya saya dan suami saya tinggal bersama satu kontrakan di Bojong 2, suami berprofesi sebagai supir ekspedisi luar kota. Suami lebih memilih tinggal bersama orangtuanya daripada dengan kami", ucap Vina sedih dan langsung terdiam.
"Pasti hubungan kamu tidak baik dengan ibu mertua ya", tanya Tuti ingin tahu.
"Iya kak, mertua sangat kikir. selalu Perhitungan, malahan gaji suami ingin mertua yang menguasai. Saya malah dianggap pembantu, bahkan cucunya sendiri dianggap menambah pengeluaran untuk biaya hidup.
Karena mertua hanya menginginkan cucu laki-laki. Saya tidak tahan dan memaksa suami untuk jauh dari orang tua. Awalnya suami dan mertua setuju. Setelah Setengah tahun berlalu, suami tidak pernah lagi datang menemui kami.
Dapat kabar suami mengurus mertua yang sedang sakit, dan mertua terang-terangan tidak mengizinkan suami jadi supir dan memilih berusaha di kampung, agar suami tidak datang menemui kami", Vina bercerita panjang lebar mengenai kisah hidupnya.
Tuti tidak berani memberi komentar. Ia hanya kasihan melihat Vina yang masih muda telah berpisah dengan suaminya dan anak yang masih 2 tahun. Berjuang hidup sendiri di kota dengan kondisi uang tidak ada. Karena baru kemalingan.
"Vin, saya juga tidak bisa menampung kamu hidup selamanya disini. Kamu lihat kondisi rumah ini, ini kontrak belum rumah sendiri.
Suami saya hanya sebagai supir angkot, yang masih harus memberikan uang setoran angkot kepada jurangan angkot. Saya hanya sebagai ibu rumah tangga.
Untuk beberapa hari ini kamu boleh menginap disini. Untuk selanjutnya silahkan kamu berpikir bagaimana kelanjutannya", Tuti berbicara secara terang-terangan dan terbuka, agar Vina jangan terlalu banyak berharap.
"Iya kak, saya juga tahu diri. Kakak memberi tumpangan sementara waktu saya sudah sangat bersyukur, setidaknya saya bisa sedikit memutar otak, untuk mencari uang untuk biaya kontrakan", Ucap Vina seadanya.
"Apa rencana kamu selanjutnya", Tuti ingin tahu
"Saya ada Abang ipar profesi sebagai supir ekspedisi. Abang ipar menitipkan sedikit uang, saya juga tidak tahu berapa jumlahnya.
Saya berencana akan mengambilnya ke kantor tempat Abang ipar bekerja.
Mudah-mudahan uang itu bisa saya gunakan untuk biaya uang kontrakan. selanjutnya saya akan mencari pekerjaan, dipasar sebagai tukang putik bawang merah, atau apa saja lah yang penting halal", Vina memberitahu rencananya.
__ADS_1