Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 10 • Tawaran


__ADS_3

Reddick sengaja datang ke rumah keluarga Wyclif. Dia ingin menemui Agatha untuk membicarakan sesuatu.


 


"Aku ingin bicara soal tawaranmu," kata Reddick tanpa basa-basi saat tiba di rumah ini. Agatha yang baru saja duduk langsung mengerutkan kening.


 


"Tawaran?" tanya Agatha tidak paham.


 


"Kau tidak akan lupa akan tawaranmu soal Bellina, Agatha." Reddick mengingatkan.


 


"Oh, wanita itu. Kenapa? Kamu mulai tertarik?" Senyum Agatha mengembang. Wanita paruh baya ini bagai mendapat undian.


 


"Ya. Berikan Bellina padaku."


 


"Pasti. Aku pastikan dia menikah denganmu. Minumlah." Agatha mempersilakan Reddick menikmati minuman yang sudah di suguhkan oleh pelayan.


 


Reddick mencoba mengamati raut wajah Agatha. Sepertinya dia sangat menginginkan Reddick menikah dengan Bellina.


 


Ada apa dengan itu? Bukankah mereka berniat menyingkirkan Bellina? Atau memang di berikan padaku untuk di buang?


 


"Aku akan bicara dengan Bellina." Agatha juga ikut menyeruput tehnya.


 


...***...


 


Bellina datang ke ruang baca. Pelayan rumah yang menyampaikan perintah Agatha padanya.


 


"Aku datang, Ma," ucap Bellina saat masuk ruang baca. Wanita itu mendongak.


 


"Oh, Bellina. Masuklah. Duduk di sini. Aku ingin bicara." Agatha menunjuk kursi di depannya. Bellina mendekat dan duduk. "Kini, Reddick sudah tiada. Mungkin tidak tepat jika aku katakan sekarang, tapi aku rasa lebih baik secepatnya kamu mencari suami lagi."


 


"Suami?" tanya Bellina terkejut.


 


"Ya. Aku tahu sepi sekali jika tidak ada seorang pria yang menyayangi di samping kita."


 


"Maaf, Ma. Aku tidak ingin menikah. Meski Reddick sudah tidak ada, aku tidak harus menikah lagi," kata Bellina.


 


"Jadi kamu ingin terus menjanda?" tanya Agatha memicingkan mata. Dia tidak suka.


 


"Mungkin iya," jawab Bellina membuat Agatha mendesah lelah. Ia mencoba menahan diri untuk tidak langsung naik darah.


 


"Itu tidak mungkin Bellina. Kamu masih muda, cantik. Kenapa harus terus menjanda demi Reddick yang sudah meninggal?" tanya Agatha membuat Bellina terkejut. Pupil matanya bergetar.


 

__ADS_1


"Bukankah lebih baik aku memang tidak menikah dengan siapa-siapa dan setia pada Reddick?" tanya Bellina merasa ini pilihan yang tepat.


 


Agatha kesal dengan sikap Bellina.


 


"Bagaimana jika aku bilang tidak?" tegas Agatha.


 


"Tidak? Bagaimana mungkin mama tidak setuju?" Bellina merasa heran.


 


"Begini Bellina. Mungkin kamu bisa bersikap bebal karena Reddick masih hidup, tapi ... sekarang kamu tidak bisa membantah karena tidak ada anak itu," desis Agatha.


 


"Maksud mama?" Bellina mengerutkan dahinya.


 


"Berhenti bersikap keras kepala dan patuh padaku. Sekarang tidak ada yang bisa kamu andalkan di rumah ini," ujar Agatha seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Bellina dengan wajah jahatnya.


 


Bellina melebarkan mata terperangah kaget melihat perubahan sikap Agatha.


 


"Jangan terlalu kaget seperti itu. Aku sudah lelah harus berpura-pura baik padamu yang hanya anak orang miskin. Kamu hanya beruntung bisa bersanding dengan Reddick. Jika bukan karena jasa suamiku, kamu tetap akan tetap bekerja di toko roti kecil itu," desis Agatha.


 


Kalimat panjang perempuan di depannya membuat Bellina meremas pinggiran rok yang di pakainya. Ia mendadak gemetar. Namun sekuat tenaga ia mencoba tenang.


 


"Saya tidak mengerti. Mengapa sikap mama berubah dengan tiba-tiba?" Bellina memberanikan diri untuk bertanya.


 


 


"Jika aku tidak mau?" Bellina mencoba menolak.


 


"Kamu bukan ada di posisi bisa berkata tidak. Orangtuamu masih hidup dengan tenang, kan?" tanya Agatha membuat bulu kuduk Bellina merinding. "Jika ingin mereka masih bisa hidup dengan tenang dan damai, ikuti perintahku," ancam Agatha.


 


Aku tidak aman. Benar yang di katakan Lionel.


 


...*****...


 


Kemarin, sebelum Agatha memanggil Bellina ke ruang baca.


 


Reddick sengaja mengikuti Bellina yang keluar dari perusahaan dengan mobilnya. Ternyata perempuan itu sedang menuju ke sebuah supermarket. Reddick ikut turun dan masuk.


 


Tangannya meraih troli belanja. Berpura-pura berbelanja dengan membuntuti perempuan itu. Bellina yang tahu sedang di buntuti berhenti.


 


"Aku tidak tahu kalau kamu tidak punya pekerjaan selain membuntuti ku," tegur Bellina. Reddick tersenyum.


 


"Aku punya banyak pekerjaan. Namun aku menyempatkan waktu untuk membuntuti mu." Bellina menggelengkan kepala sembari menipiskan bibir. Dia tidak peduli pada Reddick dan berjalan terus. Reddick mensejajari langkah Bellina. "Cuaca yang bagus untuk belanja."

__ADS_1


 


"Tidak ada cuaca bagus. Aku hanya mengisi kesibukan," bantah Bellina. Reddick diam.


 


"Aku heran Amber yang jadi CEO. Bukankah lebih pantas kamu yang jadi istri Reddick?" Reddick mencoba mencari topik.


 


"Tidak perlu heran. Lagipula kamu orang luar. Oh, tidak. Kalian begitu dekat. Bukankah seharusnya kamu senang, jika Amber yang jadi CEO?" tanya Bellina dengan dingin.


 


"Sepertinya. Namun aku tidak senang karena itu tidak seperti seharusnya." Reddick jujur. Bellina menoleh heran ke arah pria ini.


 


"Dia adik Reddick. Mungkin itu yang di pilih orang-orang daripada aku yang hanya menantu," jelas Bellina. "Jadi kenapa harus heran?" Tidak ada dendam pada kalimat perempuan ini. Padahal dia berhak berada di singgasana yang sekarang di rebut oleh Amber.


 


Kepala Bellina menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu. Setelah merasa ketemu. Ia membelokkan troli ke arah rak buah.


 


"Aku tersanjung kamu mau bicara denganku." Reddick menyadari bahwa Bellina terbuka padanya kali ini. Meskipun dia sempat marah dan menampar wajah Reddick, wanita ini masih bersikap baik.


 


Bellina menoleh ke samping. Melihat Reddick dengan bola mata indahnya.


 


"Aku tidak pernah menawarkan permusuhan kepada siapapun, kecuali mereka sendiri yang memintanya. Jadi jika kamu mengatakan hal aneh, aku tentu tidak sudi bicara denganmu." Bellina menggunakan lirikan dengan tajam untuk menunjuk Reddick.


 


Reddick menghela napas. Ia ragu. Padahal sekarang ia hendak membicarakan hal aneh lagi pada perempuan ini. Bahkan lebih aneh dari semua kalimat yang pernah ia lontarkan.


 


"Bagaimana jika kita bicara dengan duduk dan minum kopi?" tawar Reddick.


 


"Kamu tidak lihat troli belanjaku kosong?" Bola mata Bellina menunjuk ke arah troli yang di bawanya.


 


"Setelah belanja." Reddick sedikit memaksa.


 


"Aku tidak menyukai kopi," lanjut Bellina. Wanita ini ingin menolak.


 


"Minum apapun yang kamu mau. Aku ingin bicara denganmu," paksa Reddick.


 


"Kamu tipe pria pemaksa. Aku tidak menyukai itu." Kening Bellina mengerut.


 


"Maafkan aku. Aku harus bisa bicara denganmu, Bellina. Ini soal dirimu." Reddick terpaksa bicara jujur. Troli itu berhenti, karena kaki Bellina tidak lagi melangkah.


 


"Soal aku? Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan Lion?"


 


"Ini soal dirimu dan keluargamu. Ayah ibumu. Kita harus duduk dengan tenang. Kita tidak bisa bicara sambil lalu seperti ini," terang Reddick.


..._______


__ADS_1


...


__ADS_2