Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 31 • Makan malam yang hangat


__ADS_3

Reddick dan Bellina pulang ke rumah. Jika biasanya hanya ada mereka berdua saja, tapi kali ini ada ibu yang untuk sementara ini tinggal bersama mereka. Menunggu rumah ibu di kampung selesai di renovasi.


“Kalian sudah datang ...” Ibu menyambut dengan senang ketika melihat keduanya pulang dari perusahaan.


“Ibu? Apa yang di lakukan ibu?” tanya Bellina terkejut ketika melihat ibu memakai celemek. Karena itu berarti ibu sudah melakukan aktifitas, padahal asma ibu baru kambuh. Reddick langsung menoleh pada bibi pengurus rumah yang ada di dapur.


“Ada apa ini, Bi?” tanya Reddick ingin tahu.


“Ma-maafkan saya, Tuan.” Perempuan yang hampir sebaya dengan ibu Bellina itu menunduk takut. Bellina ikut menoleh juga pada pembantu rumah.


“Aduh, Nak ... Bibi tidak salah. Semua ini keinginan ibu saja.” Ibu Bellina langsung memutus curiga menantunya. Bellina dan Reddick melihat ke ibu.


“Bagaimana ibu bisa melakukan ini? Bukannya asma ibu baru kambuh?” tanya Bellina cemas. “Ayo, ibu duduk dulu.” Bellina membimbing tubuh ibu untuk duduk di kursi. Sementara Reddick memberi kode pada bibi untuk melanjutkan pekerjaan karena sudah mendapat klarifikasi dari ibu.

__ADS_1


Meskipun awalnya tidak suka Bellina berlebihan dalam mencemaskannya, tubuh ibu tetap patuh saat Bellina menyuruh beliau duduk.


“Hhh ... Ibu memang punya asma, tapi ibu sudah sehat.” Ibu meyakinkan putrinya lagi.


“Ibu benar, mungkin saja ibu sudah sehat, tapi namanya seorang anak pasti mencemaskan ibunya yang habis sakit. Aku rasa semu benar.” Reddick menengahi.


“Iya, ibu paham.” Ibu tersenyum paham menantu palsunya sedang melerai.


“Jadi tadi ibu masak apa?” tanya Reddick berusaha memedulikan ibu Bellina yang sepertinya tadi ingin menunjukkan sesuatu. Reddick yakin itu masakan yang ada di meja makan. Bellina menoleh pada pria ini yang mulai menarik kursi dan duduk.


“Kelihatannya lezat,” kata Reddick tertarik untuk mencicipi. “Apa aku boleh mencicipnya ibu?” tanya Reddick lagi.


“Tentu saja. Karena kalian baru pulang kerja, pasti kalian lapar. Jadi ibu mencoba masak tadi.” Ibu tersenyum gembira ketika berbicara. "Jangan hanya di cicipi. Kamu harus menghabiskannya.”

__ADS_1


"Oh, tentu Ibu. Bellina, duduklah. Kita makan malam bersama,” pinta Reddick pada Bellina yang masih berdiri melihat mereka berdua bicara.


“Benar Bellina. Ayo makan bersama. Ibu sengaja memasak untuk kalian berdua." Ibu tampak antusias mengajak putrinya. Bellina terpaksa ikut duduk juga karena keduanya.


“Ibu juga harus makan bersama kita,” pinta Reddick.


“Oh, tidak. Biar ibu nanti saja,” tolak ibu.


“Tidak. Lebih baik kita makan bersama-sama,” paksa Reddick dengan lembut. Bellina melihat ke arah pria yang duduk di samping ibu. Dia tertarik  “Bibi! Bawakan piring satu lagi!” panggil Reddick seraya menoleh pada bibi di meja dapur.


“Baik, Tuan.” Bibi segera mengambilkan piring dan membawa ke meja makan. “Ini Tuan.”


“Aduh, kenapa repot-repot. Terima kasih, Bi.” Ibu merasa tidak enak pada bibi pengurus. Namun perempuan itu tersenyum gembira melihat mereka begitu akrab.

__ADS_1


Bellina memperhatikan Reddick yang bicara dengan ibu. Dia terlihat lebih dekat dengan ibu daripada dirinya yang merupakan putri kandung. Apalagi ibu juga sangat bersemangat menjelaskan masakannya pada pria itu. Ini pemandangan yang baru untuknya. Ia takjub melihat pria yang di kenalnya sebagai Casanova itu begitu peduli pada ibunya.


..._____...


__ADS_2