
Bellina dan Reddick menuju ke tempat Delvin. Mobil di pacu dengan cepat. Reddick tidak ingin menunggu lama melihat hasil rekaman cctv. Dia ingin melihat sendiri wajah dirinya yang sudah lama lenyap.
Bellina yang masih belum tahu ada apa, mengikuti Red dengan kebingungan. Sesekali dia menoleh ke samping. Memperhatikan wajah pria yang menjadi suami pura-pura-nya. Wajah pria itu tampak tegang.
Ada apa? Baru kali ini aku lihat dia tampak tertekan. Bellina jadi iba. Karena ia terbiasa melihat wajah pria ini dalam situasi selalu bersenang-senang.
“Cepat tunjukkan padaku,” kata Reddick langsung ketika Delvin muncul di depan pintu. Ia melesat masuk mendahului Delvin. “Ruangan yang ada di ujung Red, eh, Lionel.” Delvin memberitahu.
Delvin menggeram tanpa suara karena kerepotan dengan perpindahan jiwa Reddick dan Lionel ini. Dia seringkali salah sebut dan panggil. Siapapun pasti seperti itu jika ada di posisi pria ini. Karena mulai membiasakan diri menyebut nama Reddick, sampai-sampai Delvin keceplosan menyebut nama itu di depan Bellina.
Reddick pasti belum mengenal apartemen miliknya.
“Masuklah,” kata Delvin. Bellina mengangguk sopan karena masuk dalam apartemen Delvin. Setelah mempersilakan tamu masuk, Delvin segara menyusul Reddick.
Bellina berjalan sendiri di belakang. Ia heran. Ada apa gerangan sampai Lion terburu-buru seperti itu.
Ruangan ini seperti milik mata-mata. Ada monitor besar yang terhubung dengan keyboard di meja. Reddick melihat hasil rekaman kamera cctv di apartemen dan perusahaan Lion.
Bola mata Reddick melebar. Dia melihat tubuh dan wajah miliknya di sana. Tubuh Reddick tengah melihat ke arah gedung perusahaan dan juga gedung apartemennya.
“Itu benar Reddick bukan?” ujar Delvin yang muncul di balik punggungnya.
“Ya. Itu tubuhku,” lirih Reddick. Delvin melirik ke arah pria ini. Dia terguncang.
“Ada apa, Lion?” tanya Bellina yang akhirnya muncul di dalam ruangan ini.
“Bellina.” Sekilas Reddick tersadar. Ia melupakan wanita ini dan langsung melesat masuk ke dalam apartemen Delvin tadi. Ia pun berbalik dan menuju ke Bellina yang baru saja tiba. “Aku ingin memperlihatkan sesuatu. Apa kamu siap?” tanya Red.
“Soal apa ini?” tanya Bellina bingung. Reddick tidak menjawab. Ia hanya membimbing Bellina menuju monitor itu. Meski kaki dan tubuh Bellina patuh, pikirannya gamang. Kenapa ia harus mengikuti pria ini?
Delvin memperhatikan mereka.
“Duduklah.” Reddick memutar lagi hasil rekaman cctv yang sudah di copy Delvin. Bellina duduk dengan sesekali mendongak ke arah Reddick. Dia ingin bertanya. “Lihatlah di layar monitor,” pinta Reddick. Bellina memindah pandangannya ke depan. “Mungkin yang kamu katakan, bahwa kamu melihat Reddick adalah benar.”
__ADS_1
Bola mata Bellina melebar. Di depannya ia melihat sosok suaminya yang sudah meninggal.
“Reddick,” sebut Bellina dengan raut wajah terguncang. Tangannya terangkat menutupi mulutnya. Wanita ini terperangah kaget melihat apa yang ada di depannya. “Itu Reddick Lion! Itu Reddick! Apa yang aku lihat itu adalah benar. Aku melihat Reddick di rumah sakit.” Bellina emosional saat mengatakannya. Wajar. Melihat suaminya yang sudah meninggal hidup kembali, tentu saja membuat seseorang begitu emosional.
“Sepertinya begitu, Bellina,” kata Reddick lirih.
Seketika itu air mata Bellina jatuh. Ia menangis seraya menutup wajahnya dengan tangan. Delvin menghela napas dan memilih keluar. Membiarkan dua orang ini di dalam ruangan.
...***...
Suasana sendu tadi mulai luruh meskipun masih ada sisa air mata di pipi perempuan ini. Mereka sudah keluar dari ruangan tadi dan duduk di sofa bersama Delvin.
“Jadi itu benar Reddick suami kamu, Bellina?” tanya Delvin.
“Benar. Itu Reddick," jawab Bellina dengan suara parau.
“Aku tidak tahu. Aku tidak melihat langsung karena pemakaman Reddick berjalan tanpa aku,” kata Bellina.
“Kamu tidak mengikuti upacara pemakamanku?” tanya Reddick spontan. Ia terkejut mendapati fakta ini. Bellina menoleh dengan wajah heran. Delvin terkejut mendengar itu.
“Aku membicarakan Reddick,” kata Bellina.
“Ya. Aku tahu. Makanya aku ...”
“Bukankah kamu Lionel?” potong Bellina membuat Reddick terdiam karena sadar. Delvin yang hendak memberitahu tadi urung karena Bellina sudah mengatakannya lebih dulu. Ia melirik ke arah Reddick yang membeku.
Tak lama setelah itu, Reddick berdecih.
“Benar. Kamu sedang membicarakan Reddick. Maafkan aku.” Reddick langsung menyadari kesalahannya. Ia pun langsung meneguk minuman di depannya guna mengusir rasa kesal.
__ADS_1
“Apa menurutmu kemungkinan Reddick hidup itu pasti?” tanya Delvin.
“Aku sudah melihat Reddick, begitu juga kalian. Apa yang kamu ragukan lagi?” Raut wajah Bellina tampak tidak setuju dengan apa yang di tanyakan Delvin. “Kamu meragukan aku yang jadi istri Reddick?”
“Bukan. Aku bertanya itu karena aku juga melihat tubuh Reddick dengan mata dan kepalaku sendiri,” bantah Delvin.
“Jika begitu, apalagi yang harus di pertanyakan?” Bellina mengerutkan dahinya.
“Karena kamu belum tahu fakta yang sebenarnya,” kata Delvin dengan wajah tenang tapi menimbulkan aura horor nan misterius. Reddick tegang. Dia tahu maksud Delvin adalah fakta bahwa Reddick yang asli ada di depan mereka.
“Fakta? Fakta apa yang kamu katakan?” Kerutan di dahi Bellina belum hilang.
“Apa kamu percaya pada suatu hal yang berada di luar nalar Bellina? Seperti orang yang bangkit dari kematian mungkin.”
Bellina heran dengan perkataan Delvin.
“Ada apa denganmu? Dia memang seperti ini, Lionel?” tanya Bellina yang mengalihkan padangan pada Reddick. Bibir pria ini hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bellina.
Apakah kamu bisa percaya bahwa Reddick hidup dalam tubuh Lionel, Bellina? Karena jika seperti ini saja kamu menyangkalnya, kedepannya kamu pasti sulit menerima semua fakta mencengangkan ini.
"Apakah kamu percaya?" tanya Reddick yang juga ingin mengungkap jati dirinya. Ia tersiksa berada di dekat Bellina dengan tubuh Lionel. Delvin menoleh pada Reddick.
Sepertinya kamu ingin mengungkapkan semuanya di sini sekarang.
"Apa Lion? Kenapa kamu ikut-ikutan Delvin bertanya seperti itu?" Bellina tidak mengerti kedua pria ini.
"Kamu bisa menjawab apa saja Bellina," kata Delvin. Dia tidak ingin terlihat gila sendiri. Ia ingin mengajak teman untuk menjadi gila juga.
Bellina diam. Dua orang itu menunggu kata-kata keluar dari mulut wanita ini.
"Jika yang kalian bicarakan adalah kasus Reddick, aku akan menjawab ... iya aku percaya. Meskipun kalian melihat aku dengan aneh, aku akan katakan aku percaya bahwa Reddick mungkin saja memang bangkit dari kematian." Bellina mengatakannya dengan tegas. "Sebagai seorang istri, aku tentu rindu dengan Reddick. Dia suamiku. Kalian yang belum menikah tentu tidak mengerti itu. Ini gila, tapi ya ... Aku sangat ingin bertemu Reddick. Baik dia di anggap bangkit dari kematian sekalipun." Bola mata Bellina berkaca-kaca.
Delvin melirik ke arah Reddick. Semua pertanyaan dan jawaban itu bukan untuknya. Namun itu semua untuk pria di sana. Pria yang jiwanya terjebak dalam tubuh pria lain. Semua kalimat itu tidak punya arti baginya. Namun berbeda jika itu untuk Reddick.
__ADS_1
...______...