
Ini hari libur. Reddick menikmati pemandangan pagi yang begitu indah daripada biasanya. Itu bukan karena cuaca yang cerah, melainkan karena suasana di dalam rumah yang berbeda.
Ibu Bellina masih di rumah mereka. Jadi dia bisa melihat dua wanita yang di sayangnya berada dalam satu frame. Mereka sedang memasak bersama. Meskipun sempat menentang ibu melakukan aktifitas, sekarang Bellina terpaksa memberi ijin. Karena tetap saja ibu melakukannya. Akhirnya dia memilih membantu ibu daripada membiarkannya sendiri.
"Lihatlah Nduk ... Pria itu sejak tadi selalu memperhatikan mu," kata Ibu. Bellina hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. "Meski sudah tahu kamu tidak akan berhenti mencintai suami kamu, tapi dia tetap memedulikan kamu. Dia itu tulus." Ibu masih membicarakan pria yang saat ini menjadi suami Bellina, tanpa tahu bahwa di dalamnya tubuh itu adalah Reddick sendiri.
"Ibu sudahlah," kata Bellina tidak ingin ibu membahas itu lagi. Bola mata ibu menatap putrinya lalu menghela napas.
Seorang pelayan rumah mendekati Reddick yang duduk membaca kabar hari ini lewat laptopnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Reddick.
"Ada orang yang mencurigakan di depan gerbang Tuan," kata pelayan pria ini dengan wajah panik.
"Orang mencurigakan?" tanya Reddick terkejut. Keningnya mengerut heran.
__ADS_1
"Iya Tuan."
"Apa dia membuat masalah atau kekacauan di depan?"
"Tidak Tuan, tapi saya rasa Anda perlu melihat orang itu. Mungkin saja dia kenalan Anda atau siapa. Karena orang itu bukan hanya hari ini mondar-mandir di depan pintu gerbang, Tuan. Beberapa hari yang lalu juga ada di sana. Waktu saya tanya apa dia tamu Tuan, pria itu menggeleng." Meski agak gugup karena panik, informasi yang di sampaikan di terima dengan baik oleh Reddick.
"Jadi bukan hanya hari ini saja?" tanya Reddick meyakinkan.
"Benar Tuan." Pelayan itu mengangguk. Reddick diam sejenak. Ia tengah berpikir. Apa itu Lionel? Bukankah dia di temukan Delvin di depan rumah ini?
"Baik. Aku akan kesana. Jangan membuat semua orang panik."
Tanpa pamit, Reddick ikut pelayan itu pergi. Bellina sempat mendongak dan memandang punggung pria itu hingga hilang dari pandangan.
Reddick menuju pintu gerbang. Pintu gerbang memang sedikit terbuka. Dia bisa melihat orang di luar melalui celah sempit itu. Sungguh mengejutkan yang ia dapati adalah Lionel!
__ADS_1
"Lion?" Reddick sungguh terkejut.
"Anda kenal, Tuan?" tanya security yang menjaga di posnya.
"Apa itu orang yang sering mondar-mandir di depan gerbang?" tanya Reddick lagi.
"Benar Tuan. Sudah beberapa hari ini dia memang sering ke sini, tapi waktu di tanya mencari siapa, dia memilih pergi tanpa menjawab." Security itu menjelaskan.
Ternyata benar. Tubuh Reddick memang mendatangi rumah ini! Pria ini mencoba keluar untuk berbicara dengan tubuhnya sendiri.
"Saya temani, Tuan?" tawar sekuriti.
"Tidak. Aku bisa mengatasinya. Kalian tetap di pos kalian saja," tolak Reddick. Dia ingin menemuinya tubuhnya sendirian. Tidak mungkin pembicaraannya dengan tubuhnya sendiri di dengar orang lain. Tidak bisa di pungkiri, ini pertemuan sangat epic. Dia sedang berjalan menuju orang yang sedang memakai tubuhnya. Bukankah itu langka?
Tubuh Reddick gemetar. Tangannya dingin. Banyak bayangan yang sudah ada di dalam benaknya ketika bertemu dengan pria itu. Pria yang memakai tubuhnya.
__ADS_1
"Selamat ... pagi," sapa Reddick dengan hati-hati dan sedikit gemetar.
..._____...