Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 22 • Tentang Bellina


__ADS_3

Setelah suasana haru tadi, semua kembali normal. Oleh-oleh tadi juga sudah di masukkan ke dalam. Ibu muncul dari belakang dan datang dengan nampan berisi minuman. Kemudian beliau menyuguhkan minuman dan makanan kecil untuk Reddick di atas meja.


 


"Terima kasih untuk oleh-olehnya." Ibu paruh baya itu bicara dengan lembut keibuan. "Ayo di minum," pinta ibu. Reddick tersenyum seraya mengangguk sopan.


 


"Saya minum, ya Bu?" kata Reddick meminta ijin. Ibu Bellina mengangguk. Kemudian pria ini mengambil cangkir berisi teh yang di suguhkan, lalu meneguknya perlahan. Bellina hanya memperhatikan.


 


Namun sejak tadi tatapan Reddick masih bingung bertanya-bertanya. Siapa wanita ini? Setelah itu ibu ke belakang lagi. Mungkin menaruh nampan.


 


"Tidak banyak yang tahu kalau aku sebenarnya adalah anak angkat papaku. Sekretaris keluarga Wycliff. Aku hanya salah satu anak yang beruntung," ujar Bellina membuat Reddick terkejut. Dia melihat pria ini sejak tadi menatap ibu dengan heran. "Kamu mengira aku anak kandung mereka?" tanya Bellina dengan senyum tipis menertawakan keterkejutan Reddick.


 


Ini menampar Reddick yang sejak tadi sibuk mempertanyakan siapa wanita yang sejak tadi di panggil ibu oleh Bellina.


 


"Kenapa harus cerita? Semua hal itu bisa kamu simpan sendiri," kata Reddick tidak ingin membuat suasana tidak nyaman. Pria ini tidak ingin, antara dia dan Bellina muncul lagi suasana suram seperti pertama kali ia muncul dalam cangkang Lionel.


 


"Karena mungkin aku benar-benar hanya punya dirimu sebagai teman. Jadi aku merasa kamu harus tahu tentang itu." Bellina tersenyum tipis. Kemudian menghela napas pelan.


 


Teman? Apa Bellina sudah menganggap kita dekat?


 


Ibu muncul setelah beberapa menit. "Kamar kalian sudah di siapkan oleh ibu. Jadi kalian bisa istirahat di sana," ujar beliau sambil menunjuk ke arah tas yang mereka bawa.


 


Bellina terkejut.


 


"Kenapa ibu melakukannya? Kami bisa melakukannya sendiri ...," ujar Bellina seperti marah. Reddick menoleh. Ia pikir Bellina terlalu keras. Dia merasa ibu Bellina, melakukannya karena ada dirinya. Beliau pasti merasa sungkan pada menantu pria yang baru.


 


"Tidak apa-apa. Letakkan barang kalian di dalam kamar. Suami mu bisa istirahat dulu. Dia habis menyetir sepanjang perjalanan tadi bukan?" Ibu tersenyum ramah. Namun Bellina masih dengan raut wajah marah.


 


"Terima kasih, Ibu." Reddick merasa di mengerti.


 


"Ibu bisa istirahat juga sekarang. Tidak perlu menemani kita mengobrol. Kami enggak apa-apa," ujar Bellina segera.


 


"Kamu ini. Ada menantu ibu, kenapa ibu harus istirahat?" tanya ibu tidak setuju dengan usulan putrinya. Namun Bellina sepertinya berusaha memaksa ibu istirahat.


 


Tiba-tiba napas ibu berat. Seakan susah untuk bernapas. Beliau mengepalkan tangan menahan rasa sakit.

__ADS_1


 


"Ibu!" teriak Bellina yang langsung berdiri dan mendekat. Dia panik. Reddick bingung melihat Bellina yang bergegas menghampiri ibunya yang mulai duduk perlahan. "Sudah aku bilang ibu harus istirahat. Lihatlah, asma ibu kambuh!" Wajah Bellina kesal karena apa yang ia khawatirkan terjadi.


 


Reddick baru mengerti kenapa Bellina memaksa ibunya untuk istirahat. Wanita paruh baya itu mengidap asma yang tidak bisa kelelahan.


 


"Kita bawa ibu ke rumah sakit, Bellina," usul Reddick.


 


"Ya." Bellina harus patuh.


 


"Buka pintu mobil, Bell. Aku akan menggendong ibu," ujar Reddick yang melihat wanita paruh baya itu kehabisan napas.


 


Bellina langsung mengambil kunci mobil yang ia lihat di letakkan pria itu di meja. Bergegas keluar dan membuka pintu mobil.


 


Wajah ibu memang tampak pucat. Napasnya terlihat naik turun. Ekspresi wajah beliau meringis menahan rasa sakit di dadanya. Sepertinya sangat sulit berjalan menuju mobil.


 


Dengan tubuh yang kurus, ibu Bellina mudah di gendong. Reddick pun segera membawa tubuh beliau masuk ke dalam mobil. Dengan lembut dan sangat hati-hati, Reddick mendudukkan ibu di kursi.


 


"Masuk. Aku akan kunci rumah dan kita segera berangkat," perintah Reddick pada Bellina yang berada di belakangnya. Wanita ini mengangguk setuju usulnya.


 


 


"Kita berangkat."


 


Mesin mobil menyala dan mulai melaju di jalanan. Reddick menyalakan GPS untuk mencari rumah sakit paling dekat dengan tempat mereka sekarang. Suasana di dalam mobil terasa mencekam. Bellina yang panik terus saja menggigit bibir. Dia gelisah.


 


Sementara itu ibu menahan sakit di dadanya. Berusaha mengambil oksigen banyak-banyak untuk tetap bisa bernapas normal.


 


"Kita ke rumah sakit terdekat, Bell." Reddick memberitahu di kursi depan.


 


"Ya."


 


Setelah mendapat tempat parkir. Reddick keluar lebih dulu dari mobil untuk membantu ibu di belakang.


 


"Aku akan menggendong ibu lagi. Cari petugas medis untuk membantu," perintah Reddick.

__ADS_1


 


"Baik."


 


Saat itu pihak rumah sakit dengan tanggap menghampiri sembari membawa kursi roda.


 


"Kami bisa membantu Tuan." Dengan bantuan petugas rumah sakit, ibu langsung di tangani.


 


...***...


 


Kepanikan tadi usai. Ibu sudah bisa bernapas dengan teratur lewat bantuan tabung oksigen. Meskipun begitu, Bellina masih berwajah tegang. Reddick menghela napas pelan melihat ibu tidur dengan tenang. Ia yang baru saja dari luar meletakkan kresek berisi makanan di atas meja.


 


"Turunkan bahu mu Bellina. Ibu sudah bisa di tangani. Lihatlah ibu mulai bernapas dengan teratur. Istirahatkan pikiranmu," nasehat Reddick.


 


"Aku tidak bisa tenang, Lion." Bellina mengatakannya dengan wajah lelah dan sedih.


 


"Aku mengerti. Aku hanya mengkhawatirkan kamu," ujar Reddick jujur.


 


Bellina menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. "Terima kasih, tapi aku mencemaskan ibu."


 


Reddick tahu makna seorang ibu. Semuanya jadi tidak berarti saat yang melahirkan kita terlihat kesakitan. Ia juga merasakannya saat ibunya juga sedang sakit. Itu di saat sebelum ibu mengembuskan napas terakhir.


 


"Aku mengerti," ucap Reddick. "Aku sudah membelikan makanan untukmu. Ini sudah siang. Kamu belum makan apapun sejak tadi." Reddick meraih kotak makanan yang ia beli tadi.


 


"Aku tidak ingin makan, Lion. Aku hanya ingin menemani ibu."


 


"Jika tubuhmu sakit, kamu tidak akan bisa menemani ibu. Kamu harus sehat, Bellina. Jika kamu menolak untuk makan, aku akan memaksa," tegas Reddick. Dia tidak mau wanita ini jatuh sakit. Bellina menatap Reddick beberapa detik.


 


"Terima kasih kamu baik.”


 


"Kenapa berterima kasih? Ini bukan hal penting,” tepis Reddick meski sebenarnya ia sangat senang. Reddick menyiapkan makanan untuk Bellina. "Kamu harus tetap sehat dan kuat untuk membalas Agatha dan orang-orangnya. Jaga dirimu untuk melihat kehancuran mereka, Bellina." Reddick mengucapkannya dengan lirih.


 


“Kamu terlihat lebih marah daripada aku. Apa kamu punya dendam sendiri pada mereka?” tanya Bellina membuat Reddick tertegun. Ia tersadar. Ia meluapkan semua marah yang dirasakannya pada keluarga Wycliff.


...___________...

__ADS_1



__ADS_2