Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 47 • Menginap


__ADS_3

Tidak ada niatan ibu untuk menjebak mereka dalam satu kamar, tapi keadaan memang seperti itu. Karena ibu hanya tinggal dengan pelayan yang di kirim oleh Reddick, kamar yang sungguh siap di tempati adalah kamar utama dan kamar tamu.


Kamar pelayan ada di belakang. Tidak mungkin Bellina akan tidur di sana. Ibu beranjak dari kursi dan mendekati Bellina.


"Sudah ... kalian istirahat di sana. Ayo, letakkan tas kalian di dalam kamar," perintah ibu. Reddick mengangguk. Bellina masih syok.


Reddick meraih tas milik Bellina dan membawanya. "Kamarnya ada di tengah ya ...," ujar ibu.


"Ya, Bu. Ayo Bellina," ajak Reddick. Terpaksa ia juga berjalan ke kamar itu dengan pria ini. Menyuruh pria ini mencari kamar lain yang belum siap untuk di pakai, juga tidak mungkin. Karena rumah ini menjadi seperti ini karena uang milik pria itu.


Meskipun belum mengatakan mau menginap, ibu tahu putrinya pasti menginap malam ini. Itu terlihat dari bentuk tas Bella yang terisi penuh. Jika hanya berkunjung, Bellina tidak mungkin membawa tas besar itu.


Tangan Reddick membuka pintu kamar yang di tunjuk. Reddick masuk lebih dulu seraya membawa tas mereka berdua. Sementara itu Bellina diam di depan pintu.


"Tidak masuk?" tanya Reddick heran.


"Sebaiknya kita makan dulu," kata Bellina mengusulkan untuk keluar dari kamar dengan cepat. Reddick mengerjap. Dia meletakkan tas dulu lalu keluar lagi.


"Kamu lapar? Kenapa tidak makan di jalan tadi?" tanya Reddick. Bellina mundur untuk memberi jarak bagi pria ini menutup pintu. Bellina hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


Reddick benar-benar menghabiskan kunjungan ini dengan mengobrol banyak dengan ibu. Banyak tema yang di bicarakan dalam obrolan mereka, hingga Bellina hanya melihat keseruan keduanya mengobrol.


Bola mata Bellina memperhatikan pria ini lagi dengan seksama. Mungkin karena dia Reddick, sorot mata itu ternyata hangat dan sangat berbeda dengan Lionel yang asli. Bellina tidak terlalu mengenal Casanova itu, tapi dia tahu dan banyak mendengar siapa pria bernama Lionel.


Jadi kamu menginginkanku karena kamu Reddick? batin Bellina. Apa perhatian dan kehangatan yang di tunjukkan padaku itu memang dari kamu Red? Jika benar, aku menginginkannya lagi.


Pernikahan Bellina dan Reddick yang dilatari perjodohan memang berliku. Mereka gagal bahagia karena salah paham. Salah komunikasi membuat semua runyam.


Karena tidak ada suara apapun dari bibir Bellina, Reddick menoleh pada perempuan ini. Menatap dalam yang berbuah kegugupan untuk Bellina. Menyadari mereka saling pandang, perempuan ini gugup.


Bellina memperhatikanku tadi, pekik Reddick kegirangan.


***


Kini tiba malam yang tadi di hindari Bellina. Mengedarkan pandangan menyeluruh. Ranjang hanya ada satu. Tidak begitu lebar, tapi cukup jika untuk berdua.


"Kamu bisa tidur di ranjang dan aku di lantai memakai karpet," kata Reddick paham. Di rumah mereka saja, Bellina dan Reddick beda kamar, bagaimana mungkin wanita ini akan tidur dalam satu kamar bahkan satu ranjang. "Karena untuk menghormati ibu, aku tidak bisa tidur di luar. Namun aku bisa jika tidur di bawah." Reddick mengatakan alasannya. Bellina mengerti.


"Tidur saja di ranjang, aku yang akan tidur di lantai," kata Bellina. Dia tentu tidak enak harus membuat pria yang sejatinya tidak pernah tidur di lantai ini, terpaksa melakukannya. "Aku tahu kamu tidak bisa tidur di lantai, Reddick. Lagipula hampir semuanya adalah barang yang kamu beli dari uangmu. Ya ... meski itu perusahaan lionel, tapi karena kamu sekarang berwajah pria itu, berarti itu hartamu juga." Bellina menjelaskan hal yang tidak perlu di katakan. Dia jadi bingung sendiri.

__ADS_1


Reddick tersenyum.


"Aku mengerti. Meskipun begitu, aku sengaja merenovasi rumah ini bukan untuk bisa bertindak sesuka hati atas kamu dan ibu. Aku hanya memberi sedikit hal untuk kalian yang tidak aku lakukan dulu." Raut wajah Reddick sekarang mengatakan dengan jelas dia menyesal dulu tidak bersikap dengan benar.


Bellina mengerjap. Lalu ia berpaling. "Jangan merendah. Aku tahu kamu selalu memberi ibu banyak sesuatu di belakangku." Dia selalu mendapat kabar itu dari ibu.


"Ya, tapi ibu tidak mau menggunakannya dengan baik semua pemberianku," kata Reddick terluka. Bellina tidak membantah karena itu benar. Ibu meletakkan apapun yang di berikan oleh Reddick dalam lemari dengan baik. Karena menurutnya itu tidak harus di pakai saat belum butuh.


Mungkin ibu juga canggung memakai pemberian Reddick karena pria ini hanya mengirimkan semua itu lewat orang-orangnya. Meskipun Reddick bukan orang jahat, dia sangat jarang datang dan berbincang dengan ibu seperti sekarang. Beliau merasa pemberian itu hanya untuk di miliki tapi bukan di pakai.


"Dulu, menurutku memberi banyak hal adalah bukti aku peduli pada keluargamu. Ternyata itu salah. Pemberian itu jadi tidak berarti karena aku juga tidak muncul untuk berbincang sebentar dengan ibu. Seakan pemberian itu hanya sebuah algoritma dalam dalam otakku. Obrolan sedikit dan hangat lebih bisa berarti di bandingkan sebuah pemberian besar yang terkesan hanya sebuah formalitas belaka," ujar Reddick menggambarkan betapa buruknya sikap dia pada ibu mertua dulu.


Mendengar ini Bellina merasa iba pada Reddick. Dia tidak berpikir kalau pria ini begitu menyesal sudah memperlakukan dia dan ibunya dengan dingin.


"Tidurlah di atas ranjang."


"Tidak Bellina, aku bisa tidur ..." Reddick ingin terus membantah. Namun ketika Bellina menyerobot kalimatnya, Reddick langsung bungkam.


"Tidurlah di atas ranjang denganku," ujar Bellina mengejutkan.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2