Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 32 • Maafkan ibu


__ADS_3

Karena ibu sudah tahu mereka menikah pura-pura, kamar tidur mereka tetap terpisah karena tidak perlu ada yang di sembunyikan. Walaupun begitu, ibu tetap ingin mereka bersama dalam satu kamar.


“Kamar tidur kalian terpisah?” tanya ibu sengaja bertanya.


“Y-ya tentu saja.” Bellina menjawab dengan gugup. Suara ibu penuh dengan tekanan. Bagaikan penguasa tertinggi sedang menginterogasinya. Reddick menoleh. Dia sendiri terkejut dengan pertanyaan ibu. Karena sebelum masuk ke rumah ini, ibu sudah tahu status mereka. Menikah tanpa cinta.


“Jadi ada banyak kamar tidur di rumah ini, ya ...” Ibu melihat ke sekitar.


“Rumah ini besar, Bu. Jadi tentu saja Lionel punya banyak kamar tidur yang tersedia,” sahut Bellina tidak mengerti kenapa ibu seperti itu. “Ayo, Bu. Kita ke kamar. Sepertinya ibu sudah lelah.”


“Ibu ingin kamar tidur sendiri?” tawar Reddick. Ibu menoleh. Sepertinya pria ini selalu ingin mengabulkan permintaan beliau. Sekarang memang Ibu tidur bersama Bellina karena tidak nyaman harus tidur di kamar sendirian.


“Kamu selalu memperhatikan kalau ibu bicara ya ...,” ujar ibu sambil tersenyum. Beliau merasa senang menantunya selalu mencoba mengerti perkataannya.


“Aku mencoba membuat ibu nyaman tinggal di rumah ini,” kata Reddick jujur.


“Terima kasih, tapi justru ibu tertekan kalau kamu seperti itu, Nak ...” ujar ibu membuat Reddick melebarkan matanya sekilas.

__ADS_1


“Kenapa, Bu?” Reddick heran.


“Ibu sudahh ... Ayo kita ke kamar.” Bellina ingin segera membawa ibunya ke kamar.


“Karena ibu tidak bisa membujuk Bellina untuk menjadi istrimu yang sebenarnya," ujar ibu mengejutkan. Reddick langsung melirik Bellina. Wanita itu melebarkan mata mendengar perkataan ibunya.


"Apa yang ibu katakan?" tanya Bellina tidak lagi mampu menahan bibirnya untuk bertanya.


"Sebaiknya ibu istirahat ke kamar. Ini sudah agak malam. Lebih baik ibu segera istirahat." Reddick tahu cara menyelesaikan pertikaian mereka. Ini membuat ibu tersenyum.


"Ayo, saya antar."


"Tidak. Ibu bisa ke kamar sendiri. Kalian berdua saja tetap di sini," ujar Ibu. Itu artinya dia juga menolak ajakan putrinya. Bellina tidak mengatakan apa-apa. Dia membiarkan ibu berjalan sendiri menuju ke kamar.


"Apa yang sedang kau lakukan Lionel?" tegur Bellina setelah ibu masuk ke kamar. Reddick yang tadinya melihat punggung ibu, kini menoleh pada wanita ini.


"Apa?"

__ADS_1


"Sejak tadi aku perhatikan, kamu begitu peduli pada ibuku. Kamu memberikan semua hal yang di inginkan ibu."


"Bukannya itu baik?"


"Baik?" tanya Bellina mengerutkan keningnya.


"Sebagai menantu, aku sudah seharusnya bersikap baik pada ibu. Apa yang perlu kamu ributkan Bellina?" tanya Reddick tetap tenang.


"Kamu sadar kan, kalau kita ini hanya suami istri palsu. Pura-pura. Jadi aku rasa kamu tidak perlu bersikap baik pada ibuku."


"Mungkin kamu lupa, Bellina." Reddick kini maju beberapa langkah mendekat pada Bellina. Wanita ini terkejut Reddick mendekat padanya.


"K-kenapa kamu mendekat?" tanya Bellina mundur. Wanita ini panik ketika Reddick terus mendesaknya mundur hingga tidak ada lagi jalan lain karena ada dinding di belakangnya.


"Agar kamu ingat. Aku ini mencintaimu, Bellina," ujar Reddick dengan tatap mata


yang dalam. Bellina mengerjap. "Jadi aku akan melakukan apapun untuk membuat ibu yang melahirkan perempuan yang aku cintai senyaman mungkin. Aku akan memberikan perhatian ku agar ibu selalu bahagia tinggal di rumah ini. Seperti yang aku lakukan padamu."

__ADS_1


__ADS_2