
Rumah kembali sepi setelah kepergian ibu yang pulang ke kampung. Tidak banyak yang di lakukan Bellina untuk mengisi hari-harinya. Dia tidak lagi bekerja. Hanya tinggal di rumah saja. Reddick pasti lebih sering berada di kantornya karena ia bekerja. Pun pria itu lebih sering pulang telat karena lebih sibuk seperti biasanya. Bellina juga belum mendapatkan rahasia apa yang di sembunyikan pria itu darinya.
Demi membuat kehidupannya tidak membosankan, Bellina berjalan-jalan sendirian dengan membawa mobilnya. Mungkin ini harta yang ia bawa dari rumah keluarga Wycliff.
Dia menuju ke toko khusus bahan kue. Perempuan ini berniat membuat kue yang bisa di buat camilan sore dan malam hari dengan Lionel.
"Kenapa aku mau membuat kue untuk makan bersama Lionel?" tanya Bellina heran sendiri dengan pemikirannya. "Hhh ..." Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Tidak. Aku hanya ingin membalas kebaikannya. Dia terlalu baik untuk hanya jadi suami pura-pura. Dan ... pria itu makin lama makin menjadi saja rayuannya. Aku tidak mengerti apa yang ia lihat dari aku yang hanya seorang janda?" Bellina mendesah lelah.
Bola mata Bellina menemukan bahan-bahan yang ia butuhkan. Dengan riang, dia memasukkan bahan itu satu persatu ke dalam troli belanjaan. Tidak sengaja, ia menggerakkan kepalanya melihat ke luar jendela. Saat itu ia menemukan seseorang yang membuat napasnya tercekat. Bellina terkesiap.
"Reddick ...," desis Bellina. Tanpa memikirkan hal lain lagi, perempuan ini meninggalkan trolinya dan pergi keluar untuk mengejar pria itu. Di luar toko, kepala Bellina menoleh ke kanan dan kiri. "Kemana dia pergi?" Dengan wajah pias dia berusaha menemukan pria dengan wajah suaminya yang meninggal itu.
Saat itu di seberang jalan, pria itu tengah masuk ke dalam mobil.
"Itu dia." Bellina menemukan pria itu. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan mengikutinya dari belakang. Sempat tertinggal jauh karena laju mobil milik pria itu berjalan agak kencang. Namun ternyata dia di selamatkan oleh takdir. Pria itu tertahan oleh lampu lalu lintas yang berwarna merah. Meski berjarak empat mobil, Bellina masih bisa memantau mobil milik pria itu.
__ADS_1
"Benarkah dia Reddick?" gumam Bellina gelisah. "Oh, aku rindu padamu Reddick." Raut wajah Bellina tampak sedih menanggung rasa rindu yang mendalam.
Lampu lalu lintas berwarna hijau. Bellina siap memegang kemudi untuk mengikuti pria itu. Sungguh keberuntungan tengah memihak padanya. Mobil pria itu selalu dapat di jangkau oleh penglihatannya. Hingga ia tiba di suatu tempat yang entah berada di mana.
"Dimana aku?" tanya Bellina menyadari dia sampai di tempat yang asing. Namun demi mendapatkan pria yang diyakininya adalah Reddick, dia terus saja mengikuti mobil itu. Kini ia menemukan gunung sampah yang begitu tinggi. Bellina tampak mengerjapkan mata melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat sampah banyak sekali secara langsung.
Kelihatannya mobil pria itu tidak pergi jauh. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah dengan keadaan yang sangat sederhana. Rumah papan itu terlihat kokoh. Bellina turun dari mobil. Ia melangkah pelan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencoba memeriksa area sekitar.
Kini matanya tertuju pada mobil lainnya yang terparkir berjajar rapi di samping mobil yang di pakai oleh pria yang berwajah mirip dengan Reddick. Matanya menyipit menyadari mobil itu tidak begitu asing di matanya.
"Tidak mungkin aku mengenal mobil ini. Bukannya ini daerah yang tidak pernah aku datangi? Namun mengapa aku merasa kenal? Siapa pemilik mobil ini?" tanya Bellina seraya menyentuh mobil itu.
Langkahnya menuju ke rumah itu dengan pelan. Dia harus bisa menemukan pria itu. Suara pria itu makin dekat, Bellina yakin itu ada beberapa orang. Suara itu makin jelas terdengar.
"Lalu bagaimana aku bisa masuk ke dalam rumah keluarga mu?" tanya suara dari dalam. Sepertinya mereka akan berjalan keluar. Bellina menunggu mereka keluar dengan gelisah dan was-was. Degup jantungnya pun kencang menunggu momen ia menemukan pria berwajah Reddick itu.
__ADS_1
"Kita akan bicara di apartemen Delv ..." Pria itu melebarkan mata melihat ada perempuan di luar rumah.
Bella terkejut. Bola matanya melebar melihat siapa yang keluar dari dalam rumah itu.
"Lion?" sebut Bellina tidak percaya. Pria yang ada di sebelahnya juga menoleh. Itu Delvin. Bellina tidak menyangka keduanya ada disini. Ia begitu kaget setengah mati melihat mereka berdua. Apalagi ketika pria yang ia yakini adalah Reddick ikut muncul di depannya. Bellina terdiam.
Bola mata Bellina bergetar. Tubuhnya membeku sejenak menyaksikan wajah yang sangat ia rindukan itu. Matanya yang melebar karena terkejut perlahan berkaca-kaca. Tubuh Bellina ikut bergetar. Perlahan ia berjalan mendekat pada Lionel yang memakai tubuh Reddick.
"Reddick," lirih Bellina. Lionel mengerjap menoleh pada Reddick. Ia tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi. Maka dari itu ia meminta bantuan Reddick asli. Kepala Reddick menggeleng. Meminta Lionel tetap berdiri di tempatnya dan membiarkan perempuan melakukan apa yang ingin di lakukannya.
Lionel terpaksa mengikuti permintaan Reddick. Dia diam dengan kaku ketika Bellina memeluknya. "Reddick." Bellina menangis. Atmosfir sekitar mereka menjadi sendu. Reddick membuang muka ke arah lain. Dia tak tahan melihat Bellina memeluk tubuhnya.
Reddick ingin menahan Bellina mendekati Lionel yang memakai tubuhnya. Namun dia harus bisa menahan diri. Bellina akan sangat terluka jika ia menahan perempuan ini mendekat.
Delvin melirik Reddick. Pria ini sejak tadi sudah mengepalkan tangannya. Ingin sekali mencegah Bellina memeluk Lionel. Pemandangan ini sungguh menyesakkan karena dia tahu kisah di balik orang-orang yang ada di depannya.
__ADS_1
Lionel pasrah tubuhnya di peluk oleh Bellina. Demi menghormati Reddick, dia tetap membiarkan tangannya mengambang. Lionel sama sekali tidak membalas pelukan perempuan ini. Sesekali ia melihat ke samping, dimana Reddick dan Delvin berada.
...______...