
Pengakuan mengejutkan dua pria ini kemarin masih menyisakan hal yang janggal di benak Bellina. Sejak itu, Bellina tidak banyak bicara. Dia tetap sibuk memikirkan banyak hal. Bahkan dia memasak pagi ini dengan pikiran kacau. Itu membuat kuah sup di panci meluber tanpa dia ketahui.
"Nona, kuah supnya!" Bibi pelayan segera mendekat setelah memekik barusan.
"Ouh!" teriak Bellina di kejutkan oleh kuah yang tumpah mengenai ujung jarinya.
"Anda tidak apa-apa Nona?" Bibi panik seraya menekan tombol mati pada kompor. Mendengar keributan di dapur, Reddick segera menghampiri dengan segera.
"Ada apa, Bi?" tanya Reddick. Bibi menoleh. Bellina mengerjap memberi kode pada bibi untuk diam.
"Nona, Tuan. Tangannya kena tumpahan sup yang panas," jelas bibi karena merasa tidak baik tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa," bantah Bellina. Namun terlanjur karena bibi sudah mengatakannya. Reddick langsung meraih tangan Bellina. Bibir Bellina hendak mencegah tapi Reddick sudah menahan dengan mencengkeram pergelangan tangan wanita ini.
Reddick memperhatikan dengan seksama. "Terlihat agak melepuh," ujar Reddick.
"Ini tidak begitu parah," ujar Bellina ingin menarik tangannya. Namun Reddick sudah mengunci tangan wanita ini.
"Diamlah," pinta Reddick seraya menarik tangan Bellina dan mendekatkan pada keran air. Pria itu mengguyur tangan Bellina dengan air dingin. "Panggil dokter, Bi."
Bola mata Bellina melebar. "Ini tidak butuh penanganan dokter, Li .. emm Red."
"Panggil sesuka hatimu saja jika masih bingung Bellina. Aku mengerti. Delvin juga seperti itu." Reddick tahu lidah Bellina masih belum terbiasa. Ini saja sudah membuat hati Reddick senang. Itu artinya, Bellina mau mempercayai hal mustahil yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Tuan, dokter keluarga sedang bepergian ke pesta pernikahan saudaranya," ujar Bibi yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Tidak apa-apa, Bi. Aku tidak perlu dokter. Ini hanya luka bakar biasa," ujar Bellina. Bibi menatapku dengan wajah cemas. Lalu beliau melihat ke arah Reddick yang masih memegang tangan Bellina di bawah kucuran air keran.
"Ambil handuk kecil, Bi," perintah Reddick.
"Baik Tuan." Bibi tidak membutuhkan waktu lama karena ada stock handuk kecil yang di letakkan di atas mesin cuci. "Ini Tuan." Bibi menyerahkan handuk berwarna putih itu pada Reddick.
"Tolong bereskan saja bekas tumpahan tadi. Sepertinya aku sudah tidak membutuhkan bantuan Bibi," kata Reddick.
Bibi pelayan mengangguk. Setelah Reddick membasahi handuk itu, dia memakaikan handuk itu untuk membungkus tangan Bellina. Reddick sudah tahu cara perlindungan pertama untuk luka bakar seperti ini.
"Ayo, kamu bisa duduk." Reddick membimbing Bellina menuju kursi. "Pegang dan jangan menggesek sembarangan. Lukanya bisa tambah parah," ujar Reddick. Bellina mengangguk. Perlahan rasa perih mulai terasa. Sepertinya luka bakar ini tidak seringan yang ia duga.
"Iya, Tuan." Bibi mengangguk seraya tersenyum. Beliau tahu itu adalah peringatan untuk Bellina sebenarnya.
"Dia mengatakan itu untukku," gumam Bellina tahu.
"Tuan sangat takut nona mengalami kecelakaan seperti ini lagi. Tuan takut nona terluka. Pasti Tuan sangat menyayangi Nona Bellina," ujar Bibi. Bellina tersenyum tipis. Dadanya mendadak berdebar mendengar itu.
Jika itu memang Reddick, apakah benar dia sekarang menyayanginya? Bukankah Reddick tidak mencintainya?
Setelah Reddick berlalu tadi, kini ia muncul. "Ayo kita ke rumah sakit, Bellina," ujar Reddick.
__ADS_1
"Rumah sakit?"
"Ya. Luka itu lumayan serius. Kamu harus di periksa oleh dokter. Aku sudah membuat janji untuk kamu periksa," kata Reddick sigap. Rupanya pria ini tadi pergi sejenak untuk membuat janji dengan salah satu dokter. Bellina ingin menolak, tapi saat mata Reddick menatapnya dalam, dia panik.
"Ya."
**
Perjalanan menuju rumah sakit terasa panjang. Suasana sepi yang biasanya muncul di dalam mobil, kini terasa menekan Bella. Semua akibat dari pernyataan Delvin dan Lionel. Bellina merasa sangat canggung. Padahal ia begitu menggebu ingin bertemu saat pertama kali melihat wajah Reddick di rumah sakit.
Apa yang di pikirkan Reddick tentangku setelah tinggal bersama? Aku mungkin sangat menyebalkan. Pasti. Karena aku merasa tidak harus bersikap baik pada Lionel. Tidak salah juga karena aku tidak tahu kalau di dalam tubuh itu adalah dia.
Meskipun bicara di dalam hati, Bellina tetap menganggukkan kepalanya. Hingga menarik perhatian Reddick yang mengemudi. Pria itu menoleh. Karena harus fokus pada jalan di depan, Reddick hanya sesekali melihat ke samping.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Ya?" Bellina terkejut. Dia menjawab dengan cepat.
"Apa tanganmu sangat sakit?" tanya Reddick cemas.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Lagi-lagi Bellina menjawab dengan cepat. Reddick sadar. Perempuan ini tengah gugup. Bibirnya tersenyum. Ini sangat menggembirakan. Dia sudah tahu Bellina dengan versi dingin dan tegas, tapi dia tidak pernah tahu Bellina punya sisi seperti ini. Rasanya ini pertama kalinya.
Bellina sempat tahu senyuman Reddick. Dia sadar bahwa dirinya mendadak gugup. Efek mengetahui rahasia yang rumit ini ternyata begitu dahsyat. Bellina tidak mengira.
__ADS_1
..._____...