Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 20 • Setelah rapat


__ADS_3

Reddick melihat wanita ini dengan iba. Hatinya juga sakit melihatnya. Semua ini karena kebodohannya.


 


Meskipun ia pernah bekerja di perusahaan keluarga Wyclif saat menjadi istri Reddick, itu tidak membuat dia mampu berdiri dengan tegak tanpa keraguan. Tubuh wanita ini gemetaran sejak tadi. Dengan memberanikan diri, Reddick menggenggam tangan Bellina sejenak tadi. Hanya ingin memberi ketenangan yang ia sendiri tidak yakin berpengaruh pada wanita ini atau tidak. Bellina tidak menolak.


 


"Mungkin aku terlihat menyedihkan. Aku sendiri yang menyarankan ide ini, tapi aku juga yang ketakutan." Bellina mengatakannya dengan tangan masih gemetaran. Wajahnya nampak masih menyimpan kegugupan karena rapat tadi. Meski tersenyum, itu hanya memancarkan ketakutan yang masih tersisa di wajahya.


 


"Tidak. Kamu cukup hebat tadi. Kamu tampak tangguh dan tenang." Reddick mencoba memberi kata-kata penyemangat.


 


"Jangan bercanda. Tenang? Aku gemetaran di dalam ruangan itu. Di sana terasa sesak." Bellina mengatakan dengan raut wajah ngeri. Reddick paham itu. Namun di tidak harus berkata jujur soal itu sekarang. Bellina butuh kalimat-kalimat penyemangat.


 


"Itu sudah berlalu. Kamu masih bisa bersikap lebih berani daripada tadi di rapat selanjutnya." Reddick meyakinkan.


 


"Apa aku bisa?" tanya Bellina ragu.


 


"Tentu. Tentu kamu bisa. Kamu wanita kuat Bellina. Jangan sia-siakan pengorbanan mu yang telah setuju bersandiwara menikah denganku. Karena aku tahu kamu benci laki-laki seperti ku," tunjuk Reddick.


 


Di luar dugaan, Bellina tergelak pelan.


 


"Ya," sahut Bellina jujur.


 


Dada Reddick berdesir. Ia takjub melihat ada tawa manis dari bibir perempuan ini. Sampai perlu memalingkan wajahnya demi menyembunyikan semburat merah yang ia yakin muncul di wajahnya.


 


Bellina sadar bahwa ia salah untuk jujur sekarang. Itu tidak tepat.


 


"Maaf, Lion. Aku bukan mengejek mu." Bellina terkejut saat Reddick memalingkan wajah setelah gelak tawa ringan barusan.


 


Reddick menghela napas lagi. Lalu berusaha menghadap ke arah Bellina.


 


"Aku tidak merasa kamu mengejekku. Aku cukup tahu diri siapa diriku." Reddick paham sekali siapa Lionel.


 


"Namun yang aku lihat sekarang, kamu tidak seburuk seperti kata orang-orang."


 


"Apa yang kamu lihat sekarang?" tanya Reddick dengan degup jantungnya yang tidak beraturan.


 


"Kamu tidak hanya memikirkan tubuh wanita saja. Buktinya kamu menepati janji untuk membantuku. Kamu tidak ingkar, Lion. Pria sepertimu seringkali bermulut manis di depan, tapi pahit di belakang. Semuanya terpatahkan karena nyatanya ... kamu memang berniat membantuku. Terima kasih."

__ADS_1


 


Ada rasa syukur di mata Bellina.


 


Aku bukan hanya menepati janji Bellina. Aku bersumpah akan melindungi mu. Kehidupan keduaku haruslah untuk dirimu saja. Aku tidak akan pernah meragukan lagi kesetiaan mu. Bahkan aku sanggup mengganti nyawa di kehidupan keduaku ini untuk kebahagiaanmu.


 


...****...


 


Reddick mendatangi resto yang di sebutkan Bellina dalam pesannya. Saat itu ia melihat wanita itu sedang duduk di salah meja yang sudah dipesan. Bibir Bellina tersenyum. Reddick menyukai pemandangan ini, tapi mendadak tatapan menjadi tajam saat ia melihat Bellina tidak sendirian. Ia sedang bersama seorang pria!


 


“Siapa pria itu?” geram Reddick. Saat itu Bellina menoleh padanya. Bibir wanita itu tersenyum lagi. Kali ini padanya. Bibirnya ikut tersenyum membalas.


 


"Oh, Lion. Kamu baru saja datang?”


 


“Kamu pasti lama menungguku.” Bola mata Reddick melirik ke arah pria yang berdiri di dekat meja.


 


“Tidak. Aku tidak lama. Duduklah.” Meskipun Bellina sudah menyuruhnya duduk, Reddick tidak segera duduk. Dia tidak ingin duduk sebelum pria ini menjauh.


 


"Suami kamu?" tanya laki-laki itu pada Bellina.


 


 


"Aku Nathan. Teman sekolah Bellina."


 


Sebenarnya Reddick enggan berjabat tangan, tapi dia ingin berdamai dengan pikirannya sendiri. Akhirnya ia menyambut tangan pria itu. Reddick mencoba bersikap ramah.


 


"Lionel."


 


"Terima kasih sudah berkunjung ke restoran ini. Kalau begitu, aku akan menyediakan pesanan mu, Bellina," kata pria itu. Setelah mengatakan itu, dia pergi.


 


"Menyediakan makanan? Siapa dia?" tanya Reddick dengan dahi mengerut antara tidak suka dan penasaran. Ia mulai duduk mengikuti Bellina.


 


"Chef yang membuat makanan di sini, juga ... pemilik tempat ini," jelas Bellina lengkap. Mendadak Reddick merasa hatinya kelusuh-kelasah.


 


Jika pria tadi adalah chef sekaligus pemilik tempat ini, bukankah kemungkinan Bellina sengaja memilih tempat ini karena pria itu? Oh tidak. Aku tidak bisa tidak berpikir ke arah itu.


 


"Jadi kamu memilih tempat ini karena dia?" tanya Reddick berusaha bersikap wajar. Namun itu tidak mungkin. Pertanyaan Reddick terlalu kentara.

__ADS_1


 


"Tidak. Aku baru mengetahuinya barusan," ujar Bellina meralat. Reddick mengangguk-anggukkan kepala.


 


Meski tidak yakin, ia bersikap seolah percaya seratus persen. Karena tidak percaya pun kemungkinan Bellina tidak peduli. Dengan status suami sandiwara, ia tidak punya hak mengekang Bellina dalam urusan bergaul. Ia harus menyadari itu.


 


... ****...


 


Makanan yang dipilih Bellina datang. Meski tidak terlalu sesuai dengan seleranya, Reddick berusaha memakannya. Namun ternyata si pengantar makanan ini bukanlah pria tadi. Ternyata pria itu menyuruh orang lain untuk mengantarkan makanan. Mungkin karena ada Reddick.


 


"Boss bilang, Anda berdua bisa pesan makanan lain dari menu resto kami secara gratis," kata karyawan ini ramah.


 


"Benarkah?" tanya Bellina tampak antusias.


 


"Ya. Akan saya tulis jika Anda menyebutkannya sekarang. Atau jika masih perlu waktu untuk berpikir menu apa saja yang ingin di pesan, Anda berdua bisa memesan nanti. Kami siap melayani karena Anda teman boss kami," tutur karyawan itu.


 


"Tidak perlu. Kami sudah cukup dengan semua makanan yang pasti enak ini. Bilang saja pada Nathan, terima kasih atas tawarannya," tolak Bellina halus.


 


"Ya. Istriku tidak bisa menghabiskan makanan ini, jadi ia tidak mungkin memesan makanan lain lagi. Terima kasih," ujar Reddick ikut menolak tawaran bagus barusan. Bellina melirik.


 


"Oh, iya. Akan kami sampaikan pesan Anda pada boss kami. Silakan menikmati makanannya." Karyawan itu undur diri.


 


"Kamu sangat akrab dengan Nathan?" tanya Reddick menyelidiki. "Atau kamu tahu dia boss di sini?"


 


"Tidak juga. Hanya saling tahu saja. Aku tidak pernah tahu punya teman yang punya usaha sendiri," kata Bellina.


 


"Tapi pria tadi seakan sudah mengenalmu sangat dekat." Reddick tidak percaya.


 


"Kita teman sekolah. Wajar kalau terlihat dekat. Lalu ... kenapa kamu bertanya tentang itu? Bukankah itu batas wilayah kita masing-masing yang tidak boleh di masuki?" tanya Bellina menyudutkan Reddick.


 


"Oh maaf, jika rasa ingin tahuku memuncak." Reddick beralasan. "Ayo, sebaiknya kita mulai makan siang.” Pengalihan topik segera dilakukan Reddick demi menjaga suasana baik di antara mereka berdua. Dia tidak ingin senyum tadi lenyap.


 


Ternyata masakan di tempat ini enak. Reddick tampak menikmati makanan pilihan wanita ini.


..._______...



 

__ADS_1


 


__ADS_2