Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 7 • Bellina muncul di klub


__ADS_3

Reddick sempat takjub. Bukan karena Lionel di sukai wanita, tapi karena mereka sungguh sedang mencemaskan playboy ini. Mungkin dari luar mereka tampak seperti perempuan brengsek yang mencari mangsa, tapi mereka punya rasa khawatir juga pada Lionel yang sudah akrab. Mungkin itu rasa tulus seorang teman.


 


Namun ada juga beberapa dari mereka yang tidak benar-benar ingin berteman. Mereka ingin di tiduri! Tangan mereka mulai menyentuh tubuh Reddick. Ini membuat pria ini tidak tahan untuk pergi. Namun dia harus bisa bertahan demi dirinya sendiri. Delvin sudah berulang kali merasa aneh dan heran.


 


"Aku sedang lelah. Jadi maaf jika aku mulai sensitif. Tolong singkirkan tangan kalian," ujar Reddick tidak bisa menoleransi tangan-tangan mereka yang menjamah tubuhnya. Mereka sedikit terkejut, tapi karena Reddick mengatakan bahwa ia sedang lelah mereka memaklumi.


 


"Pikirannya sedang kusut hari ini, jadi biarkan saja Lionel." Delvin memberi mereka pengertian. Ia paham sikap aneh pria ini. Jadi ia mencoba membantu melepaskan Reddick dari mereka.


 


Saat itu, di pintu masuk klub Expose, muncullah seorang wanita yang membuat Reddick terkesiap.


 


Bellina.


 


Semua mata memandangnya. Meskipun wajah itu tanpa di sentuh oleh make up yang indah, wajah perempuan itu sudah cukup mewakilkan keindahan itu sendiri. Reddick tidak bisa mengalihkan perhatian dari wanita itu.


 


"Bellina jadi primadona sekarang,” kata Delvin.


 


"Dia memang seorang primadona, hanya saja dia tidak pernah merias diri. Sejak dulu ia seperti itu," ujar Reddick dengan mata memandang Bellina dari sofanya takjub. Delvin menemukan sesuatu.


 


"Aku tahu kamu mulai mendekatinya belakangan ini, tapi ... untuk tahu bahwa dia jarang merias diri ... aku rasa itu aneh. Apalagi kamu tahu dari dulu? Bukannya kamu baru mengenal Bellina?" Kata-kata Delvin memperingatkan dia lagi untuk berhenti banyak bicara.


 


"Aku memang baru mengenalnya,” ralat Reddick.


 


"Oh, ya?" Delvin ragu ia salah dengar. Karena ia yakin pria ini mengatakan sudah lama mengenal Bellina sudah lama.


 


"Aku sudah lama mengenalnya dalam mimpi, puas?" Reddick sengaja mengatakan itu dengan jenaka. Delvin sungguh jeli. Reddick kembali memandang pujaan hatinya itu.


 


Bellina tengah berjalan sendirian ke meja bar. Ini pertama kalinya Reddick tahu bahwa Bellina datang ke klub malam.


 


Aku baru tahu dia suka ke bar. Atau kamu memang seringkali ke tempat seperti ini di belakangku? Maka dari itu kamu bertemu pria brengsek ini dan jatuh cinta? Huh.


 


Lagi-lagi Reddick di luar kendali. Si kacamata ini terus saja bersikap aneh. Itu membuat Delvin mengamatinya.

__ADS_1


 


"Aku pesan cola," ujar Bellina pada bartender.


 


"Tidak mencoba minuman lainnya?" tawar bartender ramah. Bellina menggeleng seraya tersenyum. Bartender menyerah dengan senyuman manis itu. Dia menyediakan satu gelas cola. "Selamat bersenang-senang, nona cantik."


 


"Terima kasih."


 


Sejak tadi Reddick berharap perempuan ini menoleh ke arahnya, dan terkabul! Bellina mengedarkan pandangan dan menemukan dirinya. Bola mata itu terpaku sekilas.


 


"Dia menatapmu?" tanya Delvin.


 


"Sepertinya."


 


"Dia perempuan yang baru-baru saja datang ke sini, Lion." Seorang perempuan bicara soal Bellina. Reddick menoleh cepat.


 


"Siapa yang kau bicarakan?" tanya Reddick.


 


 


Jadi dia sering datang ke klub setelah aku meninggal? Atau dia sebenarnya sudah sering ke klub ini karena ingin bertemu dengan Lionel? Reddick menautkan alis berpikir. Akan aku kabulkan. Aku akan mendekatinya.


 


Reddick bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati meja Bellina. Delvin tidak mencegah, dia hanya memperhatikan.


 


Bartender tersenyum pada Reddick yang menjadi member VIP. Bellina tengah sibuk dengan ponselnya. Tangan satunya juga tengah memegang gelas cola.


 


Tanpa permisi, Reddick mencoba duduk di samping Bellina. Dengan kode, Reddick memesan minuman. Namun bartender itu merasa heran, karena Reddick juga memesan cola.


 


Reddick menatap Bellina dari jarak dekat. Ada rasa kapok di tolak oleh wanita ini. Ia ingin bicara. Karena sikapnya, perempuan itu tahu bahwa ada seseorang yang mengamatinya. Ia terusik. Bola matanya menatap Reddick dan mengerjap. Reddick membiarkan. Dia tidak mengeluarkan satu patah kata pun.


 


"Kamu bukan beralasan aku mengirim pesan padamu dan berjanji untuk bertemu di sini kan?" tanya Bellina seraya melihat ke sekitar. Keinginan Reddick terkabul. Dia ingin bicara, tapi takut di tolak.


 


"Tidak."

__ADS_1


 


"Baguslah. Aku sedang tidak ingin pergi karena harus menghindar darimu." Dengan wajah tidak peduli, Bellina mengatakan itu. Lalu ia menunduk lagi menatap ponselnya.


 


"Kenapa ingin menghindar?" tanya Reddick menyesali mengatakan itu kemudian. Karena Bellina menatapnya tidak suka.


 


"Tentu saja karena aku tidak mau mendengar omong kosong mu," sahut Bellina tegas.


 


"Aku tidak pernah bicara omong kosong. Aku ..." Ia ingat bahwa sekarang ia adalah Lionel. Karena yang tidak pernah bicara omong kosong itu adalah dirinya, Reddick. Bukan tubuh pria yang sedang di tinggali jiwanya sekarang. "Sudahlah ..." Reddick menghentikan pembicaraan yang sia-sia ini.


 


Reddick menghadap ke arah bartender yang menatapnya heran. Di mata pria itu sekarang, seorang Lionel sedang kalah menghadapi wanita. Itu bukan Cassanova yang ia kenal.


 


"Kamu pasti masih kesal denganku saat di cafe itu." Reddick mulai bicara lagi setelah  beberapa menit diam. Bellina tidak peduli. Dia asyik dengan cola dan ponselnya. "Nomormu mengirimi ku pesan untuk menemui mu."


 


"Aku tidak pernah memberikan nomor ponselku sembarangan. Apalagi pria sepertimu." Walaupun terkesan tidak peduli, ternyata Bellina mendengarkannya. Bahkan ia menanggapi kalimatnya.


 


"Bukannya aku adalah kekasih mu?" tanya Reddick membuat Bellina menoleh cepat. Kemudian kedua bola mata indah itu membulat sempurna.


 


"Hentikan. Aku tidak tahu darimana asal pemikiran ide gila mu itu, Lion. Aku bukan orang yang bisa kau sebut kekasih. Aku istri Reddick. Kau paham itu." Bola mata itu meruncing. Menunjukkan sorot mata tajam padanya. “Sepertinya kamu sedang mabuk. Kamu berkhayal.”


 


Namun Reddick tidak terlalu mendengarkan kata-kata lainnya. Dia hanya fokus pada kalimat Bellina yang mengatakan bahwa dia adalah istri Reddick. Ada rasa gembira mendengar Bellina mengakui bahwa dia adalah istrinya.


 


Namun mendadak ia sadar bahwa dia tidak harus terlena begitu saja.


 


"Jangan mengelak, Bellina. Bukankah kamu selalu denganku? Sering menghabiskan waktumu untuk berdua denganku?" desis Reddick membuat bartender di sana melirik ke arah mereka.


 


"Jangan bicara yang aneh-aneh, Lion. Aku tidak pernah dekat denganmu. Sebaiknya kau hati-hati saat bicara tentangku." Bellina kembali marah. Tangannya menunjuk geram pada Reddick.


 


"Aku tidak bicara aneh-aneh, Bellina. Bahkan kau menghabiskan malam-malam panas denganku," imbuh Reddick. Menurut desas-desus yang ia dengar, begitulah Bellina di belakangnya.


 


Plak!


...________...

__ADS_1



__ADS_2