Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 44 • Dia Reddick


__ADS_3

Pertanyaan Bellina membuat mereka bertiga diam. Karena perdebatan tadi, Reddick membuka sendiri tabir kisah di antara dia dan Lionel.


"Aku memanggilnya Reddick karena dia memang Reddick," kata Lionel dengan gayanya sendiri. Reddick hendak memotong kalimat Lionel, tapi urung. Delvin menahan tangan pria ini untuk menghentikan. Kepala Delvin menggeleng. Reddick mengerjap. Sepertinya semuanya akan terungkap sekarang.


Lalu ia melihat ke arah Bellina. Wanita itu tengah memutar otaknya. Berpikir keras apa yang sedang di katakan oleh Lionel.


"Jangan membuatku seperti orang bodoh. Sangat jelas sekali kalau kamu adalah Reddick dan dia Lionel. Kenapa berputar-putar seperti itu?" tanya Bellina kesal.


"Aku juga tidak ingin terlihat bodoh Bellina. Meski kamu mengatakan aku ini pria yang memuakkan, tapi aku juga tahu siapa yang Reddick dan siapa Lionel yang asli. Aku tidak akan membuat diriku juga tampak bodoh dengan memanggilnya sebagai Reddick kalau itu bukan dia," tunjuk Lionel pada Reddick di sebelah Bellina.


Perempuan ini melihat ke samping. Reddick diam seraya ikut menatap perempuan ini. Pandangan mereka beradu. Bellina mengerjap lalu menggelengkan kepala pelan. Dia tidak mungkin percaya begitu saja jika pria di sampingnya ini adalah Reddick.


"Kamu terlalu membenciku, Red. Hingga kamu mengatakan hal mustahil seperti ini," kata Bellina terluka. Lionel menggaruk tengkuknya, kebingungan. Bukan membuat Bellina tenang, pria ini justru membuat luka yang kentara pada hatinya. Ingin rasanya Reddick langsung merengkuh tubuh perempuan ini tidak peduli bagaimana ia meresponnya nanti.


"Dia memang Reddick, Bellina," ujar Delvin mulai membuka suara. Perdebatan ini tidak akan usai karena banyak hal mustahil yang tidak mudah di terima oleh akal. Delvin adalah satu-satunya orang yang berada di tengah perpindahan jiwa ini. Namun dia bisa percaya dan yakin kalau kedua pria itu adalah bukti bahwa ada hal mustahil yang ada di sekitar kita.


Bellina menoleh ke pria itu dengan dingin. "Kamu juga ikut berpikir tidak logis seperti mereka?"


"Sayangnya iya. Namun apa yang dia katakan adalah benar. Kamu bisa melihat sendiri keanehan yang terjadi pada tubuh Reddick. Dia sudah mati tapi kini hidup lagi. Bukankah itu sudah mustahil? Namun ada hal yang lebih mustahil lagi." Atmosfir di dalam kamar makin berat ketika Delvin yang jarang bermain-main dengan perkataannya mulai bicara. "Jiwa mereka tertukar, Bellina. Tubuh Reddick berisi jiwa Lionel, sementara tubuh Lionel ... berisi jiwa Reddick suami kamu," ujar Delvin menjelaskan.


Dada Reddick berdegup mendengar kalimat itu akhirnya keluar. Lionel tampak tenang saja karena sebenarnya dia juga lega kalau kenyataan ini terkuak. Dia tidak mau Bellina terus saja memaksa dirinya untuk mendekat. Karena dia sama sekali tidak tertarik dengan perempuan dingin dan tegas ini. Apalagi ... dia tidak harus melukai dua manusia ini.


Bellina mengerjap. Dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Delvin barusan. Namun dia tidak langsung memasukkannya dalam hati. "Kamu paham apa yang kamu katakan barusan Delvin?" tanya Bellina masih tidak percaya. Ia pikir Delvin keliru saat bicara tadi.

__ADS_1


"Ya."


"Ini terdengar konyol Delvin." Wajah Bellina mengeras. Dia berusaha menasehati.


"Mungkin, tapi maaf Bellina, kenyataannya seperti itu. Sama seperti yang Lionel katakan." Delvin menunjuk Lionel. "Aku tidak akan mengatakannya juga jika yang aku bicarakan ini salah. Aku percaya pada mereka."


Delvin memang jarang sekali bicara ngawur seperti Lionel. Bahkan Bellina yang baru saja mengenalnya, paham soal itu.


"Kamu harus percaya kalau pria yang tinggal seatap denganmu itu adalah suami mu sendiri. Dia Reddick yang asli," ungkap Delvin membuat Bellina menoleh lagi pada Reddick yang ada di sampingnya dengan perlahan. Bola mata membulat tidak percaya.


Lionel ikut melirik Reddick. Dia ingin tahu apa yang akan di katakan pria itu. Bibir Reddick bungkam. Dia ingin bicara, tapi takut akan membuat perempuan ini makin kebingungan. Jadi dia membiarkan perempuan itu menelisiknya dengan bola mata yang lebar miliknya.


Dua mata Bellina benar-benar memperhatikannya.


"Tidak menunggu ..."


"Tidak ada yang perlu di tunggu. Lebih baik tinggalkan mereka berdua," ujar Delvin terpaksa menyeret lengan pria ini untuk keluar dari kamar. Kepala Lionel masih sesekali menoleh ke belakang untuk melihat pada Reddick. Ia ingin tahu kelanjutan cerita mereka.


"Kamu tidak ingin tahu bagaimana kisah mereka?"


"Tidak. Aku tidak perlu tahu karena itu bukan urusanku. Lagipula kita akan tahu sendiri kelanjutannya jika drama ini sudah selesai." Delvin menjawab dengan santai tapi tegas.


Lionel berdecih pelan karena tidak bisa em menyaksikan langsung apa yang akan terjadi pada Reddick dan Bellina.

__ADS_1


Suasana di kamar menjadi aneh ketika mereka hanya berdua saja. Reddick menghela napas. Wanita ini tetap melihatnya dengan tatapan aneh dan tidak bisa di pahami. Reddick memahami itu. Mungkin otak Bellina tengah bertempur dengan logika. Bagaimana mungkin jiwa mereka tertukar?


"Duduklah Bellina," pinta Reddick. Mendengar suara pria ini setelah perkataan Delvin tadi, membuat Bellina merasa aneh. Dia mengerjapkan matanya. Meski bingung, Bellina patuh mengikuti permintaan pria ini.


Bellina akhirnya duduk di pinggir ranjang. Dia termangu. Perlahan dia mendongak melihat Reddick. Tatapan itu masih menunjukkan ketidakpercayaannya.


"Semua ini memang tidak bisa di pikir dengan logika Bellina," ucap Reddick lembut.


"Kalau begitu aku sudah gila," ujar Bellina seraya masih tidak bisa mempercayai ini.


"Hmmm ... " Reddick tanpa sadar tergelak pelan. Bellina menatap pria ini heran. "Maaf." Reddick mengatakannya dengan lembut. "Kamu tidak gila, Bellina. Karena bukan hanya kamu yang kebingungan dengan kenyataan ini. Kamu tidak sendirian. Delvin juga sama sepertimu."


"Jadi menurutmu aku harus senang karena punya teman yang kebingungan juga?" tanya Bellina yang tampak menggemaskan di mata Reddick. Pria ini tersenyum lagi. Bellina menghela napas. Dia sadar kalau pertanyaannya begitu menggelikan. Namun dia tidak bisa berpikir dengan benar lagi soal ini.


"Awalnya memang sulit, tapi seperti Delvin. Dia akhirnya percaya bahwa aku adalah Reddick."


"Aku tidak tahu, aku harus percaya atau tidak." Bellina tidak mengerti. Reddick paham itu. "Jika kamu adalah Reddick, pikiranku juga ingin menolak."


"Ya. Tubuhku adalah milik Lionel." Reddick sadar itu.


"Benar. Juga ... Kamu tidak mungkin pria yang sama, karena saat ini dirimu sangat berbeda dengan Reddick yang dulu." Saat mengatakan ini, Bella mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Aku masih sama. Aku Reddick yang dulu, Bellina." Pria ini berusaha meyakinkan hingga seperti sedang memohon. Bellina hanya diam.

__ADS_1


...____...


__ADS_2