
"Bukankah mereka juga tengah mempermainkan aku?" Untung saja Reddick punya jawaban untuk pertanyaan perempuan ini.
"Mempermainkan?" tanya Bellina tidak mengerti.
"Engg ... " Ibu bergumam. Sepertinya obrolan mereka mengganggu tidur lelap ibu. Bellina bangkit dari duduknya dan mendekat ke ranjang. Kotak makanan tadi, ia letakkan di kursi tempat ia duduk tadi.
"Bellina di sini," kata Bellina menunjukkan keberadaannya pada ibu. Kelopak mata ibu bergetar. Seakan sangat sulit untuk membuka mata. Namun setelah di paksakan, ibu berhasil membuka mata.
"Bell ...." Suara ibu lemah. Reddick meletakkan kotak makanan di kursi dan meneguk minuman. Ia juga ikut menghampiri kursi meja.
"Iya Ibu. Ini Bellina." Dengan suara lembut Bellina menjawab. Ibu tersenyum lemah. Kemudian mendongak dan menatap Reddick yang berdiri di samping putrinya. Bibir beliau tersenyum di paksakan lagi. Padahal beliau terlihat masih lemah.
"Maafkan ibu merepotkan kalian."
"Aku tidak kerepotan. Jangan berkata seperti itu, Ibu." Bellina tampak kesal dan sedih mendengar ibu mengatakan demikian.
"Bahkan aku merepotkan menantu ibu. Padahal ini pertama kalinya kita bertemu," sesal ibu.
"Ibu. Sudahlah," pinta Bellina.
"Tidak apa-apa, Ibu. Saya tidak merasa repot karena itu adalah kewajiban saya. Ibu Bellina adalah ibu saya juga. Jadi saya mohon, ibu tidak sungkan lagi pada saya," kata Reddick membuat senyum ibu merekah. Meskipun tersamarkan oleh rasa lelah dan sakit, tampak dari mata beliau terharu dengan kalimat Reddick.
"Terima kasih," ucap Ibu tulus.
Bellina yang sejak tadi tidak menoleh sama sekali pada Reddick, terdiam. Ada sesuatu yang hangat melewati relung hatinya. Rasa aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan pada Reddick sekalipun. Ini membuat Bellina enggan ikut menanggapi. Karena ia merasa malu. Mengapa ia harus merasa seperti itu pada pria lain, bukan pada suaminya Reddick.
Brak! Pintu terbuka dengan keras. Seorang pria berumur di bawah Bellina, muncul dengan wajah panik dan cemas.
"Bibi! Bibi Arbila!" teriaknya kalut seraya mendekat pada ranjang. Bellina berdiri karena terkejut. Melihat pria itu datang dan mendekat dengan serampangan ke ranjang, spontan Reddick menarik tubuh Bellina dan mendekapnya. Hingga tubuh itu berdiri tepat di sampingnya dengan aman. "Bibi tidak apa-apa?" tanya pria itu cemas.
"Tentu saja, Rio," sahut ibu Bellina masih lemah.
Sementara itu, tangan pria ini tengah mengunci gerakan Bellina untuk tidak banyak gerak. Itu membuat Bellina kesulitan untuk langsung lepas dari pegangan tangan Reddick. Dia yang tepat berada di samping sisi kanan Reddick kini mendongak.
__ADS_1
Bola mata Bellina berkedip. Sudut pandang ini sungguh tidak bisa baginya. Karena tidak pernah ada di dalam bayangannya, kalau dia harus berada tepat di bawah dagu pria ini.
Rahang Reddick sungguh tegas. Dengan jambang tipis yang tumbuh mulai wajah di samping telinga, sampai ada di ujung dagu, itu membuat pesona Casanova ini makin manly. Suatu pemandangan yang sangat unik untuk di lihatnya pertama kali.
Awalnya Reddick tidak menyadari jika ada wanita yang sedang memperhatikannya. Namun saat ia menundukkan pandangan, wajah Bellina tengah mendongak. Bola mata itu menatapnya.
Seketika Bellina langsung menundukkan pandangan. Itu membuat Reddick paham kalau dia harus melepaskan tubuh wanita ini.
"Maaf." Reddick melepaskan tangannya dari lengan Bellina. Sementara itu pria yang tadi muncul, menoleh pada mereka berdua.
"Siapa dia, Bell?" tanya pria itu menunjuk Reddick dengan tatapannya.
"Dia suamiku," jawab Bellina.
"Suami? Bukankah suami kamu itu adalah pria berkacamata dan terlihat cupu itu?" tanya pria itu membicarakan Reddick. Bellina hanya tersenyum tipis. Kurang bersemangat menjelaskan pada pria ini.
Siapa dia? Reddick kembali memakai otaknya untuk berpikir keras. Lagi-lagi dia tidak mengerti siapa lelaki ini.
"Jangan membicarakan orang yang mati dengan buruk begitu, Rio." Bellina memberi nasehat. Bagaimanapun Reddick suaminya. Dia tentu tidak setuju ada orang lain mengatakan buruk tentangnya.
"Entah kenapa kamu tidak kesal dengan sikapnya. Aku saja kesal meskipun tidak pernah bertemu dengannya. Kalau dia tidak mencintaimu, seharusnya menolak saat di suruh menikah denganmu. Bukan mengiyakan tapi mengabaikan. Itu sangat egois Bell." Rio tampak marah.
"Dia sudah mati. Dia sudah tidak lagi di dunia ini. Apalagi yang harus aku benci dari dia? Tidak ada." Bellina berusaha membela Reddick mati-matian. Reddick bungkam dan membeku karena semua kata-kata pria ini benar. Namun siapa dia berhak mengatakan itu?
"Rio ...," panggil Ibu.
"Iya, Bi ..." Pria bernama Rio itu menoleh pada ibu yang sempat di abaikan karena dia ingin marah.
"Jangan menekan Bellina. Dia sudah menderita kehilangan suaminya. Jika kamu mengatakan semua hal buruk tentang suami Bellina, kamu sudah menyakiti juga." Ibu memberi nasehat dengan suara lemah.
"Maafkan aku Bi. Aku hanya cemas pada Bellina." Rio melirik ke arah Bellina kemudian Reddick.
__ADS_1
"Lagipula sekarang ada suami Bellina yang baru. Malu ... kalau harus berdebat tentang orang yang sudah meninggal. Maafkan putra ibu," kata ibu pada Reddick.
"Tidak apa-apa," sahut Reddick. Putra? Dia adik Bellina? Lalu kenapa memanggil bibi?
...***...
Bellina ijin bicara di luar dengan Rio. Ini membuat dirinya tidak nyaman. Namun apa daya, pernikahan mereka palsu. Bellina tidak bisa di kekang. Dia tidak punya wewenang penuh untuk melarang.
Apa yang di bicarakan Bellina dengan pria itu?
Ibu kembali tidur setelah dokter menyuntikkan obat di tubuhnya. Reddick mondar-mandir di dalam ruang perawatan. Dia cemas Bellina tidak kunjung kembali.
Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka bicarakan. Kenapa aku tidak tenang?
Dering ponsel miliknya mengejutkan. Reddick segera mengambil ponsel di sakunya. Ternyata itu Delvin.
"Ya, Delvin ada apa?"
"Kamu ada di mana? Aku ke apartemen kamu dan ternyata kosong. Sejak tadi aku membunyikan bel."
"Oh, maafkan aku Delvin. Aku sedang ke rumah orangtua Bellina."
"Orangtua? Kamu akan mengganti status palsu menjadi resmi, Lion?" tanya Delvin setengah bergurau.
"Jika memungkinkan, aku mau begitu. Namun nyatanya tidak. Bellina tetap menganggap pernikahan kita palsu," kata Reddick. Delvin mendengar ada nada sedih di sana. Ia yakin Reddick mengatakan kalimat barusan dengan wajah muram.
"Pasti ada hal seru di sana. Kamu terdengar bersemangat pergi ke rumah keluarga Bellina." Delvin mengganti topik.
"Ya. Ada banyak hal yang baru aku ketahui soal Bellina. Ternyata dia bukan anak kandung sekretaris papa. Dia juga tinggal di tempat yang baru aku ketahui. Banyak hal yang baru aku tahu sekarang, Delvin. Padahal aku ini suaminya." Reddick emosional saat mengatakannya.
Sekretaris papa? Apa yang dibicarakannya? Delvin mengerutkan kening.
..._____...
__ADS_1