Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 37 • Sebuah alamat


__ADS_3

Alamat? Reddick menerima kertas yang di berikan Delvin dengan kening mengerut. Keduanya saling pandang.


Bruk! Reddick menghempaskan pantatnya di atas sofa. Lalu meletakkan kertas itu di atas meja. Sejenak ia memikirkan hal lain. Lalu menatap Delvin.


"Bagaimana denganmu?" tanya Reddick menyadari bahwa ada yang terluka karena pertemuan ini.


"Aku? Kenapa?" tanya Delvin seraya meraih kertas itu. Dia menoleh hanya sekilas, lalu kembali menatap kertas di tangannya.


"Orang yang seharusnya paling di kenal Lionel adalah kamu, tapi ternyata dia justru tidak mengingatmu."


"Hmm ..."


"Aku tahu kamu pasti kecewa." Reddick tahu benar bahwa hubungan mereka begitu erat.


"Mungkin ada suatu hal yang membuat Lionel tidak bisa mengenalku, Red. Aku hanya perlu percaya ada penjelasan soal itu." Delvin berkata dengan mencoba santai. Reddick tidak membahas lagi.


"Bagaimana dengan alamat itu? Apa maksudnya dia memberikan itu?" tanya Reddick.


"Mungkin dia ingin kita mencari tahu bagaimana kehidupan dia yang sekarang. Sejak tadi dia terus saja mengatakan kamu lebih beruntung daripada dia. Ada suatu hal yang akan menjelaskan bagaimana dia menjalani kehidupan seorang Reddick." Delvin menyimpulkan.


"Sepertinya itu tepat. Jadi kapan kita akan mencari alamat itu?"


"Sekarang juga, kita bisa mencarinya." Delvin serius mengatakan itu. Sepertinya pria ini ingin tahu keadaan Lionel lebih cepat. Dia cemas. "Namun sepertinya jangan terlalu gegabah ya ... Mungkin saja hari ini bukan hari yang baik." Delvin berubah pikiran.


"Boleh saja jika kamu ingin tahu tentang Lionel."


"Tidak perlu. Kita punya banyak pekerjaan." Delvin berdiri mengambil tablet dan mulai memasang wajah seorang sekretaris yang kompeten. Lalu membacakan jadwal Reddick hari ini.


***


Karena Lionel tidak kunjung muncul, Reddick berangkat menuju alamat yang pria itu beri. Dia tidak sendiri, ada Delvin di sampingnya mengemudi.


"Kamu sudah meminta orang-orang mu untuk menjaga Bellina dan ibunya?" tanya Reddick seraya melihat ponselnya.


"Ya. Jangan khawatir."

__ADS_1


"Maaf Delvin. Meskipun perjalanan kita hanya di tempuh satu jam, aku cemas jika tidak yakin bahwa penjagaan pada istri dan mertuaku aman."


"Aku mengerti." Delvin paham Reddick begitu mencintai istrinya.


"Terima kasih. Lalu bagaimana kamu bersikap ketika tahu kehidupan Lionel nanti."


"Aku masih belum tahu," jawab Delvin seakan membahas ini membuatnya sedih.


"Aku yakin pasti karena suatu hal dia tidak bisa mengingat tentang dirimu. Karena jika kondisi kita sama, seharusnya dia bisa mengingat semua hal saat dia menjadi Lionel dulu meski sudah masuk ke dalam tubuh Reddick," ujar Red menjelaskan. Delvin hanya tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam-an, Delvin sampai pada sebuah kampung yang ada di pinggiran kota.


"Apakah benar tempat ini?" tanya Reddick ragu. Delvin diam seraya melihat ke sekitar.


"Jika alamat yang di tulis itu benar, tempat inilah yang di maksud," ujar Delvin yakin. "Sebaiknya kita langsung untuk memastikan."


"Ya, sebaiknya kita bertanya pada orang-orang," kata Reddick setuju. Mereka turun dan mendekati warung yang ada di pinggir jalan. Delvin mendekat lebih dulu.


"Permisi." Semua orang yang ada di dalam warung menoleh hampir bersamaan.


"Saya mau tanya. Apa alamat ini benar di sini?" tanya Delvin seraya menyodorkan kertas yang berisikan alamat yang di tulis oleh Lionel pada pria tua itu. Semua ikut melihat pada kertas yang di bawa Delvin.


"Ya. Ini memang daerah sini." Pria tua itu mengangguk yakin setelah membaca alamat itu.


"Ya. Ini alamat yang ada di kertas ini," ujar Delvin pada Reddick.


"Jadi ... apa kalian kenal dengan pria ini?" Kini giliran Reddick yang menunjukkan sebuah foto wajah dirinya pada mereka. Semua melongok ke arah foto yang ada di dalam ponsel Reddick. Dia mendapatkan foto itu dari ponsel Bella. Ya, Reddick mencurinya dari istrinya.


Mereka menggeleng. Ternyata tidak ada yang mengenal wajah Reddick. Delvin dan Reddick berencana keluar dari sana. Ketika itu ada seorang pria bertubuh besar masuk ke dalam warung. Dia melihat Reddick yang masih belum memasukkan ponsel yang berisikan foto dirinya hingga pria ini melihatnya.


"Hei, kenapa kamu memegang foto harold? Apa kalian ini keluarganya?" tanya pria itu membuat Delvin dan Reddick menoleh dengan cepat.


"Anda mengenal pria ini?" tanya Reddick.


"Ya. Kalian bukan orang jahat yang ingin mencelakainya bukan?" tanya pria besar itu ragu.

__ADS_1


"Bukan, kami adalah temannya, " sahut Delvin.


"Teman?" Pria itu memandang Delvin dan Reddick bergantian. Seakan ingin mencari tahu sendiri bagaimana kedua pria di depannya ini sebenarnya.


"Jadi Anda mengenal pria yang ada di dalam foto ini?" tanya Delvin menggebu.


"Ya."


"Bisa antar kami tempat pria ini?" tanya Reddick yang menahan diri untuk tidak gegabah.


"Apa itu penting?"


"Pertemuan kita dengan pria yang ada di dalam foto ini sangat penting. Ini bagaikan pertaruhan hidup dan mati," ujar Reddick serius. Pria tua ini diam.


"Baiklah kalau begitu. Ayo, kalian ikut denganku." Pria itu mengajak mereka berdua keluar dari sana. Dengan mengikuti pria itu, mereka tiba di tempat dimana tepatnya alamat itu berada.


Reddick dan Delvin mengerjap ketika melihat sebuah gunung yang jarang mereka lihat, yaitu gunung sampah. Kening mereka mengerut ketika angin bertiup agak kencang. Aroma sampah yang mengudara membuat mereka terpaksa menutup hidung dengan cepat.


"Kalian pasti tidak terbiasa dengan aroma ini." Pria bertubuh besar itu tersenyum. Reddick dan Delvin mengakui bahwa ini pertama kalinya mereka melihat gunung sampah setinggi ini. Mereka tidak tersinggung melihat reaksi pria itu.


Lalu mereka berjalan memasuki halaman sebuah rumah yang terbuat dari papan yang tersusun rapi.


"Apa pria yang kami cari ada di sini?" tanya Reddick.


"Ya. Harold tinggal di sini," ujar pria itu. Delvin dan Reddick saling pandang. Meski nama yang pria itu sebut terdengar asing, tapi mereka yakin kalau itu adalah Reddick. Mereka masuk ke dalam rumah mengikuti pria itu.


"Siapa?" tanya seorang ibu tua renta muncul dari balik tirai yang memisahkan antar ruangan.


"Mereka teman Harold, Bu," ujar pria ini. Reddick dan Delvin tertegun. Bola mata ibu tua itu melihat ke arah mereka berdua. Delvin yang tahu siapa Lionel berulangkali mendapat kejutan. Siapa mereka?


"Oh, iya? Silakan duduk." Ibu itu mempersilakan mereka duduk pada kursi yang di buat dari ban mobil bekas. Terdapat banyak barang lainnya yang di buat dari sampah yang di daur ulang. Sepertinya mereka memanfaatkan dengan benar sampah yang ada. "Harold masih keluar. Sebentar lagi juga pulang."


Sebenarnya siapa mereka ini? Kenapa Lionel tinggal dengan mereka?


...______...

__ADS_1


__ADS_2