
Reddick keluar dari rumah sakit dengan Bellina. Delvin hendak mengatakan kalau ia melihat tubuh Reddick yang asli muncul, tapi ia urung melihat raut wajah Bellina yang sendu. Sepertinya keadaan tidak baik di dalam.
"Semua aman, Delvin?" tanya Reddick setelah berdiri di dekat pria ini.
"Ya," sahut Delvin cepat. Bellina masuk ke dalam mobil setelah mengubah raut wajahnya dengan ekspresi normal seperti tidak terjadi apa-apa. Sepertinya dia tidak ingin ibu tahu ada apa dengannya barusan. Dia wanita yang baik, batin Delvin melihat apa yang Bellina lakukan. Lalu mereka segera meluncur menuju apartemen Reddick.
...***...
Siang ini di kantor. Delvin berpikir keras soal tubuh Reddick yang ia lihat di rumah sakit.
"Mungkin itu adalah Reddick yang asli. Lalu Lionel ini adalah Lionel yang asli, tapi tidak mungkin Lionel berubah kalau memang bukan berisi jiwa orang lain. Tapi tidak mungkin itu Reddick yang asli karena dia sudah meninggal. Arggg, rumit!" teriak Delvin kesal. "Lebih baik aku memang bicara dengan Li, ah ... aku lupa lagi. Aku harus bicara dengan Reddick." Delvin merasa lidahnya sungguh tidak bisa di ajak kompromi.
Tidak lama pintu ruangannya dibuka seseorang. Itu adalah pria yang membuatnya pusing, Reddick.
"Ada apa, Delvin? Ada informasi dari keluarga Wycliff?" tanya Reddick yang kemudian duduk di sofa.
"Tidak. Aku ingin bicara panjang lebar."
"Itu mengherankan. Kamu bukan tipe pria yang banyak bicara jika itu bukan suatu hal penting. Apa berarti ini adalah hal penting?" tanya Reddick.
"Ya. Aku rasa apa yang aku bicarakan adalah hal penting." Delvin berjalan mendekat ke sofa. Kemudian duduk dan menghela napas.
"Itu pasti hal penting dan rumit. Kamu menghela napas lelah barusan," kata Reddick.
"Ya. Mungkin aku sudah gila, tapi aku harus bicara denganmu," kata Delvin membuat suasana tegang. Reddick menoleh pada pria ini. "Aku melihat tubuh Reddick di rumah sakit."
"Reddick?!" seru Reddick terperangah kaget. "Kamu juga melihatnya?"
__ADS_1
"Kamu juga? Apa kamu juga sudah melihat tubuhmu sendiri?" tanya Delvin sungguh aneh mengatakannya.
"Bukan aku, tapi Bellina. Dia berteriak dengan wajah kalut saat melihat pria yang mirip denganku," jelas Reddick.
"Kamu percaya kalau aku juga melihat tubuh Reddick?"
"Ya. Kenapa aku tidak percaya? Padahal aku sendiri seperti ini," ujar Reddick yakin.
"Berarti aku tidak salah. Untung saja. Aku pikir aku menjadi gila sudah berhalusinasi karena harus memaksa otakku untuk meyakini kamu adalah Reddick Wycliff meskipun tubuh kamu adalah Lionel." Delvin melebarkan mata lega. "Jadi siapa sebenarnya yang aku lihat di rumah sakit itu? Reddick asli atau bagaimana? Karena bukannya kamu tahu ... bahwa Reddick asli itu mati."
"Atau mungkin saja tidak."
"Kenapa tidak?" tanya Delvin mengernyitkan kening.
"Dengan adanya jiwaku yang terperangkap dalam keadaan yang mustahil ini, aku yakin jiwa Lionel juga pasti mengalami keadaan yang sama sepertiku."
"Ya, kemungkinan di dalam tubuhku ada jiwa Lionel. Entah bagaimana, mungkin tubuhku tidak mati. Orang asing yang mengurungku dalam tubuh Lionel yang sekarang pasti juga melakukan hal yang sama pada Lionel," jelas Reddick.
"Orang asing? Apa maksudmu?" tanya Delvin. Suasana masih diliputi rasa ngeri.
"Aku pernah bilang padamu tentang kehidupan kedua. Dalam perjalanan jiwaku sebelum masuk ke dalam tubuh Lionel, sesuatu yang asing itu memberitahuku bahwa aku sedang di hukum karena bunuh diri," jelas Reddick dengan sorot mata sedih.
Delvin mengerti itu. Dia juga mendengar kematian Reddick adalah bunuh diri.
"Karena aku menyalahi aturan alam dengan membunuh diriku sendiri, aku di hukum menjadi orang yang selama ini paling ku benci. Dia Lionel. Aku juga sudah memberitahumu kalau Agatha membuat skenario tentang istriku Bellina dan Lionel, bahwa mereka adalah pasangan selingkuh. Mungkin karena rasa benciku yang besar, aku di pertemukan lagi dengan Lionel dan Bellina yang ternyata tidak pernah berselingkuh." Reddick mengingat lagi tentang takdirnya.
"Jadi menurutmu tubuh Reddick itu berisi jiwa Lionel?"
"Kemungkinan iya. Tinggal kita mencoba memastikan sendiri saja," kata Reddick.
__ADS_1
"Ini akan semakin rumit Red. Entah apa yang aku lakukan di masa lalu, aku yang tidak tahu apa-apa tenyata di pilih takdir untuk ikut terjerumus dalam keadaan kamu yang rumit. Aku harus mempercayai hal mustahil yang membuat frustasi." Delvin tidak percaya dirinya membicarakan hal yang aneh dan mustahil seperti sekarang.
"Maafkan aku." Reddick melihat pria ini frustasi dengan keadaan yang membingungkan ini. Delvin melihat pria di depannya.
"Tidak apa. Kamu juga pasti juga frustasi dengan keadaanmu." Delvin mengerti.
"Mungkin kamu di pilih takdir untuk menemani ku karena dulu aku juga menginginkan mu."
"Menginginkanku?" tanya Delvin tidak mengerti.
"Daripada seorang Lionel, aku lebih percaya kalau kamu yang bisa menjalankan perusahaan milik Casanova itu. Menurutku, kamulah otak dari semua kejayaan Lionel. Ternyata itu semua terbukti benar. Memang kamu lah yang selama ini jadi orang di balik perusahaan ini," kata Reddick dengan wajah takjub pada Delvin.
"Ah, itu tidak seberapa. Aku hanya pria miskin yang merasa harus balas budi karena sudah di tolong dari kemiskinan juga kehinaan. Aku melakukannya karena terpaksa. Bukan karena aku baik." Delvin merendah diri.
"Apapun itu, aku ingin orang seperti kamu Delvin. Aku takjub dengan keahlian mu. Kamu bisa jadi rekan, bisa juga jadi kawan. Sayang aku tidak menemukan di Wycliff. Hingga aku berjuang sendiri dalam segala hal." Reddick tersenyum pedih. Delvin menangkap itu.
"Kita sudah jadi kawan, Red. Buktinya aku mencoba percaya pada cerita mu yang tidak masuk akal itu. Kamu bisa mengandalkan aku," kata Delvin membuat Reddick terharu.
"Benarkah? Terima kasih, kawan. Sepertinya hukuman ini sengaja di buat untukku untuk membuka mata. Bahwa aku juga perlu membuka hati jika ingin mendapat orang sepertimu."
"Ya. Sama-sama." Delvin tersenyum tulus. "Lalu bagaimana kita akan membuktikan kalau Reddick yang aku lihat di rumah sakit memang tubuhmu, bukan orang yang hanya punya wajah mirip?" tanya Delvin.
Ponsel Reddick berdering. Reddick mengalihkan pandangan ke arah ponselnya. Ia melihat ke layar ponsel. Wajah Reddick langsung berubah senang.
“Ya, Bellina,” ujar Reddick setelah mendekatkan ponsel ke telinganya. Delvin tersenyum. Dia sudah menduga kalau yang menelepon adalah wanita itu. Bellina.
Mungkin kamu hidup lagi karena cintamu sangat kuat pada Bellina. Takdir sengaja membuatmu tahu bahwa cintamu pada wanita itu tidak salah. Mungkin juga sebaliknya. Cinta Bellina lah yang kuat. Hingga kesalahpahaman yang terjadi terkuak di antara kalian menemukan titik terang dengan kehidupan kedua ini.
Jika orang asing yang Reddick bilang, mengatakan kalau dia akan di hukum, apakah masih ada hukuman lainnya yang akan menimpa Reddick? Apakah tujuan aku masuk dalam barisan orang yang percaya takdir aneh itu adalah memang untuk membantunya? Hhh ... Terserah. Dia bukan pria jahat. Jadi tidak salah aku membantunya.
..._______...
__ADS_1