
Bellina membuka mata perlahan. Ia merasa di tempat yang tidak asing, tapi jika di ingat lagi terakhir dia berada dimana, ini sungguh aneh. Kepala Bellina melihat ke samping. Dia yakin sekarang ada di dalam rumah Lionel. Dan dia yakin sedang berbaring di atas ranjang miliknya.
"Apa aku bermimpi? Apa pria dengan wajah Reddick itu hanya sebuah mimpi?" tanya Bellina mengambil kesimpulan sendiri. "Oh, aku sakit kepala." Bellina memegang kepalanya. Rasa sakit itu makin terasa saat dia akan bangun dari tidur.
Klek! Pintu kamar terbuka. "Kamu sudah bangun, Bellina?" Reddick muncul.
"Ini di kamarku?" tanya Bellina tidak percaya.
"Ya." Pria ini mendekat ke ranjang.
"Kenapa aku di sini? Seingat ku, aku sedang ... Aku menemukannya Lionel, aku menemukan Reddick!" seru Bellina mata berbinar. Dia ingat kalau dia sudah menemukan pria berwajah Reddick. "Dimana Reddick? Dimana pria itu? Dimana suamiku?" tanya Bellina beruntun.
Reddick diam.
"Aku bukan bermimpi kan? Aku sungguh-sungguh menemukannya. Bahkan kamu ada di sana. Di gunung sampah itu, kamu juga melihat dia." Bellina mengatakannya dengan menggebu.
"Ya," sahut Reddick singkat.
"Aku ingin bertemu dengannya, Lionel. Aku ingin bertemu dengan suamiku." Bellina mencoba bangkit lagi dari tidurnya. Rasa sakit di kepala kembali menyerang. Ini membuat tubuhnya limbung dan jatuh dalam lengan Lionel yang menangkapnya.
"Kamu masih perlu berbaring Bellina," pinta Reddick cemas.
"Tidak, Lion. Jangan memaksaku untuk tetap berbaring, aku mohon. Biarkan aku pergi dan mencari Reddick," pinta Bellina yang masih lemas.
"Kamu tidak perlu kemana-mana Bellina. Dia ada di sini. Di rumah ini," ujar Reddick.
"Benarkah? Benarkah suamiku ada di rumah ini, Lion?" tanya Bellina tidak percaya seraya menarik kaos Reddick karena emosional.
"Ya. Jadi berbaring dulu hingga merasa lebih enak dan tidak pusing lagi," pinta Reddick yang lebih peduli pada kesehatan Bellina.
"Dia tidak akan menghilang bukan?" tanya Bellina memastikan.
"Ya." Reddick mengangguk.
__ADS_1
"Jadi katakan, Lion. Kenapa aku tidak tahu kalau kamu sudah menemukan Reddick? Kenapa?" tanya Bellina dengan sorot mata tajam. "Apakah yang membuatmu terlihat menghindari ku adalah ini? Pria yang aku sebut Reddick ini sudah kamu temukan?"
Reddick diam. Dia memang tidak menyadari bahwa Bellina memperhatikannya diam-diam.
"Kenapa tidak menjawab Lion?" tanya Bellina.
"Maaf." Hanya itu yang bisa di katakan Reddick. Karena Bellina tidak butuh penjelasan, dia hanya butuh pengakuan.
***
Suasana tegang, sendu dan bahagia campur jadi satu. Setelah keadaannya membaik, dia dipertemukan dengan tubuh Reddick. Lionel akhirnya ikut ke rumah ini karena Bellina pingsan. Perempuan ini ada di dalam mobil Reddick, sementara mobil Bellina di bawa oleh Lionel.
Setelah Bellina tidak pusing, dia ingin bertemu dengan suaminya. Reddick sengaja meminta Lionel asli untuk menunggu hingga perempuan ini benar-benar bangun dari pingsan.
"Jadi aku sendiri yang benar-benar harus menemui istrimu?" tanya Lionel setelah Reddick keluar dari kamar tidur Bellina.
"Ya. Temui istriku, dan bicara seperlunya," ujar Reddick seraya memperingatkan Lionel untuk tidak berulah. Pria ini terlihat begitu serius jika itu menyangkut Bellina.
"Kenapa kamu tidak menemani aku?" tanya Lionel enggan masuk ke kamar perempuan itu sendirian. Karena dia tahu kalau dirinya bukanlah Reddick yang asli. Itu berarti dia dan Bellina bukan suami istri.
"Aku tahu itu. Kamu akan memburuku ke ujung dunia jika macam-macam." Lionel tersenyum miring paham maksud Reddick.
"Masuklah." Reddick mempersilakan Lionel masuk menemui istrinya yang belum bisa berjalan kemana-mana karena tubuhnya masih lemas seusai pingsan tadi. Lionel berjalan masuk perlahan. Delvin yang berdiri di sana seraya melipat tangan memperhatikan Lionel masuk.
"Jadi kamu membiarkan dia tetap memerankan dirimu?" tanya Delvin cemas.
"Ya."
"Apa tidak perlu mengatakan yang sebenarnya saja pada Bellina kalau jiwa kalian tertukar?" tawar Delvin lagi.
"Ini mustahil Delvin."
"Menurutku tidak lebih mustahil dari menerima kenyataan bahwa ternyata kamu tidak mati padahal dia melihat sendiri kamu jatuh dari gedung," tukas Delvin benar. Reddick menoleh ke samping, dia tersenyum pedih.
__ADS_1
"Ya. Tidak ada hal yang mustahil lainnya kecuali aku yang bunuh diri ternyata hidup kembali dengan memakai tubuh orang lain." Reddick membenarkan itu. "Tapi, pengakuan itu akan terlihat hanya pembenaran ku saja untuk mendapatkan hatinya."
"Apa maksudmu?"
"Aku menyatakan perasaanku padanya. Aku katakan aku menginginkannya, tapi dia menolak karena masih mencintai suaminya. Dan mirisnya itu adalah diriku sendiri yang sekarang terjebak dalam tubuh pria lain," jelas Reddick masih dengan wajah sendunya.
Bola mata Delvin mengerjap. Dia baru mendengar ini. Itu sungguh menyesakkan. Delvin tidak mengerti dengan tepat bagaimana perasaan Reddick, tapi dia yakin pasti tidak karuan.
"Aku mengerti." Delvin mengangguk.
"Dia akan berpikir kisah ini adalah ciptaanku untuk membuat dia berpaling dari suaminya. Itu akan membuat nilai ku minus di matanya. Juga, dia akan langsung pergi dariku." Ada rasa takut yang amat teramat dalam dari mata pria ini. Delvin jadi iba melihatnya.
"Jadi sementara ini kamu biarkan dia bahagia dengan pemikirannya bahwa Lionel adalah Reddick yang asli?" tanya Delvin.
"Tidak ada jalan lain lagi." Reddick pasrah.
***,
Melihat pintu terbuka lebar daripada tadi, Bellina menoleh. Ia takjub melihat kemunculan suami tercintanya.
"Reddick ...," sebut Bellina ketika melihat pria itu masuk. Mendengar ini Lionel berdeham. Dia yang tahu bagaimana dinginnya seorang Bellina, sedikit canggung melihat perempuan itu melihatnya dengan penuh kerinduan.
Bibir Lionel tersenyum. Dia berusaha bersikap wajar. Lionel duduk di pinggir ranjang. Bukan dia sengaja, tapi tiba-tiba wanita ini memeluknya lagi. Pelukannya begitu erat seperti tidak ingin kehilangan lagi. Lionel melirik ke arah pintu yang tidak sepenuhnya tertutup. Dia sengaja membiarkan pintu itu terbuka setengahnya. Karena dia yakin Reddick dan Delvin ada di baliknya.
"Aku rindu Reddick," ujar perempuan ini sambil tersenyum pedih. "Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa hidup kembali, tapi aku sangat bahagia." Dari sorot matanya tadi, perempuan memang tampak sangat bahagia.
Sikap Lionel masih sama. Dia tetap tidak ingin menyentuh Bellina. Lionel tidak ingin membalas setiap sentuhan perempuan ini. Tak lama Bellina melepas pelukannya.
"Ketika melihatmu berdiri di atap gedung, hatiku hancur Reddick. Aku yakin aku sudah melakukan kesalahan besar, tapi aku tidak tahu apa itu," ujar Bellina.
Lionel paham. Itu pasti kabar Bellina berselingkuh dengannya. Ternyata kisah mereka sungguh tragis. Ini membuatnya berpikir keras.
"Setelah menyaksikan aku bunuh diri di depanmu, apa kamu masih percaya kalau aku ini nyata, Bellina?" tanya Lionel serius.
__ADS_1
...________...