
"Kamu pasti punya banyak ketidakcocokan dengan ibu tiri mu itu. Dia sepertinya sangat membenci mu," ujar Lionel.
"Bisa kita bicara lebih banyak lagi?" putus Reddick. Dia ingin segera mencari tahu tentang Agatha lebih banyak untuk menyusun rencana. Pun untuk tahu bagaimana Lionel bisa terjebak dalam tubuhnya.
"Pasti banyak hal yang ingin kamu tanyakan, tapi maaf, aku juga punya urusan selain mendatangi rumah ini," ujar Lionel enggan.
"Dimana kamu tinggal?" tanya Reddick. Lionel tersenyum. Dia tidak mau menjawab.
"Aku punya tempat tinggal, tapi tentu saja bukan rumah keluarga mu," tepis Lionel. "Mungkin kita sama-sama bertukar jiwa, tapi sepertinya kehidupan mu lebih mujur dariku."
Reddick tidak paham apa yang dikatakan Lionel. Pria itu melihat ke arah jam tangan usahanya. "Aku masih punya banyak urusan. Bagaimana kalau kita bicara besok?"
"Baik. Kita akan bertemu besok," ujar Reddick cepat. Tawaran Lionel menunjukkan bahwa dia mau bertemu lagi untuk bicara. Itu kesempatan untuknya. Tanpa pamit, pria itu pergi dari rumah itu.
"Lion," panggil Bellina yang muncul di belakangnya. Sungguh ini membuat jantungnya bagai di pukul lalu godam karena begitu terkejut.
"Y-ya, Bellina?"
"Aku dengar ada orang asing di luar, apa kamu bertemu dengan orang itu?" tanya Bellina seraya melihat ke sekitar dengan penuh curiga.
"Ya."
"Siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa. Hanya orang yang ingin melihat-lihat rumah ini," bohong Reddick.
"Melihat-lihat?" tanya Bellina heran. Sepertinya dia tidak percaya.
"Sebaiknya kita masuk." Reddick langsung membimbing perempuan ini masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin bicara banyak soal ini. Rasa takut Bellina akan berubah pikiran jika melihat tubuh Reddick menghantuinya.
***
Setelah membuat Bellina tidak lagi bertanya soal orang asing itu, Reddick segera menuju ke ruang kerjanya. Ia segera menelepon Delvin. Tidak lama pria itu menerima teleponnya.
"Ya, Red ada apa?"
"Pagi ini, Reddick muncul di depan rumah ini. Tidak, tapi tubuh Reddick yang kamu lihat di cctv muncul lagi di depan rumah."
"Tubuh Reddick? Benarkah?" tanya Delvin terkejut.
"Ya."
"Kamu bisa mengejarnya?" serbu Delvin. Bukan hanya Reddick, pria ini juga ingin tahu apa benar tubuh itu berisi jiwa Lionel pria yang telah menjadi atasan juga temannya itu.
__ADS_1
"Aku tidak perlu mengejarnya, Delvin. Dia tidak kabur."
"Lalu? Apa kalian bicara?"
"Ya. Kita bicara."
"Apa dia memang jiwa Lionel?" tanya Delvin berharap.
"Benar. Dia adalah Lionel," jawab Reddick dengan penuh keyakinan.
"Bagus. Itu bagus Reddick. Ini membuat pernyataan mu yang mengatakan bahwa dirimu adalah Reddick itu benar," kata Delvin lega. "Aku lega karena aku bukan gila atau hanya berkhayal selama ini."
"Aku tentu tidak akan berbohong Delvin."
"Aku tahu, tapi aku juga butuh penegasan. Bukti yang jelas bahwa aku tidak gila. Kamu tidak akan paham. Oh, tidak. Kamu pasti sangatlah paham apa yang aku katakan," ujar Delvin.
"Benar. Aku sangat memahami ketidakpercayaan mu Delvin. Aku sendiri merasa gila karena ini bagaikan sebuah mimpi tidak nyata." Reddick mengatakan dengan emosional.
"Lalu bagaimana Red? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Delvin mulai cemas.
"Untuk pertama aku ingin bertanya banyak banyak padanya. Aku ingin bicara dengan bebas tanpa takut Bellina tahu bahwa Reddick yang dia lihat adalah benar."
"Jadi ... dia belum tahu kalau kamu sudah bicara dengan tubuh Reddick?" selidik Delvin.
"Apa itu sulit untuk menjelaskan padanya?"
"Aku takut Delvin. Jujur aku sangat takut." Reddick mulai duduk. Matanya yang tadi berapi-api kini redup penuh dengan ketakutan yang kentara.
"Takut?"
"Ya. Jika Bellina menemukan tubuh asli Reddick, dia akan membuang ku. Dia tidak akan peduli aku ada atau tidak. Mungkin itu akan membunuhku untuk kedua kalinya, Delvin."
Nada sendu dan getir terdengar dari suara Reddick. Delvin ikut diam karena dia paham, pria ini begitu mencintai Bellina. Mungkin kehidupan kedua ini sengaja digariskan oleh takdir sebagai hadiah untuknya. Dia akhirnya bisa bertemu lagi dengan perempuan yang dicintainya, juga akhirnya tahu kesalahpahaman yang dulu pernah ada.
"Kita bisa bicara dengan Red, eh Lionel di apartemenku. Dia pasti tahu itu karena dia yang membelikannya. Namun ... apa kalian hanya bicara sebentar saja tadi?"
"Ya. Karena dia punya urusan yang lain. Jadi dia ingin pergi cepat." Reddick masih ingat apa yang di katakan Lionel.
"Jadi dia tinggal di rumah keluarga mu?"
"Tidak."
"Tidak?!" tanya Delvin terkejut.
__ADS_1
"Ya. Aku juga berpikir dia tinggal di rumah keluargaku seperti aku tinggal di rumah miliknya, tapi dia bilang dia tidak tinggal di rumah keluarga ku. Lionel sempat berkata, hidupnya tidak seberuntung diriku."
"Apa itu artinya Red?"
"Aku tidak tahu. Aku rasa meski kita sama tertukar, tapi jalan kita berbeda Delvin. Mungkin itu terpengaruh dari kejadian dimana kita terakhir berada di dalam tubuh masing-masing."
Kemana tinggal dia selama ini? Apa dia tidur nyenyak? Apa dia makan dengan nyaman? Delvin cemas. Hubungan antara dia dan Lionel sudah seperti saudara. Bahakan karena hutang Budi, Delvin rela mengabdikan dirinya untuk pria itu seumur hidup. Karena berkat bantuan Lionel, dia bisa menjadi pria kompeten seperti sekarang.
"Apa dia tetap ingin bertemu denganmu meski kamu ...Namun dia setuju untuk bertemu lagi. Karena aku juga ingin tahu soal Agatha."
"Agatha? Ibu tiri mu?"
"Ya. Lionel mengatakan dia tahu bahwa perempuan itu membenciku."
"Kita harus segera bertemu dengan Lionel, Red."
"Aku tahu."
****
Meski sudah menunggu, Lionel tidak muncul di depan rumah ini. Reddick gelisah.
"Kamu tidak berangkat ke kantor Lion?" tanya Bella yang menemukan dirinya masih berada di rumah meskipun ini sudah siang. Dia menatap pria ini heran.
"Ah, Bellina. Ya, sebentar lagi aku berangkat."
"Apa ada hal penting yang perlu di lakukan di sini?" tanya Bellina seakan terus ingin menginterogasinya.
"Tidak. Hanya saja semua sudah di handle oleh Delvin. Jadi aku bisa tenang," ujar Reddick mencari alasan. Suara ponsel berdering mengejutkan Reddick yang sedang tegang menunggu Lionel muncul. "Maaf, Bellina, Delvin meneleponku. Aku akan bicara dengannya."
Ini bagaikan pengusiran halus untuk Bellina.
"Ya, silakan," ujar Bellina. Reddick tampak mendekat ke jendela besar yang ada di ruang tengah.
"Ya, Delvin ada apa?"
"Lionel ada di sini, Red."
"Li ... oh, tamu kita sudah datang?" Hampir saja Reddick lupa kalau masih ada Bellina di dekatnya. Ia hampir menyebut nama Lionel di bibirnya.
"Tamu? Kamu sedang bersama Bellina?" Delvin langsung paham.
"Ya. Oke, aku akan berangkat sekarang. Tunggu aku Delvin, aku akan datang dengan cepat." Reddick langsung membuat janji.
__ADS_1
..._____...