Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 40 • Sikap aneh Reddick


__ADS_3

Akhir-akhir ini Bellina merasa kesibukan Lionel yang berisikan jiwa Reddick makin bertambah. Bukan merasa di abaikan, Reddick acap kali terlihat panik dan kebingungan ketika berpapasan dengan Bellina ketika menelepon seseorang. Itu membuatnya berpikir ada yang di sembunyikan.


Seperti sore ini, Bellina hendak mendekat pada pria itu. Kebetulan pria itu sedang berdiri sendiri sambil memandang keluar jendela. Bellina tidak berpikir banyak, dia memang sedang ingin membicarakan soal ibu. Bellina ingin tahu bagaimana rumah ibu di kampung.


"Lion, aku ingin ..."


"... oh, Bellina?" Reddick terkejut melihat kemunculan perempuan ini yang sudah ada di sampingnya. Bellina baru tahu kalau pria ini sedang menelepon. Karena dari tempat ia bicara, Reddick hanya tampak berdiri saja seraya memandang ke luar jendela.


Namun ketika Reddick menoleh, ia melihat ada ponsel yang di tempelkan pada daun telinganya. Lalu tangan pria ini dengan cepat mematikan ponselnya. Seperti tidak ingin Bellina tahu isi pembicaraannya. Bibir pria ini tersenyum. Menetralkan diri dari rasa terkejutnya tadi.


Sudah jelas bahwa pria ini menyembunyikan sesuatu. Bellina ingin sekali bertanya, tapi dia perlu ingat lagi bahwa mereka tidak perlu saling ingin tahu kepentingan masing-masing. Mereka berdua bukan pasangan sesungguhnya.


"Ada apa?" tanya Reddick.


"Aku hanya ingin membicarakan soal rumah ibu di kampung," kata Bellina.


"Emm tentang itu. Duduklah lebih dulu. Kita bisa bicara sambil duduk." Reddick mempersilakan Bellina duduk seraya berjalan mendekat ke sofa. Bellina mengikuti Reddick lalu duduk di depan pria itu. "Bicaralah," pinta Reddick lembut.


"Apa rumah ibu sudah selesai? Maaf, jika aku bertanya. Kalau sudah selesai, ibu ingin segera kembali ke sana," kata Bellina. "Ibu ingin pulang."


"Apa ibu tidak betah tinggal di sini?" tanya Reddick terkejut. Dia terlanjur nyaman ibu tinggal di rumah ini.


"Bukan. Kamu tahu ibu sebenarnya tidak ingin tinggal di sini."


"Apa ibu tidak nyaman karena aku bukan menantu sesungguhnya?" selidik Reddick membuat Bellina menghela napas.


"Tentu saja," sahut Bellina. "Bukannya pada akhirnya kita akan berpisah? Apalagi pernikahan ini pura-pura. Aku dan ibu harus tahu diri. Rumah ibu yang di renovasi juga hasil dari kebaikan mu yang di paksakan."


Reddick diam. Ini membuat Bellina salah tingkah karena Reddick tidak mengatakan apapun dan menatapnya dengan sangat dalam.

__ADS_1


"Kamu tetap ingin pisah dariku meski aku sudah menyatakan perasaanku, Bel?" tanya Reddick menelisik ke raut wajah perempuan ini.


"Maaf. Aku tidak bisa Lion. Aku masih mencintai suamiku," ungkap Bellina membuat Reddick berdesir. Ia bungkam sejenak. Jawaban Bellina membuatnya berdebar sekaligus kecewa karena perempuan ini menolaknya.


Ini aku Bellina. Aku Reddick! pekik Reddick dalam hati. Ia tidak mungkin mengatakan dia adalah Reddick. Karena tubuhnya adalah milik Lionel. Apalagi sekarang Lionel sudah muncul dengan tubuh miliknya. Bellina makin tidak percaya kalau dirinya adalah Reddick yang asli.


Reddick mengangguk menahan rasa kecewa.


"Ibu ingin pulang?" tanya Reddick kembali pada pembahasan di awal.


"Ya." Bellina tahu kalau pria ini sedang menetralkan suasana yang sempat kaku karena pertanyaan tadi.


"Aku akan tanyakan pada Delvin."


"Baiklah. Terima kasih." Bellina langsung beranjak berdiri. Reddick mengerjap.


"Kamu hanya menanyakan itu dan pergi, Bel?" tanya Reddick membuat tubuh Bellina berhenti bergerak dan menoleh.


"Tidak adakah obrolan lain hingga kita bisa mengobrol lebih lama?" tanya Reddick dengan mata seperti berharap.


Bellina tidak langsung menjawab. Bola matanya melirik pada dekat jendela tempat Reddick berdiri tadi. Reddick pikir Bellina hanya sedang mengalihkan pandangannya pada titik lain, demi membuat mata mereka tidak beradu. Namun ternyata ia salah menduga.


"Aku pikir kamu sedang sibuk menelepon seseorang. Sepertinya itu juga penting dan rahasia sampai kamu harus menyembunyikan dengan cepat," kata Bellina seakan menyindirnya. "Jadi aku harus tahu diri untuk tidak mengobrol panjang lebar. Agar bisa membuat kamu nyaman dan meneruskan obrolan penting mu di telepon."


Telinga Reddick menangkap sesuatu yang aneh. Dia memang terkejut mendengar Bellina mengatakan soal dia yang menekan tombol mati dengan cepat agar telepon terputus, tapi ada arti lain yang ia tangkap dari kalimat perempuan ini.


Bagi Reddick, Bellina terdengar seperti menggerutu karena dia menyembunyikan sesuatu dari perempuan itu. Bellina terlihat ingin marah.


"Kamu marah karena aku melakukan itu?" tanya Reddick.

__ADS_1


"T-tidak. Bukan itu maksudku," bantah Bellina. Mendadak ia gugup.


"Telepon ku tadi memang penting, tapi jika itu di sandingkan denganmu, itu terlalu tidak adil. Karena aku sudah meletakkan kamu di atas kepentingan ku lainnya. Kamu sudah menjadi prioritas ku Bellina. Tidak ada hal penting lainnya karena kamulah yang pertama," ungkap Reddick menakjubkan.


Bellina tidak berharap pria ini akan mengatakan hal semacam itu dengan terus menerus sejak tadi, dia hanya ingin mengatakan yang sesungguhnya. Kalau dia tahu soal Reddick yang menyembunyikan teleponnya ketika Bellina dirinya datang. Juga sebagai pancingan, agar pria ini mengatakan ada apa sebenarnya hingga dia perlu menyembunyikan dari dirinya.


Mau tak mau Bellina harus mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Karena kalau tidak, mata pria ini akan terus menatapnya dengan dalam.


*****


Berdasarkan pembicaraan dengan Reddick waktu itu, ibu di pulangkan ke rumah di kampung setelah rumah selesai di renovasi.


"Hhh ... " Bellina menghela napas lega akhirnya ibu berada di rumahnya lagi. Rumah ini sudah tampak mewah meskipun dengan luas yang sama. Ini semua karena sentuhan interior designer yang di datangkan oleh Reddick untuk merubah rumah ibu Bellina.


"Ini terlalu bagus untuk ibu, Nak ..." ujar Ibu merasa ini berlebihan untuknya.


"Tidak. Untuk ibu yang melahirkan perempuan yang saya cintai, tidak salah kalau saya melakukan ini. Bahkan menurutku, ini hanya hal kecil yang bisa saya lakukan. Ini tidak sepadan dengan rasa bersyukur saya bisa di pertemukan oleh Bellina," ujar Reddick.


Menurut Bellina kalimat itu terdengar konyol dan berlebihan. Namun entah kenapa, wajahnya juga memerah karena kalimat yang konyol itu.


Ibu melirik ke putrinya, lalu tersenyum.


"Putri ibu hanya orang biasa, jadi berlebihan sekali jika kamu bicara begitu," ujar ibu kali ini menatap Reddick. Ada senyum geli di dalam suara ibu.


"Hmmm ... Maafkan saya jika ibu tidak nyaman."


"Bukan tidak nyaman. Hanya saja kamu akan tersakiti jika terus memberikan kasih sayangmu dengan berlebihan seperti itu. Dia anak yang kaku," kata ibu seperti ikut mencela Bellina yang masih bisa bersikap dingin padahal Reddick begitu menyayanginya.


Bellina menoleh dengan cepat ke arah dua orang yang sedang membiarkannya. Lalu mendelik ke arah Reddick yang seakan sedang menunjukkan betapa dia dan ibu Bellina begitu dekat.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2