
"Delvin, aku akan tutup dulu teleponnya. Ada yang harus aku awasi." Klik! Belum sempat Delvin bertanya, Reddick sudah mengakhiri teleponnya.
"Makin jelas bahwa Lionel sekarang bukanlah pria yang aku kenal. Siapa dia? Apakah mungkin ada kehidupan kedua yang itu berarti Lionel bukanlah Lionel yang dulu?" Delvin berpikir keras.
...*****...
Reddick melangkah mendekati pintu. Ia tidak tahan lagi ingin tahu apa yang sedang di bicarakan Bellina dan pria yang disebut anak itu.
Dari luar pun Bellina ingin masuk. Karena bersamaan, mereka pun bertabrakan.
"Ah," keluh Bellina saat kepalanya terantuk dada Reddick.
"Bellina, maaf. Aku tidak tahu kamu sudah selesai bicara. Kamu tidak apa-apa?" tanya Reddick cemas.
Bellina tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Ibu tertidur?" tanya Bellina seraya menengok ke arah ranjang ibu.
"Iya. Siapa sebenarnya pria itu?" tanya Reddick yang memilih bertanya langsung pada Bellina.
"Pria? Oh, Rio? Dia sepupu yang tinggal dengan ibuku. Dialah yang merawat ibu."
"Kenapa ibu memanggilnya putra?" tanya Reddick penasaran.
"Karena dia sering merawat ibu, itu membuat ibu merasa mempunyai putra. Padahal ibu hanya punya anak tunggal, yaitu aku." Bibir Bellina tersenyum tipis. Informasi ini membuat hati Reddick sedikit lega. "Maafkan aku membuat kunjungan kita ke keluargaku jadi seperti ini."
"Jangan meminta maaf. Ini di luar kendali mu. Tentu saja kamu tidak ingin ibu sakit. Jadi aku tidak merasa ini adalah kunjungan yang salah." Mereka berjalan mendekat ke ranjang ibu.
"Saat kamu bicara dengan Rio, apa boleh aku ikut?" tanya Reddick mengejutkan. Bellina yang tadinya melihat ibu, kini menoleh pada pria ini.
"Kenapa?"
"Tidak. Hanya saja ... Aku merasa aku harus tahu. Dalam kertas kamu istriku, jika aku tidak tahu ada apa dengan hidupmu, bagaimana saat ada orang yang bertanya tentangmu dan aku tidak tahu?"
Bellina diam.
__ADS_1
"Baiklah. Barusan itu bukan pembicaraan penting. Dia mencemaskan aku soal aku yang di keluarkan dari keluarga Wycliff."
"Itu hal penting Bellina," sergah Reddick membuat perempuan ini terkejut. Reddick menyadari bahwa ia terdengar marah barusan. "Maksudku, dia tidak perlu cemas karena kamu bisa menjaga diri bukan? Dia tidak tahu betapa kamu kuat."
Bellina tersenyum.
"Aku hanya tampak kuat saja, Lion. Sebenarnya aku mudah rapuh. Saat bersama Reddick pun aku bukanlah wanita yang kuat. Aku mencoba untuk tetap terlihat bagaikan benteng kokoh. Karena aku merasa Reddick tidak suka jika aku lemah."
Maafkan aku Bellina. Aku bukan bermaksud membuatmu seperti itu. Ini semua karena kebodohan dan kenaifan ku, sesal Reddick dalam hati.
"Maaf jika obrolanku tidak menyenangkan. Kamu pasti bosan mendengar aku bercerita suami ku. Bahkan mungkin kamu muak." Karena Reddick diam, Bellina merasa pria ini tidak suka.
"Bukan. Aku bukan bosan atau muak. Aku senang kamu bercerita banyak tentang suamimu. Jadi aku tahu siapa Reddick sebenarnya," kata Reddick benar-benar bersyukur Bellina bercerita tentang dirinya. Itu membuat dia mulai mengerti bagaimana dirinya dulu di depan Bellina.
...******...
Bellina dan Reddick kembali ke apartemen. Reddick mengirim ibu ke rumah sakit yang lebih dekat dengan tempat mereka tinggal. Meskipun awalnya Rio tidak setuju, keputusan tepat adakah ide Reddick.
"Terima kasih bantuan mu memilihkan orang-orang untuk menemani ibu Bellina, Delvin," ucap Reddick saat mereka bertemu di ruang kerjanya.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini bukan pertama kalinya kamu menyuruhku melakukan ini dan itu, Lion. Apa kamu lupa, semua hal di perusahaan, bahkan urusan pribadimu, akulah yang mengurusinya."
"Oh, begitu ya ..." Reddick terkekeh. Ada yang luar biasa terjadi hari ini, Reddick tampak sangat bahagia.
"Datang ke rumah Bellina memang tepat. Kamu tampak lebih bahagia dari sebelum kita bertemu," kata Delvin membaca raut wajah temannya.
"Benarkah? Sepertinya aku harus sering-sering berkunjung ke rumah ibu. Namun sekarang beliau sedang di rawat." Reddick ingat soal ibu yang sakit. "Apakah ibu Bellina aman?" tanya Reddick.
"Ya. Kenapa kamu berpikir ibu Bellina tidak aman?" tanya Delvin tidak paham.
"Aku takut mereka akan mendatangi rumah keluarga Bellina demi memaksanya keluar dari semua hal yang berhubungan dengan Wycliff," jelas Reddick. Delvin diam sedang berpikir.
"Jadi Bellina ini bukan putri kandung sekretaris keluarga Reddick?" tanya Delvin membuat Reddick mengangguk.
__ADS_1
"Benar. Aku juga baru tahu. Itu sangat mengesalkan bukan?"
"Karena ternyata Bellina bukan orang elit?"
"Apa yang kau bicarakan Delvin?" Raut wajah Reddick tidak setuju. "Aku kesal karena kenapa sejak awal aku tidak tahu kalau Bellina punya keluarga kandung sendiri. Jika tahu tentang itu, aku tidak mungkin menutup mata untuk mengunjunginya." Reddick tampak emosional saat mengatakannya. "Bukankah aneh jika aku suaminya tapi tidak tahu apapun tentang Bellina. Kita sudah lama menikah Delvin, seharusnya aku mencari tahu tentang Bellina sejak papa menjodohkan .... " Suara Reddick perlahan lenyap.
"Kenapa? Aku mendengarkan," tanya Delvin.
"Aku bicara ngawur. Abaikan saja." Reddick menyadari bahwa mulutnya bicara macam-macam.
"Maaf, aku tidak bisa mengabaikan, Lion," ujar Delvin membuat Reddick menoleh cepat. Pria itu tengah menatap lurus. Seperti ingin menguliti kekeliruan dari apa yang dikatakan Reddick barusan. "Sejak dari hotel itu aku selalu mendengar dan melihat banyak hal aneh darimu. Pertama soal Clara yang kini tidak lagi menjadi favoritmu."
"Mungkin seleraku berubah," tepis Reddick.
"Mungkin, tapi tidak dengan kamu yang tidak mau lagi bermain dengan banyak wanita. Yang itu membuat aku sangat heran. Kamu adalah pria yang hidup hanya untuk bersenang-senang dengan banyak wanita, tapi tiba-tiba saja langsung memutus sifat seperti itu dan mulai mengejar satu wanita."
Reddick diam mendengarkan. Jantungnya juga berdegup kencang karena Delvin tengah menginterogasinya.
"Selama ini akulah yang bekerja di sini. Otakku lah yang berpikir untuk segala macam urusan perusahaan. Namun pagi itu, sepulang dari hotel, kamu langsung meminta pekerjaan dan bertanya, 'kenapa kamu tidak mengerjakan semuanya?' Kamu bukan pria yang serius dalam berkerja, Lionel. Kamu benci itu. Namun kamu mulai berubah. Membuat semua pekerjaan selesai tanpa bantuan ku. Itu aneh."
Reddick adalah pria pekerja keras dan selalu serius dalam pekerjaan, saat menjadi Lionel, sifat itu masih melekat padanya. Itu membuat Delvin aneh.
"Jadi katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?"
Bola mata Reddick menatap lurus pria di depannya. Delvin menunggu dengan tatap dingin
"Ini akan sangat mustahil untuk kamu dengar, Delvin."
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Aku siap mendengarkan. Bahkan hal mustahil sekalipun," tegas Delvin yakin. Reddick menghela napas.
"Baiklah, aku akan mengatakannya padamu kenapa aku sangat berbeda dengan Lionel si Casanova, itu karena aku adalah ... Reddick Wycliff," ungkap Reddick mantap.
...______...
__ADS_1