Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 6 • Kedatangan Agatha


__ADS_3

Benak Reddick makin penuh. Setelah sikap dingin yang di tunjukkan Bellina pada dirinya yang sekarang menjadi Lionel, kini ia berpikir keras soal kemunculan Agatha di kantor.


 


Langkah Reddick agak cepat menuju ruangannya. Saat pintunya terbuka, ia menemukan seorang perempuan paruh baya itu. Berjalan mengelilingi rak-rak buku yang ada di sana.


 


"Ah, Lionel. Kamu akhirnya datang juga." Agatha tersenyum. Reddick merasa aneh dengan sikap mamanya.


 


"Ada apa mendatangi ku, Tante?" Reddick duduk di sofa di ikuti oleh wanita itu.


 


"Aku hanya menyapamu." Agatha tersenyum ramah.


 


"Menyapa? Dengan sengaja datang ke perusahaan? Senggang sekali ..." Jika biasanya, Reddick lebih banyak diam di depan wanita ini, sekarang ia merasa perlu banyak bicara untuk mempertanyakan sikapnya sekarang.


 


"Kenapa kamu dingin sekali Lion. Tante ini datang dengan membawa perdamaian." Agatha tetap tersenyum meski Reddick berkata dengan dingin. Entah sadar atau tidak, itu terlihat aneh di mata Reddick.


 


"Perdamaian? Perdamaian soal apa?"


 


"Tante tahu kamu sangat menginginkan Bellina. Jika kamu mau ... aku akan menikahkan mu dengannya,” kata Agatha dengan wajah penuh penawaran.


 


"Dia masih istri Reddick.” Bahkan dia masih istriku. Kita belum bercerai meski aku sudah meninggalkan dia sendirian di dunia.


 


"Soal itu bisa di atur. Lagipula Reddick sudah mati. Dia bukan lagi milik siapa-siapa. Suamiku juga sudah tidak bisa melakukan apa-apa karena sudah tua." Agatha bicara dengan lancar. Dia tidak tahu jiwa di dalam pria di depannya adalah putra tirinya.


 


Reddick menatap wanita ini dengan pandangan tajam. Mendengar apa yang di bicarakan Agatha, Reddick terguncang. Degup jantungnya berdetak kencang. Dia marah dan sedih mendengar wanita yang selama ini menjadi ibunya bicara soal ayah dan istrinya dengan lancang bahkan tanpa hormat.


 


Namun Reddick perlu menahan diri. Dia tidak boleh langsung marah karena ingin tahu kejelasan dari semua hal yang buram di matanya selama ini.


 


"Bisa di atur?" Kening Reddick mengerut. Agatha mengangguk pasti. “Apa maksud mu?”


 


“Aku akan tetap menikahkan kamu dengan Bellina apapun yang terjadi.”


 


“Bellina mau?" lanjut Reddick pura-pura. Namun dia tahu perempuan itu pasti mau. Bukannya mereka sepasang kekasih?


 


"Tentu. Tentu dia mau. Bukannya hidup dia tergantung karena kebaikan hati suamiku. Aku akan mencoba membujuknya dan berkata bahwa ini perintah suamiku,” kata Agatha senang.

__ADS_1


 


Sungguh Reddick tidak menduga wanita yang biasanya di panggilnya mama, bersifat seperti ini. Meskipun dulu ia tidak terlalu dekat, tapi mereka tidak pernah berselisih. Namun mengetahui sifat aslinya, membuat Reddick merinding sendiri.


 


"Aku heran Tante bisa menjajakan menantunya seperti itu," ujar Reddick dengan sorot mata tajam. Agatha terdiam di sofa. Namun kemudian tersenyum simpul. Wanita itu berdiri dan mendekati Reddick.


 


"Aku terkejut kamu mulai bersikap seperti Reddick. Kamu Lionel bukan?" tanya Agatha membuat Reddick menyadari bahwa ia harus berhenti menjadi dirinya sendiri jika ingin tahu ada apa sebenarnya wanita ini sengaja datang ke kantornya.


 


"Tentu saja. Tante meragukan ku?" Reddick mencoba tertawa. Sialan!


 


"Tentu tidak." Agatha mengibaskan tangannya di depan Reddick. Melihat sorot mata dingin Reddick, Agatha sedikit ciut. "Tante tahu kamu tidak akan mengecewakan Tante."


 


Reddick tidak tahu awalnya mereka berdua ini bisa akrab seperti ini. Sejak dari rumah keluarga Wyclif, dia merasa sangat asing dengan kedekatan mama dan adiknya dengan Lionel.


 


Ternyata ... Banyak yang tidak aku ketahui dari semua orang di dalam rumah itu. Apa yang sudah aku kerjakan selama hidup? sesal Reddick.


 


...***...


 


Delvin langsung muncul di ruangan ini setelah Agatha pamit pulang.


 


 


"Biasanya dia datang meminta-minta?" Reddick sungguh baru tahu kalau Agatha sering muncul di kantor.


 


"Kamu lupa? Dia selalu menyuruhmu menemui Bellina tanpa alasan." Meski menjawab pertanyaan aneh kawannya, Delvin mengerutkan keningnya heran.


 


"Aku?"


 


"Lionel. Kamu seperti bangun dari tidur panjang saja. Ada apa denganmu? Sakit? Terbentur keras? Apa?" cerca Delvin yang merasa pria ini selalu saja tidak mengerti.


 


"Apa yang kau katakan, Delvin? Kenapa aku yang sehat seperti ini kau sebut sakit?" cerca Reddick balik guna menyamarkan keanehannya.


 


"Ya. Di kepalamu seperti ada pikiran lain. Banyak hal yang tidak kamu ketahui padahal kamu sendiri melakukannya kemarin. Seperti sebagian memori di kepalamu hilang.” Delvin mengatakan dengan sangat tepat.


 


"Anggap saja begitu." Reddick mendengus. "Otakku kusut belakangan ini. Aku butuh hiburan."

__ADS_1


 


"Lalu ... Apa kebiasaan berpesta masih sama?"


 


"Pesta?"


 


"Ya. Klub Expose." Delvin menunjukkan kartu member VIP. Sebagai seorang Reddick, dia tidak pernah mendatangi klub malam. Sangat jauh berbeda dengan kebiasaan Lionel. "Kita akan kesana nanti malam. Bukannya kamu akan menghabiskan banyak waktu di sana saat lelah."


 


Itu bukan aku, tapi tidak apa-apa. Akan aku coba.


 


"Oke. Kita kesana nanti malam."


 


...***...


 


Melihat klub malam yang temaram dan musik berdentum keras membuat Reddick menutup satu telinganya dengan jari untuk mengusir bising dengan kesal. Delvin melirik. Ini sangat aneh menurutnya. Si raja pesta dan penyuka wanita merasa kesal dengan klub malam? Wow.


 


"Kenapa?" tanya Delvin yang memilih bertanya langsung daripada bertanya-tanya di dalam hati. Reddick menoleh cepat.


 


"Tempat ini sangat ..." Reddick sudah hampir mengatakan bahwa dirinya sangat kesal dengan bising suara musik. Namun melihat raut wajah Delvin yang menatapnya heran, dia urung melakukannya. "Ya ... sangat ramai. Aku suka itu." Reddick langsung membelokkan kalimatnya. Dia ingin tertawa mencemooh dirinya yang mengatakan hal palsu.


 


"Ya ... Ramai dengan para wanita cantik dan sexy kesukaanmu," ujar Delvin yang langsung setuju sambil mempersembahkan tontonan menakjubkan dari para wanita klub yang sedang tertawa dan bergembira ria.


 


Reddick berdecih muak saat melihat mereka semua melihat ke arahnya dengan mata penuh kegembiraan.


 


"Haa ... Lionel! Kamu datang sayang?" ujar mereka hampir bersamaan.


 


Sayang?


 


Tubuh Reddick merinding seketika. Dia tidak terbiasa dengan sebutan sayang dengan suara manja itu. Mereka orang lain. Bahkan panggilan Bellina kepadanya hanyalah sebuah nama, tidak lebih. Jadi saat ada sebutan sayang, yang keluar dari bibir perempuan yang sama sekali tidak di kenalnya, membuat Reddick merinding.


 


"Sepertinya mereka sudah menunggumu," ujar Delvin sambil mendengus lucu. Benar juga. Beberapa perempuan itu mendekat pada Reddick dengan antusias yang tinggi.


 


"Aduh Lionel, kami sangat merindukanmu. Beberapa hari ini kamu tidak muncul di sini. Apa kamu sedang sakit?" tanya mereka. Raut wajah mereka benar-benar cemas. Dari sekian banyak wanita berwajah cantik dengan riasan dan pakaian yang bertujuan mendapatkan seorang mangsa, kalimat rindu mereka benar-benar tulus. Itu bukan kiasan.


..._________...

__ADS_1



 


__ADS_2