
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Reddick. Dengan marah, Bellina menampar. Itu membuat seisi klub menoleh cepat. Mereka terkejut, karena Lionel yang di sebut sebagai pria yang di perebutkan banyak wanita, kini di tampar oleh seorang wanita berwajah polos.
"Tutup mulutmu Lionel!” hardik Bellina sangat marah. "Aku bukan wanita yang mudah tidur dengan sembarang pria. Walaupun suamiku sudah meninggal, bukan berarti kamu bisa seenaknya mendekati dan berbicara seperti itu padaku. Aku pikir aku harus menghormatimu juga karena kamu dekat dengan mertua dan adik ipar ku, tapi ... jika ternyata kamu hanya mengatakan sampah seperti tadi ... aku tidak akan segan lagi padamu. Aku akan menghilangkan rasa hormat ku."
"Jadi kamu tidak pernah menginginkan ku?" tanya Reddick dengan wajah serius.
"Menginginkanmu?" tanya Bellina tidak menyangka. Bola mata Bellina melirik ke arah orang-orang yang sedang memperhatikannya. Terutama para wanita. "Tidak sama sekali," desis Bellina membuat Reddick merasakan desiran halus di dadanya.
Delvin mendekat untuk menghentikan. Dia tidak ingin temannya di permalukan lebih parah lagi.
"Tidak perlu menghentikan aku. Karena aku akan berhenti jika dia menutup mulutnya sendiri," ujar Bellina yang tahu Delvin ingin menghentikannya. Bola mata Delvin ganti melihat ke arah temannya.
"Aku tidak apa-apa," ujar Reddick mengatakan keadaannya. Setelah itu, semua kembali pada kegiatan masing-masing. Namun beberapa wanita masih sibuk membicarakan Reddick dan Bellina. Siapa wanita baru yang sudah di dekati Reddick dan berani menampar pria ini?
"Jika ada yang mau di bicarakan, bicarakan baik-baik Lion," nasehat Delvin dengan melebarkan matanya memprotes aksi pria ini.
"Bisa kamu jelaskan kenapa pria ini terus saja mengatakan bahwa aku yang mengejarnya? Bahwa akulah yang menginginkannya?” tanya Bellina berang. Delvin menoleh pada Reddick.
"Jika kamu bertanya soal perusahaan, aku bisa menjawab, tapi soal itu ... aku angkat tangan. Lagipula bagi seorang player, semua wanita adalah miliknya." Delvin menggunakan bola matanya untuk menunjuk Reddick. Dimana dialah yang sekarang menggunakan tubuh Lionel.
Akibat kalimat Delvin, Bellina makin menatap tajam.
“Pemikiran yang sangat menjengkelkan dan angkuh,” ujar Bellina dengan berdecak kesal. Perempuan-perempuan yang ada di sana mendekat.
"Jangan. Aku tidak butuh sentuhan kalian." Lionel menolak mentah-mentah saat para wanita itu mendekat ingin mengusap pipi Lion yang di tampar. Delvin heran melihat sikap temanya. Lionel berubah?
Tanpa bicara, Reddick pergi. Ini meninggalkan tanya pada Delvin. Sementara Bellina kembali duduk. Dia tidak peduli banyak mata menatapnya tajam hanya karena playboy itu mendekatinya.
...***...
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi saat aku masih hidup? Bukankah Bellina berselingkuh dengan Lionel? Kenapa saat aku yang sudah menjadi Lionel ini ingin mendekat, selalu saja beradu mulut jika bertemu? Apa ada yang terlewat olehku? Sial!" Reddick memukul pagar balkon dengan kesal. "Apa mungkin Bellina tidak mengkhianati ku?"
Reddick menghela napas. Dia menunduk. Menekan kepalanya lebih turun dengan tangan.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan mama? Sikap mama aneh. Bahkan terasa sangat aneh saat dia menawarkan Bellina pada bajingan ini. Aku merasa sedang mendapat tamparan keras saat itu." Reddick mengingat lagi pertemuan dengan mama tirinya.
"Aku tidak tahu persis kalian berdua bicara apa, tapi ... ada apa denganmu?" tanya Delvin yang muncul tepat setelah bibirnya tertutup. Berhenti bicara soal Bellina.
"Apa yang kamu tanyakan?" Reddick merubah berdirinya dengan benar.
"Aku tahu kamu sering membicarakan Bellina, tapi aku tidak tahu jika kamu terobsesi seperti itu. Seperti tadi. Sampai harus mengira dia yang selalu mengejar mu." Delvin mulai mendekat dan berdiri di dekat pagar balkon.
"Kamu juga tidak tahu kalau aku dan Bellina adalah sepasang kekasih?" tanya Reddick heran. Ini membuat Delvin menepuk pipinya. Tidak keras. Namun mampu membuat Reddick terkejut.
"Sadarlah Lion. Dia bukan wanita murahan yang seringkali kau tiduri. Dia istri Reddick Wyclif. Kamu bilang kalian sepasang kekasih?" Delvin mencibir. "Bangunlah kalau kau sedang bermimpi."
"Lalu foto yang sering terkirim pada Reddick itu apa?"
Pertanyaan Delvin tidak terjawab karena pria ini tengah berpikir. Reddick mengetahui satu hal. Sepertinya tidak ada hubungan spesial antara Lionel dan Bellina. Bahkan Delvin tangan kanannya saja mengatakan bahwa ... itu mimpi, jika Bellina dan Lionel adalah sepasang kekasih.
Sepertinya aku harus menelusuri darimana asal foto-foto itu terkirim. Harus memastikan nomor itu milik siapa. Kita harus bertemu lagi Bellina. Maaf jika kamu merasa lelah bertemu denganku lagi, tapi aku harus meyakinkan ini.
"Jika kamu ingin bertemu Bellina, dia sudah pergi." Delvin mencegah langkah Reddick. Pria ini langsung menggeram kesal. Ia kehilangan Bellina lagi.
Delvin mencoba membaca arti dari semua ini. Dia makin menyadari kelakuan dan sesuatu yang aneh pada pria yang di kenalnya serampangan.
Aku makin tidak mengenalmu ... Siapa kamu?
...***...
Reddick membaca berita tidak menyenangkan hari ini. CEO perusahaan miliknya di ganti oleh Amber, adik tirinya. Ini membuat Reddick meradang. Bagaimana bisa Amber menjadi CEO? Bukankah ada Bellina di sana. Reddick mengenakan jasnya hendak ke perusahaan Wyclif.
__ADS_1
Di luar pintu, Delvin muncul dengan dokumen di tangannya.
"Kau mau pergi kemana?"
"Wyclif."
"Kau bekerja sama?" tanya Delvin mengerutkan kening.
"Tidak. Aku ingin tahu sesuatu."
"Belakangan ini kau bergerak sendirian. Apa itu? Tidak biasanya kau melakukannya sendiri." Delvin tahu benar bagaimana pria ini menjalani hidupnya. Ia tidak suka hal merepotkan. Semuanya di serahkan pada Delvin.
"Emm ... Kamu tidak akan setuju ini. Jadi aku melakukannya sendirian Delvin." Reddick mencari alasan.
"Wyclif atau Bellina?" Reddick akui ketajaman insting Delvin bagus. Tebakan Delvin benar. Hanya saja, ia tidak mau mengambil resiko kecurigaan yang makin membesar. Ia ingin mencari informasi sendiri. "Melihat kau diam, itu berarti salah satunya. Atau bahkan keduanya."
Reddick menghela napas.
"Kau tidak akan setuju jika aku mendekati Bellina." Reddick mengambil alasan seperti ini. Karena alasan ini yang masuk akal sekarang.
"Bellina? Lagi?"
"Lihat reaksimu, Delvin. Aku tidak mau mendapat ekspresi tidak setuju seperti itu," tunjuk Reddick menetralkan suasana tegang tadi.
"Bellina sudah terang-terangan menolakmu Lion. Kenapa kau masih bersikeras mendekatinya? Itu bukan seperti kau biasanya," kata Delvin.
"Mungkin seleraku berubah. Mungkin seperti itu. Aku harus pergi sekarang Delvin. Aku ingin membuktikan sesuatu. Jika aku sudah mendapat jawaban yang tepat, aku akan katakan padamu semuanya." Reddick bersungguh-sungguh. Ia harus mencari tahu lagi soal keluarganya.
"Aku tidak tahu apa itu, tapi aku ada di sini untuk membantumu."
"Tentu Delvin." Reddick menepuk lengan Delvin dan melesat pergi.
__ADS_1
...______________...