
Reddick dan Bellina terkejut. Itu pertanyaan aneh.
"Ada apa ibu? Kenapa ibu bertanya seperti itu?" tanya Bellina heran.
"Kalian ini ... pura-pura menikah bukan?" tanya ibu dengan suara dan tubuh gemetar. Sepertinya kalimat yang beliau katakan mengguncang perasaan ibu sendiri.
Mendengar ini bola mata Bellina melebar terperangah. Reddick juga terkejut.
"Kalian ini menikah bukan karena cinta bukan?" tanya ibu lagi yang membuat atmosfer di ruang perawatan ini berubah sendu. Lagi-lagi ibu bertanya dengan suara bergetar. Apalagi bola mata beliau tampak berkaca-kaca. Ibu sedih.
"A-apa yang ibu katakan?" tanya Bellina berusaha menyangkal.
"Ibu tahu Nak. Ibu mendengar apa yang kalian berdua bicarakan," ungkap ibu. Kali ini bahkan air mata ibu tampak menetes. "Ibu ini ..." Ibu pun menangis.
"Ibu ..." Bellina pun mulai berkaca-kaca. Reddick mengetatkan geraham menahan rasa pedih melihat keduanya bersedih.
"Bellina bukan sengaja melakukannya ibu," kata Reddick.
"Lion!" sergah Bellina yang tetap tidak ingin ibu tahu bahwa mereka menikah pura-pura. Dia tidak ingin mengaku.
"Kalian ... Uhuk! Uhuk!" Karena memaksa bicara banyak, ibu mulai terbatuk-batuk.
"Ibu harus istirahat. Jangan banyak bicara," perintah Reddick seraya mendekat ke kepala ranjang, lalu membantu ibu menempatkan punggungnya dengan nyaman. Setelah itu mengambil air untuk ibu. "Ibu minumlah." Dengan cekatan dan penuh perhatian Reddick memperlakukan ibu
Namun tiba-tiba ibu kesulitan bernapas lagi.
"Ibu! Lion!" Bellina panik lagi.
"Panggil dokter Bellina!" teriak Reddick.
Bellina masih panik. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Mendengar ada teriakan dari bos mereka, orang yang ada di luar masuk.
"Ada apa Tuan?" tanya mereka.
"Panggil dokter! Cepat!" teriak Reddick. Mereka mengangguk. Melalui alat nurse call, pengawal itu menghubungi perawat yang langsung terhubung dengan dokter.
...***...
Dokter dan perawat sudah menangani ibu di dalam ruang perawatan. Semua orang di harap keluar lebih dulu.
Bellina menjauh dari pintu ruang ibu dirawat. Ia mengusap wajah dengan kesal sembari menatap dinding kaca. Reddick menoleh. Setelah itu ia mendekat. Bellina memutar tubuhnya menghadap pria ini.
"Aku teledor Lion. Aku teledor," ujar Bellina dengan rasa sesal. Ia mencoba menahan marah.
"Kita, Bellina. Kita berdua teledor," ralat Reddick yang tidak ingin perempuan ini menyalahkan dirinya sendiri.
"Ibu sudah tahu semuanya. Bagaimana ini?" tanya Bellina tidak tenang.
__ADS_1
"Ibu tidak apa-apa, Bellina."
"Aku ... Akulah penyebab kesehatan ibu menurun. Itu pasti karena beliau mendengar semua yang kita bicarakan,” kata Bellina mengambil kesimpulan.
“Mungkin.”
"Lalu bagaimana Lion?" tanya Bellina seraya menyentuh lengan Reddick.
"Kita tunggu saja bagaimana kesehatan ibu dari dokter."
"Aku ... aku ..." Bellina menangis tersedu-sedu sambil menunduk dengan memegangi lengannya. Reddick melepaskan tangan perempuan ini dari lengannya. Kemudian memeluknya. Tangis Bellina makin menjadi.
...***...
Setelah beberapa hari, kesehatan ibu pulih. Ini lebih cepat dari perkiraan dokter. Bahkan ibu bisa pulang besok. Sungguh mengejutkan dan ajaib. Itu hal membahagiakan bagi Bellina.
"Bagaimana dengan pernikahan pura-pura kalian?" tanya ibu saat mereka menjenguk.
"Jangan membahas itu lagi, Ibu," cegah Bellina. Dia tidak ingin melihat ibu seperti waktu itu.
"Supaya kamu tidak bisa memberi tahu Ibu apa yang terjadi? Begitu?" tanya ibu tidak setuju Bellina enggan bicara soal itu.
"Bukan itu ibu." Bellina kehabisan kata-kata.
"Lalu apa?" seloroh ibu.
"Ibu tidak apa-apa. Ibu ingin tahu, dan ibu tidak apa-apa," tegas ibu.
"Tapi ..." Bellina masih tidak ingin mengungkap semua.
"Ibu harus tahu yang sebenarnya, Bellina." Ibu sudah mengatakan dengan serius. Bellina tidak bisa lagi membantah. Dia akhirnya mengatakan pada ibu tentang kisahnya dengan pria yang diperkenalkan sebagai suami.
"Jadi kalian menikah karena terperangkap ibu Reddick?" tanya ibu berusaha mengerti ceritanya.
"Ya." Bellina menganggukkan kepala. Sepertinya meskipun Bellina ingin menutupi, ibu tidak akan percaya. Bellina terpaksa mengakui.
"Wajar jika mereka melakukannya. Keluarga itu ingin menyingkirkan kamu yang jadi pewaris sah harta suamimu," kata Ibu.
"Padahal aku tidak menginginkan harta Reddick, Ibu. Aku hanya memakai harta yang di miliki aku karena hasil bekerja di perusahaan milik Reddick."
"Ibu mengerti, Nak. Ibu tahu siapa kamu."
Reddick merasa bersalah. Apa yang ia kerjakan dulu sampai harus mengabaikan Bellina dan ibunya ini? Beribu penyesalan memasuki hatinya.
"Kamu pasti menderita juga ikut dalam permainan mertua Bellina. Kamu pasti kesulitan. Maafkan ibu dan Bellina," kata ibu pada Reddick tulus.
__ADS_1
"Tidak Ibu. Saya tidak merasa kesulitan sama sekali. Saya baik-baik saja. Meskipun menikah pura-pura, sebenarnya saya mencintai Bellina, Ibu," ungkap Reddick serius.
Bellina terkejut bukan main. Dia yang duduk di kursi, mendongak. Lalu menatap pria ini dengan tertegun. Ibu melirik ke arah putrinya. Beliau paham.
"Ibu tahu kamu pria baik. Jika bukan pria baik, kamu tidak akan memperlakukan Bellina dan ibu seperti ini. Kamu pasti tidak akan peduli," ucap ibu sambil tersenyum. Senyuman misterius.
"Ibu ..." Bellina memeluk ibu. "Maafkan aku ibu ..."
Ibu menepuk punggung putrinya dengan perasaan sedih.
"Beban kamu berat, putriku. Maafkan ibu juga sudah membuat kamu menderita," kata Ibu membuat Bellina melepas pelukan.
"Tidak. Ibu tidak membuat Bellina menderita. Jangan berkata seperti itu ibu ...." Air mata Bellina terus saja berderai. Tangan ibu terulur mengusap air mata yang menetes di pipi putrinya.
"Beruntung kamu bertemu pria tampan yang baik ini," ujar ibu sambil menunjuk Reddick dengan bola matanya. Bellina hanya melirik sebentar setelah menyeka air matanya.
...***...
Ibu ingin istirahat. Mereka berdua memilih pulang. Mobil Reddick berjalan di aspal dengan tenang, tapi suasana di dalam mobil malah sebaliknya. Meskipun Bellina tidak mengatakan apa-apa, Reddick merasa tertekan. Firasat mengatakan akan terjadi sesuatu sebentar lagi.
"Apa yang kamu katakan pada ibu tadi, Lion?" tanya Bellina. Reddick menoleh sebentar. Lalu kembali melihat lurus ke depan. Bellina menatap Reddick dengan tajam.
"Katakan soal apa?"
"Soal kamu yang mencintaiku," jawab Bellina tegas.
"Apa yang perlu aku katakan?" tanya Reddick masih menatap lurus ke jalanan di depannya.
"Kenapa kamu mengatakan hal yang aneh seperti itu? Bukankah kita ini menikah untuk sebuah bisnis. Kamu membantuku. Itu saja," kata Bellina.
"Ya. Aku membantu mu."
"Lalu apa yang kamu katakan pada ibu? Itu akan membuat ibu salah paham. Aku bisa repot nantinya," kata Bellina kesal. Reddick menepikan mobil. Dia menghela napas sebelum bicara.
"Kenapa kamu repot, kalau ibu salah paham?"
"Hei, Lion. Kita ini tidak akan menikah sungguhan bukan? Jika ibu berpikir kamu baik karena kamu mencintaiku, ibu akan sulit melepas kamu sebagai menantunya. Ibu akan terus saja mendesak aku untuk tetap menikah dengan mu," tunjuk Bellina kesal pada Reddick dengan bola matanya.
Mendengar ini Reddick tersenyum. Dia bahagia.
"Bagaimana jika yang aku katakan adalah kejujuran. Bagaimana jika itu adalah perasaanku yang sebenarnya padamu?"
"Kamu sudah katakan kalau pernikahan ini murni, karena kamu yang ingin membantuku.”
"Aku tidak mungkin membantumu jika tidak mencintaimu, Bell. Aku katakan lagi, aku mencintaimu," ungkap Reddick dengan sorot mata hangat. Dia menatap dalam Bellina yang melebarkan bola matanya.
...____
...
__ADS_1