Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 46 • Berkunjung ke rumah ibu


__ADS_3

Saat seperti ini, Bellina ingin melihat keadaan ibu. Dia sengaja menyiapkan baju ke dalam tas pergi sendirian. Apakah ini perjalanan rahasia? Bukan. Hanya saja Belina belum memberitahu Reddick soal kepergiannya. Ia menunggu waktu yang tepat, yaitu mengatakannya secara mendadak hingga tidak dapat di cegah.


Saat itu Reddick melintas di depan kamar Bellina yang terbuka dan menghentikan langkah. Ia mendekat pada pintu. Lalu berhenti di depannya. Meskipun pernah masuk ke dalam kamar ketika perempuan ini pingsan karena menemukan tubuh Reddick, pria ini tidak serta merta merasa intim hanya karena sudah menguak jati diri yang sebenarnya. Dimana dia adalah Reddick asli.


"Kenapa mengemasi bajumu? Apakah aku lupa kalau kita ada janji untuk bepergian?" tanya Reddick mencoba mengingat. Bellina sedikit terkejut dengan teguran ini hingga berjingkat seraya mendongak. "Maaf, membuat kamu terkejut." Reddick menyadari kekeliruannya.


Bellina menghela napas lega.


"Tidak. Kita tidak ada jadwal untuk berpergian."


"Lalu, ada apa ini? Kenapa kamu mengemas pakaianmu?" Reddick menggunakan bola matanya untuk menunjuk tas di atas ranjang.


"Aku mau ke rumah ibu," jawab Bellina akhirnya.


"Ada apa? Ada hal yang darurat? Ibu kenapa?" tanya Reddick cemas. Itu raut wajah yang tidak di buat-buat. Pria ini sungguh cemas pada ibu.


Bellina tertegun dengan pertanyaan yang beruntun ini. Namun dia sadar jika itu adalah bentuk sayang pada mertuanya. Ya. Bukankah Reddick memang menantunya? Baik itu sekarang maupun sebelum menjadi Lionel.


Dia baru mengerti arti rasa peduli pria ini pada ibunya sekarang.


"Bellina," panggil Reddick untuk membuyarkan lamunan perempuan ini.


"Oh, ya. Ibu tidak apa-apa. Beliau baik-baik saja. Hanya saja aku ingin menjenguk ibu," kata Bellina dengan agak cepat.


"Kamu berangkat sekarang?" tanya Reddick yang sepertinya terkejut.


"Ya. Maaf, aku tidak memberi tahu kamu sebelumnya." Bellina menyembunyikan fakta bahwa dia sebenarnya sudah merencanakannya.


"Tidak apa-apa. Aku akan ikut denganmu."

__ADS_1


"Apa? Bukannya kamu mau berangkat kerja sekarang?"


"Ya, tapi aku akan serahkan pada Delvin. Jadi aku akan bersiap," jawab Reddick enteng.


"Tunggu Reddick," cegah Bellina untuk pria ini melangkah. Dada Reddick berdesir. Dengan yakin Bellina memanggil namanya. Itu pencapaian yang menyenangkan. Tubuh Reddick berbalik. Bellina meninggalkan kegiatannya dan menghampiri Reddick di dekat pintu.


"Kamu akan melimpahkan pekerjaanmu pada orang lain?" tanya Bellina heran. Lagi.


"Benar."


"Bukankah kamu tidak suka itu? Kamu tidak percaya pada siapapun untuk melakukan pekerjaanmu." Bellina tahu benar bahwa Reddick orang yang sangat suka bekerja.


"Itu dulu." Ada rasa senang ketika Bellina masih mengingat dirinya. "Aku yang sekarang tidak akan membuang waktu untuk pekerjaan jika itu menyangkut tentang keluargaku. Ibu dan kamu," ujar Reddick dengan lembut. Ada rasa hangat memasuki relung hati Bellina. Kalimat ini bahkan membuat Bellina langsung gugup.


"Aku tidak apa-apa. Aku bisa berangkat sendiri." Bellina mengatakan itu dengan gerakan canggung.


"Ya. Terserah kamu."


"Aku akan bersiap dengan cepat. Jadi jangan tinggalkan aku Bellina." Setelah mengatakan itu Reddick pergi. Hhh ... Bellina memejamkan mata sebentar.


"Jika dia seperti itu, aku jadi bingung. Karena meskipun itu Reddick, tubuhnya tetap milik Lionel," ujar Bellina. Ia masuk lagi ke kamar dan meneruskan menata bajunya lagi.


***


Persiapan mereka begitu cepat. Reddick juga sudah mengatakan pada Delvin untuk menangani masalah di kantor. Ibu yang melihat keduanya muncul disana terlihat bahagia. Beliau memeluk Bellina erat. Lalu menerima uluran tangan Reddick untuk mencium punggung tangan beliau.


"Masuklah." Tangan ibu melingkar pada punggung putrinya. "Ibu sudah menunggu kalian berdua."


"Maafkan kami tidak cepat melihat ibu," ujar Reddick.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ibu tahu kalau kalian mungkin sibuk," ujar ibu mengerti. "Ibu hanya tidak enak, jika bersenang-senang sendiri tinggal di rumah yang sudah di renovasi oleh suami putri ibu."


"Ini untuk ibu. Jadi wajar jika ibu menikmatinya sendiri," serobot Reddick. Ibu tersenyum.


"Apa yang bisa di berikan ibu untuk membalasnya. Kamu begitu baik meskipun putri ibu sungguh kejam menjadikan mu suami palsu," ujar ibu melirik Bellina.


Mendengar ini Bellina tidak marah. Dia malah menunduk apalagi ketika Reddick menatapnya. Bibir Reddick tersenyum. Dia pasti punya pikiran yang sama dengan Bellina. Karena dalam benak mereka tahu, kalau keduanya sebenarnya bukan suami istri palsu lagi. Hanya saja tidak mungkin mereka mengatakan pada ibu soal itu.


Karena tidak ingin larut dalam kecanggungan karena Reddick terus saja menatapnya, Bellina berdiri.


"Mau kemana?" tanya Reddick.


"Aku mau membawa tasku ke kamar. Kamu teruskan saja bicara dengan ibu. Aku akan kembali setelah meletakkannya," kata Bellina.


"Kenapa tidak sekalian saja. Jadi kamu bisa tunjukkan kamarnya," kata ibu.


"Oh, baiklah. Dimana kamar untuk dia?" tanya Bella.


"Bukannya kamu tahu letak kamar kamu yang baru?" tanya ibu membuat kening Bellina mengerut.


"Ya, lalu kamar dia?" tunjuk Reddick oleh Bellina.


"Bukankah kamar yang bisa di tempati hanya dua. Kamar ibu dan kamar kamu," kata ibu membuat Bellina melebarkan mata.


"Jadi?"


"Ya. Bukankah kamu sendiri yang mendadak datang tanpa memberitahu ibu dulu?" Ibu tidak bisa di protes karena benar. Ini membuat Reddick yang awalnya bingung, kini tersenyum. "Jadi tidak ada kamar lainnya." Ibu mempertegasnya.


...______...

__ADS_1


__ADS_2