
Reddick tiba di perusahaan dengan cepat karena begitu ingin bertemu dengan Lionel. Dia langsung menuju ke ruangan Delvin.
"Aku datang," kata Reddick muncul di ambang pintu ruangan Delvin. Pria itu ada di sana, Lionel. Dia sedang melihat ke arahnya.
Lain dengan Delvin yang tidak menoleh sama sekali padanya. Pria itu tertegun sendiri melihat tubuh Reddick di depannya. Mungkin dia sangsi, apa benar itu Lionel yang ia kenal.
"Delvin," panggil Reddick membuyarkan lamunan Delvin.
"Ya?" Delvin terkesiap mendengar panggilan itu.
"Sebaiknya kamu siapkan minuman untuk Lionel," kata Reddick ketika melihat tidak ada apapun di atas meja.
"Oh, benar." Delvin mungkin terlampau merasa tertegun hingga lupa memberi suguhan untuk pria ini. Lionel menoleh pada Delvin yang pergi menjauh dari sofanya.
"Aku berterima kasih kamu sudah mau datang memenuhi permintaanku," ujar Reddick seraya duduk di depan Lionel. Pria itu mengangguk.
"Tidak perlu. Bukankah kita memang seharusnya bertemu? Kita kan satu jiwa," kata Lionel punya arti tertentu. Reddick tersenyum. Benar. Mereka adalah satu bagian yang tidak bisa di pisahkan.
"Kamu bisa meminta yang kamu inginkan. Karena ini sebenarnya perusahaan mu sendiri," kata Reddick merasa tidak memiliki sepenuhnya perusahaan ini. Karena sejatinya semua ini tetap milik Lionel.
"Aku tidak begitu ingat punya perusahaan ini, tapi aku merasa kenal dengan tempat ini," ujar Lionel seraya mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Tidak ingat?" tanya Reddick terkejut. Dia melihat Lionel dengan keheranan. "Apa maksudmu tidak ingat?" serbu Reddick.
Delvin muncul bersama salah satu staf perempuan yang membawakan minuman untuk Lionel. Setelah itu perempuan itu pergi. Delvin duduk kembali ke sofa tempat ia duduk tadi.
Reddick menatap Delvin dengan banyak tanya. Awalnya Delvin tidak mengerti, kenapa Reddick menatap dirinya dengan kening berkerut. Namun sesaat dia sadar bahwa Reddick melihat ke arah Lionel yang duduk di depan mereka, lalu memberi kode padanya untuk bertanya.
"Dia tidak mengingatku," kata Delvin membuat netra Reddick membuntang. Raut wajah Delvin terlihat terluka. Lalu mata Reddick berkedip seraya menatap ke arah Lionel lagi.
__ADS_1
"Kalian sedang membicarakan aku?" tanya Lionel terkekeh. Reddick tidak mengerti. Dia menatap Delvin penuh tanya.
"Maaf, Reddick sepertinya tidak percaya kalau kamu tidak mengingatku," ujar Delvin pada Lionel. Mereka berbincang seolah orang asing yang baru bertemu. Ini aneh bagi Reddick.
"Sudah aku bilang kalau aku tidak terlalu ingat punya perusahaan ini. Namun temanmu ini bilang bahwa dia adalah bawahan ku. Hmmm ... mungkin saja aku memang punya bawahan karena aku adalah pemilik perusahaan ini bukan?" Lionel memegang dagunya. Menggosoknya pelan sambil berpikir.
"Namun bukannya kamu tahu soal Agatha? Jadi kenapa kamu tidak begitu tahu tentang perusahaan mu sendiri bahkan kamu tidak mengenal Delvin?" tanya Reddick.
"Kenapa gusar? Bukannya itu lebih menguntungkan kamu? Kamu bisa menguasai semuanya," kata Lionel dengan santai.
"Jika aku bisa memilih, aku memilih kembali pada tubuh masing-masing daripada harus seperti ini, Lion." Reddick serius mengatakan ini. Karena dengan tubuh ini, dia tidak bisa di cintai perempuan itu. Bellina tetap teguh mencintai suaminya meskipun Reddick di anggap meninggal. Ketakutan Reddick dengan kemunculan tubuhnya yang di huni oleh Lionel bukan karena akan kehilangan harta. Dia hanya takut Bellina akan kembali jatuh cinta pada tubuh Reddick yang di kenalnya sebagai suaminya.
"Padahal kamu sudah ada dalam keberuntungan yang lebih baik daripada aku Reddick, tapi kamu tidak puas?" tanya Lionel seakan terluka Reddick bicara seperti ini.
"Keberuntungan apa yang kau maksud?" tanya Reddick tidak suka. "Menjadi orang lain itu bukan suatu keberuntungan Lionel. Ini adalah hukuman." Netra Reddick membulat keras ingin menunjukkan bahwa hukuman itu ada.
"Kalian sama-sama memiliki perusahaan. Aku yakin kekayaan kalian hampir sama. Aku rasa tidak ada yang kurang atau lebih beruntung. Jadi keberuntungan apa yang kau maksud?" tegur Delvin yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" desak Reddick. Lionel menatap Reddick agak lama.
"Banyak." Bola mata Lionel tampak lelah. "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Agatha. Apa dia pernah mengatakan padamu tentang ayahku?" tanya Reddick.
"Oh, Tuan Wycliff? Tidak."
"Lalu apa yang kamu ketahui tentang Agatha?" tanya Reddick sedikit kecewa.
"Aku hanya tahu kalau dia tidak menyayangi anak tirinya. Dan juga soal istrimu. Agatha ingin menyingkirkan kalian berdua. Namun aku tidak tahu apa rencana mereka. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Lionel tidak tahu perkembangan yang ada.
__ADS_1
"Amber sekarang menjadi CEO," jelas Reddick.
"Oh, ambisinya tercapai rupanya ..."
"Kalian berselingkuh di belakang ku?" desis Reddick ingat tentang hal itu.
"Berselingkuh? Dengan Bellina? Huh ... " Lionel mendengus. "Dia cantik, tapi sedikit sadis. Dia termasuk wanita yang susah di dekati. Jangankan untuk berselingkuh, mengobrol saja Bellina sangat membatasi diri. Jadi selingkuh adalah urusan yang salah jika itu tentang Bellina."
Apa yang dikatakan Delvin benar. Lionel tidak berselingkuh dengan Bellina. Delvin melirik Reddick yang menundukkan pandangan. Pria ini menatap Lionel lagi. Sungguh menyesakkan melihat Lionel tidak mengenalnya. Pria yang menjadi bos dan juga temannya itu lupa siapa dirinya.
Ponsel Lionel berdering. Ia menempelkan ponsel pada telinganya. "Halo. Ya, baik. Aku akan segera kesana." Lionel menutup ponselnya. "Ada keperluan mendesak. Aku harus pulang," ujar Lionel seraya beranjak berdiri.
"Kamu sudah mau pergi? Kita belum selesai bicara," kata Reddick.
"Tidak. Ini mendesak." Lionel menolak untuk tinggal lebih lama.
"Apa tujuan mu muncul di depan rumah dan perusahaan ini?" tanya Reddick mencegah langkah Lionel. "Seperti aku. Seharusnya kamu muncul lebih dulu di rumah keluarga Wycliff, bukan rumah ini. Lalu kamu menjalani hidupmu sebagai Reddick Wycliff, bukan menghilang dan baru muncul sekarang."
Lionel diam. Lalu tersenyum kemudian. "Seperti yang aku bilang, kehidupan kita berbeda. Kamu jauh lebih beruntung dari aku."
"Aku tidak mengerti. Katakan sesuatu yang membuatku paham, Lionel?" desak Reddick tidak sabar. Delvin sampai perlu menahan lengan pria ini. Lionel melihat ke sekitar. Dia mendekat pada meja kerja Delvin dan menuliskan sesuatu di sana.
"Cari alamat itu dan temukan semua hal yang ingin kamu ketahui tentangku. Juga perkataan kenapa kita berbeda. Aku pergi," kata Lionel bergegas keluar. Melihat dia yang terburu-buru, keadaan memang mendesak.
Setelah Lionel menghilang, dua pria ini melihat ke arah meja. Dimana Lionel menuliskan sesuatu.
"Apa yang ia tulis?" tanya Reddick. Delvin yang berdiri lebih dekat dengan meja mengambil kertas yang berisikan tulisan Lionel.
"Seperti yang ia katakan. Ini sebuah alamat." Delvin menyerahkan pada Reddick setelah membacanya sebentar.
__ADS_1
..._____...