Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 29 • Rapat


__ADS_3

Rapat pemegang saham kembali di gelar di perusahaan Wycliff. Ini mengejutkan karena rapat saat menentukan siapa CEO perusahaan Wycliff saat itu baru saja di gelar. Jadi ini soal apa lagi?


Bellina datang bersama Reddick. Tatapan orang-orang pun masih sama. Tetap memandang rendah Bellina karena di anggap sebagai penggoda dan pengkhianat. Namun Bellina tetap mantap berjalan masuk ke dalam ruang rapat yang sudah di siapkan perusahan keluarga Wycliff.


"Kamu masih saja ada di sana, Bellina. Sungguh tidak tahu malu," cela Amber.


"Aku masih tetap di sini selama aku mau. Karena memang Reddick yang memberikan ini untukku," kata Bellina berani membuat Amber bungkam. "Lagipula kamu sudah mengambil semuanya. Kenapa harus mempermasalahkan harta yang hanya secuil ini? Bukankah kalian terlalu rakus?" tanya Bellina dengan kening mengerut.


"Tutup mulutmu penggoda. Kamu yang hanya bisa menjajakan tubuhmu ..."


"Bellina tidak pernah menyodorkan tubuhnya padaku. Aku tidak pernah menyentuhnya. Bukan dia yang juga ingin mendekatiku, tapi akulah yang menginginkannya," potong Reddick pada kalimat Amber.


"Cih. Kalian ini sama-sama memuakkan." Amber segera menjauh dari mereka.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reddick mencoba melihat keadaan Bellina. Wanita ini seringkali bersikap tidak apa-apa saat hatinya tidak baik-baik saja.


"Ya. Aku tentu tidak ingin hancur saat melawannya," kata Bellina. Namun apalagi yang di harapkan Reddick. Perempuan ini pasti bersikap seperti ini. Ia pantang terlihat lemah.


Tetaplah kuat hingga aku bisa kembali ke dalam tubuhku, Bellina. Aku ingin kembali padamu.


 


...******...


 


Keluar dari rapat, Reddick memukul sofa dengan kesal.


Masih ingat dengan jelas kata-kata Amber tadi ... "Untuk mencegah kepalsuan kepemilikan saham, diharap pertemuan yang akan di adakan lagi, semua wajib menunjukkan surat kepemilikan saham. Termasuk surat jual beli."


"Apa-apaan itu tadi? Harus menunjukkan bukti surat pembelian dan kepemilikan saham? Pembicaraan yang tidak masuk akal dan hanya omong kosong." Reddick marah.


"Tidak apa-apa Lion. Tentu aku bisa menunjukkan buktinya pada mereka," kata Bellina.


"Aku yakin itu Bellina. Namun kamu pasti tahu, Amber sengaja melakukan itu untuk mendesak mu. Dia sengaja mengincar mu." Reddick tidak terima.


"Mereka selalu menganggap aku musuh. Tentu saja mereka tidak senang aku masih muncul di sekitar mereka. Jika ayah mertua bangun, mereka akan kewalahan. Karena atas nama Reddick, ayah mertua pasti membelaku," ucap Bellina yakin.


Papa. Dalam tubuhku sendiri aku kurang dekat dengannya. Rupanya pilihannya untuk menjodohkan ku dengan Bellina adalah benar. Itu bukti bahwa papa memilihkan yang terbaik untukku. Hanya aku saja yang kurang bisa memahami.


Sekarang, bagaimana keadaanmu papa? Kamu pasti tersiksa hidup dengan perempuan ular itu. Maafkan aku meninggalkan mu sendirian.

__ADS_1


Reddick muram karena mengingat papanya yang masih terbaring tidak berdaya di rumah sakit.


"Bagaimana jika orang yang aku lihat itu adalah Reddick. Dia adalah Reddick yang asli." Bellina masih ingat dengan apa yang ia lihat di rumah sakit waktu itu. Reddick diam. Ia ingin bilang pada Bellina bahwa itu mustahil, tapi keadaan dirinya sendiri mengatakan bahwa mustahil itu ada.


"Bukankah Reddick sudah meninggal?" tanya Reddick ingin mengetahui sejauh mana Bellina mempercayai sebuah takdir yang mustahil.


"Ya. Aku tahu. Aku bahkan sering ke makamnya. Namun ... Apa kamu masih ingin mendengar apa yang aku bicarakan, Lion?" tanya Bellina ragu.


"Ya."


"Ini hal yang mustahil. Tidak masuk akal. Apa kamu mau mendengarnya? Aku takut kamu menertawakan aku." Bellina masih ragu.


"Aku mau mendengarnya. Aku tidak mungkin menertawakan mu. Bicaralah Bellina." Reddick tahu benar hal mustahil adalah hal yang paling wajar untuknya sekarang. Jadi dia tidak perlu ragu mendengarnya dari bibir perempuan ini.


"Aku yakin Reddick masih hidup Lionel," ungkap Bellina dengan wajah takut. Mungkin takut kalau dirinya akan mencibir. Karena itu adalah pengakuan yang mustahil.


"Kenapa kamu merasa dia masih hidup, Bel? Kamu sendiri melihat dia jatuh dari atap gedung perusahaan?" tanya Reddick setelah menelan ludah karena mendengar pengakuan bahwa Bellina percaya bahwa dirinya masih hidup.


"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjelaskan. Namun aku merasa Reddick mengawasi ku. Dan rasa ini lebih terasa setelah kematiannya. Aku merasa di lindungi," kata Bellina.


Deg, deg, deg. Debar di dada Reddick terasa kencang. Mendengar Bellina merasakan keberadaannya, Reddick ingin mengaku bahwa inilah dirinya. Namun itu tidak mungkin.


Aku rindu, Bel. Terima kasih sudah mempercayai bahwa aku masih ada.


"Tidak ada hal yang mustahil, Bell. Semua bisa saja terjadi," ujar Reddick menunjukkan dia percaya.


"Kamu juga yakin bahwa Reddick masih hidup?"


"Ya."


"Benarkah?"


"Aku mencoba percaya. Aku ingin mendukungmu. Jadi aku akan mengerahkan kemampuanku untuk mencari pria yang kamu yakini adalah Reddick," janji Reddick dengan meyakinkan.


"Terima kasih Lion."


Bukan hanya Bellina. Dirinya juga ingin tahu siapa pria itu.


Jika itu memang Lionel, kenapa dia tidak langsung mendatangi rumahnya? Bukankah dengan begitu semua akan jelas?


Telepon genggam milik Reddick berbunyi. Itu Delvin.

__ADS_1


"Ya, Delvin. Ada apa?"


"Kamu tidak percaya apa yang aku temukan, tubuhmu muncul di depan rumah Lionel dan gedung perusahaan, Red," kata Delvin membuat bulu kuduknya merinding.


"Benarkah?" Raut wajah Reddick menegang dan membentuk aura horor.


"Ya. Aku sedang ke ruangan keamanan. Mengecek laporan yang dikirim oleh kepala keamanan."


"Tunggu di sana. Aku akan segera datang."


"Apa rapat pemegang saham Bellina lancar?" tanya Delvin. Dia tahu bahwa Reddick tengah mendampingi Bellina.


"Ada sedikit keanehan. Kita bahas nanti. Aku ingin segera pulang dan melihat sendiri."


"Baiklah."


Reddick menutup ponselnya.


"Ada apa, Lion?" tanya Bellina yang sejak tadi memperhatikan pria ini.


"Kita harus segera pulang."


"Ada apa dengan rumah?" tanya Bellina beranjak berdiri. Ia membawa tasnya.


"Kita pulang ke perusahaan. Ada hal yang ingin di tunjukkan Delvin pada kita," sahut Reddick.


"Apa itu?" tanya Bellina saat Reddick membimbingnya menuju ke mobil.


"Kamu akan tahu sendiri saat melihatnya."


"Melihat?" tanya Bellina bingung.


"Masuklah." Reddick membuka pintu mobil untuk perempuan ini. Kemudian dia memutar dan masuk juga ke dalam mobil. "Aku akan menjalankan mobil agak cepat. Informasi ini mungkin akan menguak tentang apa yang mengganjal di pikiranmu Bellina."


"B-benarkah?" tanya Bellina gugup tiba-tiba. Reddick tersenyum seraya mengusap lengan perempuan ini hangat.


"Ya. Bukankah aku sudah janji?" Reddick menyentuh kepala Bellina dan mengelusnya. "Karena aku mencintaimu, aku akan lakukan apapun untukmu." Bellina terkejut melihat perlakuan pria ini yang makin hangat dan lembut. Ia merasakan telinganya panas.


Tanpa sadar Bellina menggigit bibir bawahnya. Reddick melihat itu. Pandangannya teralihkan. Reddick ikut menatap bibir yang baru saja di gigit dan di basahi oleh lidah. Geloranya memekik hebat.


Aku ingin menciumnya!

__ADS_1


..._______...



__ADS_2