
Reddick tidak mempercayai kalimat yang keluar dari bibir Bellina. Dia menatap perempuan ini dengan tatapan terheran-heran. Apakah yang aku dengar itu benar? tanya Reddick dalam hati.
Karena melihat ekspresi Reddick yang terkejut, Bellina menyadari sesuatu. Ternyata ia salah bicara. Kalimatnya terdengar ambigu. Bahkan sepertinya lebih menjurus ke hal yang sensual. Padahal yang ia maksud bukan seperti itu.
"M-maksudku, kita bisa berbagi ranjang. Kamu tidur di sisi kiri dan aku di sisi kanan." Bellina meralat kalimatnya sekaligus menjelaskan. Kini Reddick mengerjapkan mata mendengar penjelasan itu.
"Aku cukup tidur di sembarang tempat, Bella," kata Reddick menentramkan hatinya. Ia sempat berdebar mendengar kata-kata perempuan ini. Namun kini ia paham kalau itu hanya salah bicara saja.
"Tidur di ranjang, atau aku keluar dari kamar," ancam Bellina. Dia paham benar bagaimana Reddick akan gelisah ketika bukan tidur di atas ranjang. Itu akan menyiksanya juga.
"Oke, baik Bellina." Reddick patuh. Sebenarnya dia senang sekali dengan tawaran ini, hanya saja dia takut kalau dia salah sangka lagi.
Ternyata berbagi satu ranjang dengan Reddick membuat diri Bellina tidak tenang. Ini pertama kali dia dan Reddick dalam satu ranjang yang kecil. Hingga punggungnya menempel pada tubuh Reddick. Jantungnya berdegup kencang. Sepertinya dia gelisah dengan sendirinya.
Reddick sendiri sedang menata debaran di dadanya. Dia tidak tenang. Kepala Reddick menoleh pada tubuh Bellina yang memunggunginya. Demi kebaikan jantungnya, Reddick berencana turun dan memilih tidur di kasur lantai yang ia lihat di dalam lemari tadi.
Ia melongok terlebih dahulu untuk memastikan Bellina sudah terlelap. Sungguh mengejutkan karena mereka berdua ternyata sama-sama ingin memastikan apa keduanya sudah tertidur. Mata mereka beradu.
"R-red?" ucap Bellina terkejut.
__ADS_1
"Maaf, aku pikir kamu sudah tidur." Reddick langsung meminta maaf dengan cepat. Dia takut Bellina marah. Namun perempuan ini hanya menghela napas, tidak marah. Bellina akhirnya ikut bangun.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Bellina seperti sengaja menanyakan itu lebih dulu, untuk menutupi degup jantungnya yang berantakan karena tidur satu ranjang dengan pria ini. Dia yakin Reddick juga gelisah seperti dirinya.
Akhirnya mereka sama-sama duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku gelisah," ujar Reddick. Meski sudah bisa menebak, Bellina tidak menyangka kalau Reddick akan mengatakannya.
"Tentang apa?" tanya Bellina seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu."
Ini sudah kesekian kalinya Reddick bicara terus terang tanpa menutupi sesuatu. Bahkan kali ini Bellina tidak bisa langsung memalingkan wajah karena tatapan Reddick seolah menguncinya.
Itu terdengar aneh. Bukannya dia ada di sampingnya, tapi kenapa Reddick menjadi gelisah? tanya Bellina di dalam hati.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," ujar Bellina tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Berada di dekatmu adalah hal tersulit bagiku. Bukan aku tidak suka, tapi karena terlalu bahagia aku sampai kehilangan kata-kata. Bahkan aku tetap membeku ketika berada di sampingmu seperti ini."
__ADS_1
Bellina memang mencintai pria ini sebelum menjadi suaminya. Bahkan dia juga tetap mencintai Reddick setelah pria itu meninggal. Namun ini pertama kalinya ia berdebar karena kalimat pria ini.
"Aku ... juga belum terbiasa," kata Bellina mengaku. Reddick mengerjap. "Bukan sulit, tapi belum terbiasa. Karena yang sering yang aku lihat adalah kamu menjaga jarak dariku."
"Aku tidak pernah menjaga jarak Bellina," bantah Reddick. "Justru aku merasa tatapan matamu terlalu dingin untukku. Aku merasa kamu malu menjadi istriku."
"M-malu?" Bellina terkejut.
"Ya. Aku adalah pria berkaca mata yang hanya peduli pada pekerjaan. Kamu pasti terpaksa mau menikah denganku karena paksaan ayahku. Jika tidak, kamu pasti tidak akan mau menikah denganku," kata Reddick emosional. Dia ingat tatapan dingin Bellina ketika melihatnya.
"Itu salah Red. Aku tidak malu. Aku juga bukan terpaksa mau menikah denganmu. Itu juga keinginanku. Justru aku berpikir kamu tidak sudi menikah denganku, karena aku hanyalah perempuan biasa. Aku tentu tahu siapa dirimu. Itu membuatku terlihat kaku dan canggung karena menjadi pendamping mu," jelas Bellina. Sepertinya perempuan ini lebih emosional ketika menjelaskan semuanya
Reddick tertegun dengan pengakuan Bellina. Ternyata selama ini mereka salah memahami arti dari sikap masing-masing. Bukan membenci, tapi karena keduanya bersikap kikuk hingga pemikiran yang muncul salah.
"Kamu bukan perempuan biasa, Bellina. Kamu perempuan luar biasa yang membuatku jatuh hati padamu," ungkap Reddick. Mata Bellina berbinar. Suasana hangat nan romantis terasa pekat di sekitar mereka.
Bibir Bellina tidak mampu mengatakan apa-apa lagi.
"Jangan berpaling, Bellina." Reddick berhasil menahan dagu Bellina yang bergerak hendak memalingkan muka. Mereka kembali saling menatap.
__ADS_1
Perempuan ini tampak gugup dan panik ketika tahu bola mata Reddick menatap bibirnya. Namun ketika Reddick mendekatkan bibirnya, Bellina tidak mundur. Bahkan ketika dengan perlahan bibir Bellina tersentuh oleh bibir Reddick, perempuan ini diam. Hingga Reddick berani melu*mat bibir itu dengan lembut. Mereka berciuman.
..._______...