Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 18 • Delvin makin curiga


__ADS_3

Siang hari.


 


"Delvin, apa ada telepon dari Bellina?" tanya Reddick untuk kesekian kalinya.


 


"Tidak."


 


"Kenapa dia tidak menelepon mu?" tanya Reddick cemas. Delvin diam sambil memperhatikan pria yang sudah lama jadi temannya dengan heran.


 


"Bukannya dia hanya ingin menghubungi mu? Jadi tidak mungkin dia meneleponku." Delvin merasa sudah mendapat kepastian bahwa perempuan itu tidak mungkin meneleponnya karena hanya ingin menelepon Reddick.


 


"Ya, tapi mungkin saja dia berpikiran lain," kata Reddick berharap.


 


"Sebenarnya ada apa denganmu? Sejak pulang dari rumah Reddick saat pria itu meninggal, kamu berubah menjadi orang lain," kata Delvin. Reddick menegakkan tubuh.


 


"Tidak mungkin aku menjadi orang lain di Delvin." Reddick memegang dagunya. Sebenarnya ia panik meskipun tahu tidak ada orang yang bisa menemukannya di dalam tubuh Lionel.


 


"Tentu saja aku juga berpikir seperti itu awalnya, tapi kamu makin menjadi berbeda. Bukan Lionel si pecinta wanita. Aku tidak paham apa itu. Kamu berubah. Kali ini semua duniamu berisi tentang Bellina." Jika biasanya Delvin segera menghentikan pertanyaannya, kini ia sedikit mendesak. Tidak seperti saat Delvin bertanya padanya, kali ini dia menunggu sebuah jawaban.


 


"Semua orang bisa berubah kan, Delvin?" Reddick punya alasan tepat.


 


"Tidak sepertimu." Delvin masing memasang tatapan serius.


 


"Kamu percaya kehidupan kedua?" tanya Reddick mencondongkan tubuhnya ke depan.


 


"Apa yang kau bicarakan? Kamu mabuk?"


 


"Sepertinya kau tidak percaya. Aku akan beritahu semua jika kamu percaya itu." Reddick menarik tubuhnya.


 


"Jangan bercanda. Bilang saja kau tidak ingin cerita," dengus Delvin yang hanya di respon senyuman oleh Reddick.


 


Apa ada hubungan kehidupan kedua dengan dirinya yang sekarang berubah? Apa dia memang menjadi orang lain? Meskipun menyangkal tidak percaya, Delvin justru penasaran.

__ADS_1


 


Tok! Tok! Pintu di ketuk membuat keduanya menoleh bersamaan.


 


"Masuk!" perintah Delvin. Seorang karyawan perusahaan muncul dari balik pintu.


 


"Ada nona Bellina."


 


"Bellina? Dimana dia?" Reddick antusias.


 


"Nona ada di lantai bawah. Akan saya beritahu untuk naik ke atas."


 


"Tidak perlu. Biar aku sendiri yang menjemputnya. Terima kasih." Reddick harus menjemput perempuan itu sendiri. Karyawan itu keluar ruangan. "Dia masih canggung padaku."


 


"Di sini sedang menggebu-gebu. Sementara di sana terlihat kaku. Jika kalian pasangan sesungguhnya, kalian itu pasangan aneh. Hanya saja aku tahu pernikahan kalian itu sandiwara, jadi aku mengerti kikuknya kalian." Delvin berkelakar.


 


Reddick hanya mendengus pelan.


 


...***...


 


 


"Bellina," sapa Reddick. Wanita itu menoleh. "Kenapa tidak langsung ke ruanganku? Kamu bisa meminta antar pada orang-orang ku."


 


"Tidak. Lebih baik aku di jemput olehmu. Aku tidak percaya dengan orang lain." Bellina mengatakan itu dengan wajah pedih. Mungkin kekejaman keluarga Reddick membuat perempuan ini trauma. Ia tidak bisa lagi percaya dengan sembarang orang. "Sebaiknya kita segera pergi, Lion,” pinta Bellina tidak tenang. Reddick melihat ke sekitar. Mereka semua ternyata masih memerhatikan dua manusia ini.


 


"Aku bisa memecat mereka semua yang membuatmu tidak nyaman Bellina," kata Reddick serius.


 


"Jangan bercanda."


 


"Kamu tidak percaya?" tanya Reddick. Bellina tidak menjawab. Reddick mengeluarkan ponsel dan menekan tombol. "Halo Delvin. Bisa kau ke ruang keamanan? Aku butuh salinan rekaman cctv di lobi. Waktunya sekitar kedatangan istriku sampai sekarang ...,” kata Reddick membuat Bellina ternganga mendengar kalimat pria di depannya.


 


"A-apa yang kamu katakan Lion? Hentikan." Tangan Reddick di tangkap Bellina agar berhenti menelepon. Reddick melirik ke arah pergelangan tangannya sekilas. Kemudian menatap Bellina.

__ADS_1


 


"Aku membuktikan ucapan ku serius."


 


"Bisa kita segera ke ruangan mu saja?" pinta Bellina cepat. "Aku hanya ingin bertemu denganmu, bukan melihat keributan."


 


Reddick terdiam sejenak. Manik matanya melirik lagi ke arah tangannya yang di tangkap Bellina.


 


"Maaf,” kata Bellina seraya melepaskan tangannya. "Tidak perlu sepeti itu. Biarlah mereka berpikir apa yang ingin mereka pikirkan. Aku tidak ingin melihat keributan."


 


"Kita ke ruanganku." Reddick pun menuruti keinginan Bellina mencegahnya memecat karyawan yang sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan menggossip.


 


Dada Reddick berdebar hanya karena sentuhan itu. Yang dimana bukan sebuah sentuhan sensual. Hanya seperti itu sudah mampu menggerakkan hatinya.


 


Sementara itu Delvin yang tadi di telepon Reddick tengah kebingungan. "Apa yang dikatakannya? Salinan rekaman cctv? Itupun dia memutus pembicaraan tanpa aba-aba dulu. Sebenarnya mau apa Lionel?"


 


...***...


 


Setelah sampai di depan pintu ruang kerja, Reddick membuka pintu untuk Bellina. Ia masuk ke dalam ruangan di sambut senyum oleh Delvin. Pria ini berdiri untuk mempersilakan wanita itu duduk.


 


"Jika Bellina datang, aku akan pergi keluar," kata Delvin tahu diri. Reddick mengangguk. Pria itu pun melangkah menuju pintu dan keluar.


 


Kaki Reddick melangkah menuju mesin intercom di atas meja. "Buatkan minuman hangat untuk istriku," ujar Reddick memberi perintah. Sebutan itu terasa asing di telinga Bellina. Ia merasa tidak tenang saat bibir pria ini menyebutnya istri. "Di depan orang lain kita harus benar-benar seperti sepasang suami istri." Reddick menyadari soal itu. Ia melihat tubuh Bellina gelisah saat sebutan istri keluar dari bibirnya. Itu adalah kode bahwa dirinya perlu hati-hati dalam memakai istilah tersebut.


 


Meski begitu Bellina hanya mengangguk. Dia tidak marah soal itu. Saat di perhatikan, masih ada jejak tangisan di wajah wanita ini. Reddick tahu itu ketika Bellina menangis di makam dirinya.


 


"Kamu bisa meneleponku saja jika ingin sesuatu." Reddick ingin menyembunyikan kegirangannya di temui Bellina, tapi wajahnya cukup jujur soal ini.


 


"Aku ingin bicara suatu hal penting."


 


"Katakanlah. Aku siap mendengarkan mu." Reddick menyiapkan dirinya untuk menjadi pendengar. Apapun yang ingin di lakukan Bellina, dia akan mendukung sepenuhnya. Itulah guna dia diberi kehidupan kedua.


..._________...

__ADS_1



__ADS_2