Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 19 • Pemegang saham


__ADS_3

Ada rapat pemegang saham di perusahaan Wyclif. Semua pemegang saham di perusahaan ini wajib datang melihat perkembangan bisnis perusahaan. Semuanya menanti laporan terbaru.


 


Derap langkah sepatu berhak tinggi di lorong terdengar dari ruang rapat yang belum tertutup. Semua melongok. Muncul Amber berserta Agatha. Mereka adalah CEO dan pemegang saham terbanyak di perusahaan ini.


 


Semua berdiri dan mengangguk memberi salam hormat pada mereka. Agatha tersenyum melihat mereka bersikap sebagai bawahannya.


 


"Silakan duduk," pintanya pada para pemegang saham. Agatha duduk di kursi pimpinan. Di ikuti oleh semua orang yang ada di sana. Namun ada hal yang membuat Agatha mengerutkan kening. Ada beberapa tempat duduk yang belum terisi. "Kenapa para pemegang saham belum datang semuanya?" desis Agatha marah.


 


Semua terkejut dan menoleh pada kursi yang masih kosong sejak tadi. Dengungan orang-orang pun terdengar. Mereka mencari tahu siapa lagi yang belum muncul.


 


Suara langkah kaki seseorang terdengar berhenti di depan pintu ruang rapat. Tidak terlalu keras, tapi karena mereka tengah tegang, suara pintu di buka membuat mereka menoleh serempak. Reddick yang muncul di depan pintu. Semua melihat ke arah pria.


 


"Lionel?" Amber mengernyitkan kening heran. Agatha menoleh. Bibirnya yang tadi tersenyum, kini menipis.


 


"Kamu tahu jika ada perlu denganku harus membuat janji dulu?" tegur Agatha geram.


 


"Itu jika aku hanya ada perlu denganmu," jawab Reddick seraya melihat ke pintu. "Aku tidak sendirian." Kemudian menyusul seseorang di belakangnya, Bellina. Ini makin membuat kedua orang itu terpinga-pinga.


 


"Bellina?" tanya Agatha yang langsung berdiri saking terkejutnya. Semua menoleh ke arah perempuan ini. Kepala Bellina menunduk memberi salam pada semua orang yang ada di sana.


 


"Janda Reddick." Begitu banyak bibir berdesis. Reddick tahu bisikan-bisikan tidak pantas itu.


 


"Duduklah, Bellina." Reddick meminta istrinya duduk.


 


"Tidak," cegah Amber. "Kenapa kalian muncul disini. Ini rapat penting. Kalian yang tidak ada hubungannya dengan rapat ini tidak berhak berada di sini."


 


"Duduklah Bellina." Reddick tetap menarik kursi untuk istrinya.


 


"Hei!" teriak Amber meradang.


 

__ADS_1


Bellina hendak bergerak. Reddick menggelengkan kepala dan meminta Bellina tetap duduk. Amber mendekat dan ingin menarik tangan perempuan ini.


 


"Jangan gunakan tanganmu pada istriku, Amber," desis Reddick saat berhasil menangkap tangan Amber. Lalu menghempaskannya kuat-kuat hingga perempuan itu mundur. Jika tidak di tangkap oleh Robert, perempuan itu akan jatuh terjerembab.


 


"Sebagai CEO perusahaan, aku berhak membuat perintah untuk mengusir mu keluar dari sini. Sekuriti! Cepat usir mereka berdua!!" teriak Amber. Beberapa sekuriti bergegas menuju ke arah Bellina dan Reddick. Namun sebelum sekuriti menangkap Bellina dan Reddick, Agatha mencegah.


 


"Hentikan!! Jangan membuat keributan di sini!" Agatha marah.


 


"Aku tidak membuat keributan. Aku datang dengan baik-baik, tapi putrimu bersikap kurang ajar." Reddick membela diri dengan tenang. Semua orang yang berada disana memperhatikan dengan seksama.


 


"Amber tidak akan bersikap kurang ajar jika kamu tidak muncul di sini, Lion. Kamu itu tamu yang tidak di undang. Memasuki area rapat, dimana kamu tidak punya hak untuk berada di sini," kata Agatha menjelaskan.


 


"Kalian tidak bisa seenaknya mengusir orang tanpa mencari kebenaran dulu. Kamu lupa Amber, siapa Bellina?" tanya Reddick menunjuk ke arah gadis itu.


 


"Tentu saja aku tahu. Dia orang yang sudah mengkhianati kakakku. Dia orang yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Wyclif." Dengan bersemangat, Amber mengejek Bellina.


 


Reddick melihat raut wajah menyebalkan gadis yang biasanya ia kenal dengan kesantunannya. Ini beberapa ekspresi wajah yang tampak asing untuknya. Namun kini ia mulai terbiasa.


 


 


"Bellina sudah menandatangani surat hak pengalihan warisan. Dia tidak punya apa-apa," kata Agatha dengan tegas.


 


"Ya. Dia tidak mendapatkan sepeserpun hak atas harta Reddick, karena kalian memaksanya menandatangani surat hak pengalihan warisan," kata Reddick kembali membuat orang-orang kasak kusuk mempertanyakan itu. Bellina hanya diam mendengarkan di kursinya. "Namun dia masih punya saham atas nama dirinya yang di belikan Reddick. Itu bukan termasuk warisan. Itu miliknya. Silakan cek jika ingin bukti."


 


Semua beralih ke daftar pemilik saham. Dari sekian nama Arbellina di sana.


 


"Ini nama kamu?" tanya Amber tidak percaya pada Bellina.


 


"Ya. Seperti yang tertera di sana. Sebagai pemegang saham yang jarang datang saat rapat, tentu membuat kalian kaget sekarang. Itu dia, Amber. Bellina istriku." Reddick menyunggingkan senyum puas melihat mereka pucat. Ternyata yang ingin di bicarakan Bellina waktu itu adalah ini. Dia punya saham cadangan di dalam perusahaan yang tidak ada seorang pun tahu.


 


Selama ini mereka mengenal nama Arbellina adalah seorang wanita tua. Mereka tidak mengenal pasti siapa itu. Wanita tua itu di kenal sebagai istri simpanan pengusaha. Hanya itu. Meskipun begitu, mereka tetap mau menerima karena uang yang di investasikan pada saham perusahaan ini.

__ADS_1


 


Sialan! Aku luput mengetahui sejak dini kalau ada harta lain milik Reddick selain yang di milikinya. Aku tidak menduga itu akan berupa saham dengan nama istrinya. Aku pikir Reddick tidak mencintai istrinya karena mereka tidak pernah terlihat mesra. Bahkan kamar tidur saja terpisah.


 


Agatha mengepalkan tangannya kuat-kuat.


 


"Baiklah. Jika memang begitu ... silakan duduk dengan nyaman. Lalu kau?" tanya Agatha pada Reddick. Mulut Reddick sudah membuka ingin menjawab, tapi Bellina sudah memberi isyarat padanya. Perempuan ini berdiri.


 


"Sebelumnya, saya meminta maaf pada kalian semua. Hari ini saya kurang enak badan. Ijinkan saya di temani suami saya di sini." Bellina membungkukkan badan meminta ijin.


 


"Tidak masalah." Ternyata semua mengijinkan. Padahal Agatha ingin mengusir Reddick dari ruangan. Dia tidak bisa apa-apa.


 


"Baiklah. Semua bisa kembali tenang dan kita akan melanjutkan rapat pemegang saham kali ini," ujar Agatha mengalah. Namun Amber dan Robert tahu bahwa Agatha sangatlah marah.


 


...****...


 


Usai rapat.


 


Melihat Bellina yang berulang kali memejamkan mata dengan napas tersengal-sengal, Reddick menghentikan laju mobil tepat di depan minimarket.


 


"Minumlah," pinta Reddick setelah membelikan air mineral. Bellina mengangguk samar seraya menerima sodoran botol.


 


Tiba-tiba ia meneguk air itu dengan sangat cepat. Seperti mengeluarkan semua amarah yang sejak tadi di pendam. "Hati-hati Bellina. Kamu bisa tersedak jika minum seperti itu. Hentikan Bellina!" teriak Reddick seraya menahan paksa botol itu untuk berhenti di gerakkan oleh tangan wanita ini. Dia sampai perlu berdiri untuk menahannya.


 


Bellina mengusap air minum yang tersisa di pinggiran bibirnya dengan punggung tangannya yang lain.


 


"Lepaskan tanganmu dari botol, Lion." Bellina mendongak dengan wajah marah dan juga sedih.


 


"Tidak. Jika kamu tetap meneguknya dengan brutal seperti tadi, aku tidak akan melepaskan tanganku," tolak Reddick. Bellina terdiam. "Aku bukan sedang berdebat soal botol minuman. Aku hanya tidak ingin kamu tersedak saat minum. Aku khawatir."


 


Setelah mengatakan itu, Reddick melepas tangannya pelan-pelan dari botol air mineral. Bellina menghela napas berat. Ia meminum lagi air itu dengan perlahan. Kemudian menghela napas lagi.

__ADS_1


...___________...



__ADS_2