Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 38 • Kehidupan Lionel


__ADS_3

"Kalian benar teman, Harold?" tanya perempuan sepuh itu dengan suara sedikit gemetar. Mungkin karena usianya atau perempuan itu sedang sakit.


"Benar. Kami ini adalah teman yang sudah seperti saudaranya." Delvin membenarkan. Dia yang paling dekat dengan Lionel tahu benar hubungan mereka berdua bagai kakak dan adik.


"Harold tidak ada," kata beliau.


"Dia ibuku." Pria bertubuh besar itu mengenalkan. Reddick dan Delvin mengangguk sopan. Lalu mereka kembali melihat ke arah pria tadi.


"Itu menyedihkan karena kita tidak bisa bertemu dengannya," ujar Reddick.


"Dia tidak lama. Juga tidak jauh dari sini. Omong-omong, darimana kalian tahu kalau Harold ada di sini? Karena sudah agak lama sejak dia muncul di sini, tidak ada satupun yang mencarinya. Dia terlihat tidak punya keluarga selain keluarga di sini," kata pria itu.


"Dia datang sendiri ke rumah kami," kata Reddick.


"Benarkah?" tanya pria itu terkejut. Dia menoleh pada ibunya.


"Sudah ibu katakan kalau dia sepertinya sudah ingat siapa dirinya," ujar ibu itu dengan senyuman hangat.


"Ya. Sepertinya begitu." Pria bertubuh besar itu mengangguk.


"Apakah Lionel, oh tidak emm ... Harold tadi tidak bisa mengingat siapa dirinya?" tanya Delvin menggebu sampai ia salah sebut.


"Ya. Dia di temukan pada tumpukan sampah oleh ibu yang waktu itu mencari barang-barang yang masih bisa di pakai. Beliau pikir melihat ada mayat. Namun ternyata dia masih hidup," kisah Pria itu.


Berada di atas tumpukan sampah? Lalu siapa yang ada dalam kubur itu? Apa orang asing yang mendorongku dalam suatu tempat itu melakukan sesuatu? Karena takdirnya bisa berubah berkat pria asing yang sepertinya punya wewenang untuk mengubah takdir.


Reddick berpikir keras.


Delvin melirik. Dia tidak mengerti. Yang dipahaminya sekarang adalah pria itu tidak bisa mengingatnya karena ada memory yang hilang. Lionel sempat hilang ingatan. Mungkin di sebabkan oleh perpindahan jiwa yang rumit itu.


"Aku datang!" Sebuah suara terdengar dari luar. Semua orang di dalam rumah melongok keluar.

__ADS_1


"Dia sudah datang." Pria itu tersenyum. Reddick dan Delvin terkejut melihat tampilan pria itu. Meskipun itu tubuh Reddick, jiwa yang ada di dalam tubuh itu adalah milik Lionel, si casanova. Tampilan Lionel sekarang sungguh mencengangkan. Bukan elegan dan indah, ini kebalikannya. Lionel tampak buruk karena memakai pakaian compang camping dengan wajah kotor.


"Aku membawa ini untuk ibu." Lionel menunjukkan satu tas kresek berisikan pakaian. Sepertinya pria ini belum melihat ada tamu. "Ini aku ... oh, ada tamu." Lionel baru menyadari ada dua orang ini di kursi ruang tamu mereka yang belum memakai keramik. Hanya tanah semen biasa yang tampak hancur di sana sini. "Ternyata kalian." Lionel berwajah datar.


***


Meski sudah hampir setengah jam, Reddick dan Delvin melihat Lionel, mereka masih tertegun melihat keadaan pria ini. Namun Lionel menanggapi dengan santai.


"Jadi kalian mendengar cerita tentang ku dari mereka?" tanya Lionel. Saat ini mereka di tinggalkan hanya bertiga.


"Selama ini kamu tidak muncul karena hilang ingatan?" tanya Reddick.


"Ya. Mungkin bukan tidak ingat, tapi seperti semuanya bagai mimpi. Jadi aku menganggapnya bukan kejadian sesungguhnya. Kamu tentu bisa bayangkan Reddick. Saat itu aku masih berada di hotel dengan seorang perempuan. Begitu terbangun, aku sedang berada di tumpukan sampah. Bukan, tetapi gunung sampah di sana. Kalian pasti melihat gunung itu sebelum ke rumah ini." Lionel mengatakan itu dengan emosional. "Lalu aku bercermin. Ketika itu semuanya mengejutkan melihat wajah dan tubuhku berubah. Itu tubuh orang lain. Itu milikmu Reddick. Mendadak aku sakit keras yang membuat aku lupa tentang beberapa hal, termasuk kamu Delvin. Maaf."


Delvin yang termasuk salah satu hal yang di lupakan mendengarkan dengan baik.


"Tidak apa-apa. Aku tidak bisa memaksakan." Delvin berusaha mengerti.


"Ya. Apa yang aku katakan benar bukan?"


Reddick tidak bisa menyangkal. Dia masih bisa mengingat dirinya dengan baik, berbeda dengan Lionel yang hampir kehilangan jati dirinya. Bahkan kehidupan di sini sungguh tidak layak jika di bandingkan dengan kehidupan Lionel sebelumya.


"Bagaimana jika kamu kembali ke apartemen, lion," tawar Reddick.


"Ya. Kamu bisa kembali hidup sebagaimana kamu biasanya hidup." Delvin setuju.


"Aku ini Reddick, bukan Lionel." Bibir Lionel tersenyum seakan mencela ajakan mereka.


"Tidak masalah soal itu, tapi ... aku tidak bisa mengajakmu kembali ke rumah karena aku tinggal di sana dengan istriku," kata Reddick. Lionel punya dua rumah. Yang satu adalah apartemen yang sering dia pakai bermalam dengan para wanitanya. Yang satu lagi adalah rumah yang Reddick tinggali.


"Istri? Istri yang mana? Apa aku dulu sempat menikah?" tanya Lionel terkejut.

__ADS_1


"Red kembali menikah dengan Bellina ketika menjadi dirimu," ujar Delvin menjelaskan.


"Bellina? Benarkah?" Pandangan Lionel berpindah pada Reddick lagi.


"Ya," sahut Reddick.


"Jadi kamu memakai tubuhku untuk melakukannya dengan Bellina?" tanya Lionel nakal. Dua orang pria ini paham maksud Lion. Di luar dugaan Reddick memerah tanpa sadar. "Hei, apa kau belum pernah melakukannya?" seru Lionel mengejutkan. Delvin melirik. Reddick memang berwajah merah karena malu.


"Tutup mulut mu," desis Reddick kesal.


"Jadi bagaimana, kamu ikut kita?" tanya Delvin. Lionel diam sejenak.


"Aku juga butuh bantuan mu, Lion." Reddick mengutarakan niatnya dengan jujur.


"Bantuan?"


Delvin menoleh pada Reddick. "Ya. Dia harus mencari ayahnya yang berada dalam genggaman ibu mudanya." Delvin menjelaskan. Lionel kembali diam.


"Mungkin aku memang Lionel atau Reddick, tapi aku di sini adalah orang lain. Aku putra mereka." Pribadi Lionel ternyata jauh berbeda dengan dia yang dulu. Jika dulu tidak memikirkan keluarga karena dia memang sendirian, kini dia punya keluarga yang sepertinya menyayanginya. Lionel merasa berat untuk meninggalkan mereka.


Delvin dan Reddick saling pandang. Reddick diam seraya menggaruk dagunya dengan lembut. Dia berpikir lagi, bagaimana harus membujuk pria ini pulang.


"Kita bisa membicarakan itu lagi Lionel. Pikirkan sekali lagi tawaranku. Aku butuh tubuh Reddick untuk menyelesaikan semuanya. Apa kamu tidak ingin kembali ke dalam tubuh masing-masing?" tanya Reddick.


"Aku tidak tahu, tapi jika kamu bertanya sekarang, aku akan menjawab pertanyaan mu dengan situasi hati ku sekarang," kata Lionel. "Aku lebih bahagia sekarang Reddick. Aku punya keluarga." Binar mata Lionel tidak berbohong. Namun sesaat Lion sadar sesuatu. "Bukan berarti aku tidak bahagia ketika denganmu dulu, Delvin. Hanya saja, aku masih belum ingat tentang kebersamaan kita berdua." Lionel bicara dengan jujur.


Delvin mengerjap tiba-tiba saja di sebut oleh Lionel.


"Aku tahu. Tidak apa-apa. Aku mengerti," ujar Delvin berusaha tampak wajar.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2