Menjadi Lionel Si Cassanova

Menjadi Lionel Si Cassanova
Bab. 17 • Tangis Bellina


__ADS_3

Ini pertama kalinya pagi hari Reddick di awali dengan menatap ke arah pintu kamar di sebelahnya. Jika biasanya ia sibuk menata rencana ke depannya, sekarang ia hanya menunggu pintu itu terbuka. Karena ia merasa ini semua hanya mimpi.


 


Pintu terbuka dengan keras. Reddick langsung melihat ke arah buku bacaannya. Berpura-pura sibuk membaca.


 


"Lion? Kamu sudah bangun?" tanya Bellina terkejut.


 


"Ya." Reddick mengangguk. Wanita itu langsung mengerjapkan mata kebingungan karena dirinya belum ke kamar mandi sama sekali. Menurutnya pria ini akan bangun siang. Ternyata tidak. Ia malu dengan keadaannya yang baru saja bangun tidur. Dengan gerak cepat, Bellina segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


 


Reddick tersenyum. Menurutnya itu lucu. Ini baru pertama kali ia melihat wanita itu gugup.


 


...***...


 


"Sarapan pagi sudah siap, Bellina. Kamu bisa duduk dan makan," kata Reddick seraya mematikan kompor.


 


"Kenapa repot-repot memasak untukku? Aku bisa memasak sendiri," kata Bellina. Reddick tahu soal keahlian Bellina memasak. Namun, dia juga bukan amatir. Dia ingin hari pertama wanita ini di rumah ini membuatnya merasa nyaman.


 


"Tidak masalah. Sebagai penyambutan kamu tinggal di rumah ini." Reddick muncul dengan sepanci kecil sup. Aroma sedap menusuk hidung saat baru saja masakan itu melintas. Rasa lapar menyerang perut Bellina. Ia mencoba tahan, tapi ternyata rasa lapar itu tidak berkompromi.


 


"Krukkk ..." Suara memalukan itu berbunyi. Membuat wajahnya pucat karena malu. Reddick mendengar itu. Namun ia pria yang sopan. Dia hanya tersenyum tipis saat masih membelakangi Bellina. Tidak ada komentar atau apapun untuk membahas suara perut yang keroncongan itu.


 


Bellina menjadi malu sendiri. Bahkan saat Reddick tidak membicarakan apapun, ia tetap malu.


 


"Makanan sudah siap. Tidak baik di biarkan terlalu lama. Kamu bisa memulainya lebih dulu saat aku membereskan dapur," kata Reddick mempersilakan wanita ini makan. Mendengar suara perut yang lapar itu sangat nyaring, kemungkinan Bellina memang lapar.


 


Bellina membuang rasa malunya dan duduk. Semua peralatan makan sudah ada di atas meja. Bellina mulai mengambil makanan dan menyantapnya pelan. Meskipun kelaparan, Bellina sepertinya menahan diri untuk tidak makan dengan cepat.


 


Reddick yang masih di meja dapur tersenyum senang, akhirnya Bellina mau sarapan dulu.


 


"Lion," panggil Bellina. Reddick menengok kebelakang saat nama itu di sebut.


 


"Ada apa, Bellina?"


 

__ADS_1


"Bisakah, kamu tinggalkan itu dan makan lebih dulu?" tanya Bellina lambat-lambat. Reddick melirik ke arah perabot yang akan di bersihkan. "Namun jika kamu tidak mau ... tidak apa-apa." Bellina langsung menarik ajakannya.


 


"Baiklah. Aku akan ikut sarapan dulu, setelah itu bisa membersihkannya lagi nanti." Reddick tentu setuju. Itu tawaran menarik. Ia segera mencuci tangan dan mengelapnya agar kering. Bellina menghela napas lega.


 


Reddick menarik kursi di depan Bellina dan mengambil piring. Menuangkan beberapa makanan di atas piringnya. Lalu mulai makan. Bellina pun tampak makan juga. Ternyata wanita ini menunggunya. Bibir Reddick tersenyum senang.


 


Kehidupan kedua ini memberi Reddick banyak pelajaran. Apa yang ia pikir soal istrinya yang berselingkuh dengan Lionel adalah kebohongan. Itu semua hanya rekayasa. Dia tidak seharusnya langsung percaya. Namun sakit hati karena cinta, memakan otak pintarnya. Reddick langsung percaya itu murni sebuah perselingkuhan.


 


Bellina juga bukanlah wanita lemah yang biasa ia lihat. Dia sangat berani dan tangguh. Bahkan tenyata Bellina sangat peduli padanya. Sikap dingin itu mungkin karena berusaha mengimbangi dirinya yang sangat kurang bisa mengekspresikan cintanya.


 


"Apa yang aku lakukan setelah ini? Hanya menikah?" tanya Bellina setelah makan pagi mereka tandas. Perempuan ini selalu bicara pada intinya. Jarang berbasa-basi.


 


"Tidak. Kita harus bisa mengambil kembali hartamu dari Agatha."


 


"Bukan. Itu harta milik Reddick," bantah Bellina.


 


"Bukannya harta suamimu adalah milikmu juga?" tanya pria ini heran.


 


 


"Apa kamu tidak ingin merasakan sedikit saja harta kekayaan keluarga suamimu?" pancing Reddick.


 


"Menjadi istri Reddick sudah membuatku merasakan kekayaannya. Aku tidak meminta lebih karena aku datang dengan nol."


 


"Itu terlalu sederhana. Kamu bisa memiliki semuanya jika hati Reddick sudah terbuka." Bibirnya mengatakan demikian karena tahu bahwa itu akan terjadi jika ia kembali menjadi Reddick sekarang. Apapun akan ia berikan pada perempuan. Lebih dari yang pernah ia berikan padanya saat masih hidup dulu.


 


"Aku tidak tahu ada apa. Kenapa kamu selalu membicarakan Reddick? Bukannya biasanya seorang pria lebih suka membicarakan dirinya sendiri daripada membicarakan pria lain?" tanya Bellina yang mulai menyadari ada yang aneh dengan semua pertanyaan itu.


 


Reddick tersadar. Ia bisa membicarakan Reddick karena dirinyalah Reddick itu. Bellina tidak akan memahami itu. Bahkan tidak ada satupun yang bisa menemukannya.


 


"Kamu bukan Reddick. Hentikan bicara soal dirinya." Bellina meminta pengertian Reddick.


 


"Maaf." Reddick menemukan jejak kesedihan di sana. Mungkin Bellina masih terguncang karena kematian suaminya. Apalagi itu adalah bunuh diri. "Aku akan pergi bekerja. Tinggallah sesuka hatimu di sini. Kamu sudah melihat ponselmu?" tanya Reddick. Ia sudah memerintahkan Delvin menyiapkan semuanya.

__ADS_1


 


"Aku melihatnya di atas nakas, tapi aku belum menyentuhnya," kata Bellina merasa itu tidak perlu.


 


"Mungkin kamu tidak ingin benda itu, tapi kita tidak bisa berkomunikasi saat berjauhan. Karena kerjasama kita butuh komunikasi yang baik," jelas Reddick. Bellina menghela napas.


 


"Baiklah. Aku akan memakainya."


 


"Pastikan kamu menikmati tinggal di sini, Bellina," kata Reddick.


 


"Aku tahu, karena aku tidak punya tempat lain lagi untuk berlindung." Bellina tahu posisinya.


 


"Bukan. Karena aku tidak mau kamu tidak nyaman, Bellina. Aku tidak ingin itu," kata Reddick menatap dalam ke arah Bellina yang mulai menundukkan pandangan. Dia menghindari tatapan pria ini.


 


"Terserah," gumam Bellina lirih.


 


...****...


 


Ini sungguh miris. Reddick sedang mengunjungi sebuah makam. Dimana nama Reddick Wyclif terdapat di batu nisan. Itulah makam dirinya sendiri. Entah takdir sedang merencanakan apa.


 


"Aku tidak tahu harus berkata apa, karena adalah ..." Reddick menoleh cepat saat ada suara langkah di belakangnya. Ada seseorang yang hendak mendekat ke makamnya. Ia segera menjauh dari sana. Namun sungguh sial, karena terburu-buru ia menjatuhkan kunci kamarnya yang tadi ia masukkan ke dalam saku. Reddick memilih bersembunyi di balik pohon besar di dekat makam.


 


Bellina!


 


Wanita itu muncul dengan membawa bunga.


 


"Halo Reddick apa kabarmu? Semoga kamu masih melihatku. Tidak. Seharusnya aku beharap kamu tidak bisa melihatku. Karena kamu akan tahu keburukan keluargamu dan aku." Bellina terdiam. Menjeda kalimatnya sebentar, kemudian menghela napas untuk melanjutkan bicara. "Maafkan aku Reddick." Reddick terkesiap mendengarnya. Suasana kembali sunyi. Saat Reddick mengintip, ternyata wanita itu sedang menangis.


 


"Mungkin tidak seharusnya aku menikah dengan pria lain saat kamu baru saja pergi. Ini pasti membuatmu tidak tenang. Maafkan aku Reddick," ujar Bellina di sela tangisannya yang merebak.


 


Reddick merasa jantungnya ikut terpukul dan sakit saat melihat wanita itu menangis.


 


Kamu tidak salah. Semuanya kamu lakukan untuk niat baik melindungi keluargaku. Namun aku yang sudah menjadi Lionel ini lagi-lagi membuat kesalahan. Kita berdua termakan jebakan ibu tiri ku  Seharusnya aku yang meminta maaf, Bellina. Sejak keluargaku memaksamu untuk menikah denganku, sampai sekarang. Semua salahku.

__ADS_1


...________...



__ADS_2