
"Karena aku sempat kehilangan ingatan, mereka memberi ku nama Harold. Aku yang tidak bisa menyebutkan namaku sendiri akhirnya di jadikan salah atau putra ibu. Itu menggembirakan." Lionel menjelaskan kenapa nama dia berubah.
"Apa ada hal aneh lain ketika kamu masuk ke dalam tubuhku?" tanya Reddick ingin tahu. Lionel diam karena berpikir. Agak lama. "Hhh ... Kamu pasti tidak ingat," ujar Reddick akhirnya.
"Bukan. Bukan tidak ingat," sanggah Lionel. Reddick menoleh pada pria ini. "Yang pertama aku ingat adalah kejadian aneh itu. Aku tidak bisa mengatakannya karena itu tampak tidak nyata." Bola mata Lionel melebar seakan melihat hal mengerikan.
"Apa itu tentang pria aneh yang bicara tentang takdir dengan sorot matanya yang tajam?" tukas Reddick yang paham tentang itu.
"Ya. Aku seperti berada di dimensi lain. Namun kakiku tidak berpijak pada tanah. Aku merasa melayang-layang. Entah aku ada dimana. Yang jelas bukan di dalam dunia manusia. Karena sekitarnya terlihat berwarna biru dan hitam menjadi satu. Tidak jelas apa yang sebenarnya ada di sekitarnya itu. Dinding kah? Tirai kah? Lalu ada seorang pria memakai pakaian serba hitam berjalan melayang seperti diriku. Sorot matanya tajam membuat bulu kuduk merinding." Lionel menggambarkan persis kejadian yang ia alami sebelum pergantian jiwa terjadi dengan emosional.
Delvin sungguh tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan Lionel dan Reddick, tapi dari raut wajah yang terbaca dari mereka Delvin yakin itu adalah benar adanya. Mereka benar-benar mengalami kejadian yang tidak bisa di terima akal sehat.
***
Reddick dan Delvin pulang tanpa bisa membawa Lionel. Pria itu menolak pulang karena lebih memilih keluarganya sekarang. Namun mereka harus pulang lebih dulu karena ini sudah malam.
Mendengar deru suara mobil milik Reddick, Bellina mengintai dari jendela besar di ruang tengah. Lalu berjalan menuju ke pintu utama. Sebelum Reddick mendekat ke pintu, Bellina membuka pintu lebih dulu.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang, Lion."
Reddick yang tidak mengira kalau wanita itu berada di sana terkejut. "Bellina, kenapa kamu belum tidur? Ini sudah malam." Reddick segera menghampiri Bellina yang berdiri di depan pintu rumah yang terbuka.
"Justru aku yang perlu bertanya padamu. Kenapa pulang sampai larut malam dan tidak memberi kabar, Lionel?" tanya Bellina seperti sedang menggerutu. Reddick mengerjap. Ini pertama kalinya dia mendapat teguran dari perempuan ini.
"Maafkan aku. Jadi ... kamu sedang menungguku?" tanya Reddick takjub. Namun dia tidak ingin berbesar kepala. Dia menekan rasa bahagia itu.
"Emm ... Ibu terus saja menanyakan kamu. Kenapa sudah malam belum pulang. Jadi aku tidak bisa tidur jika kamu belum pulang. Karena ibu berniat terjaga hingga kamu pulang, aku tepaksa menggantikan ibu menunggumu pulang." Bellina mengatakannya dengan bola mata bergerak ke arah lain. Dia gugup.
"Oh, benarkah? Aku harus meminta maaf sudah membuat ibu khawatir." Ibu memang begitu perhatian padaku. Reddick melirik pada tubuh wanita ini. Dia melihat Bellina hanya memakai pakaian tidur yang tidak tebal. Itu artinya perempuan ini terburu-buru menemuinya yang baru datang. Reddick melepas jas yang ia pakai dan memakaikannya pada tubuh Bellina. Wanita ini mengerjap bingung. "Ayo, kita masuk. Udara di luar sangat dingin," ajak Reddick.
"Tidak perlu Bellina. Kamu pasti mengantuk karena ini sudah malam. Pergilah tidur," tolak Reddick dengan lembut. Dia memang lapar, tapi tidak sampai hati meminta perempuan ini menghangatkan makanan untuk makan malam. Dia tahu Bellina mungkin tidur dengan tidak nyenyak karena ingin terus terjaga untuk menunggu kedatangannya.
"Tidak apa-apa. Aku akan makan juga." Bellina memutuskan untuk ikut makan. Entah kenapa perempuan ini memaksa untuk ikut makan.
"Baiklah. Terima kasih sebelumnya." Reddick wajib patuh karena Bellina memaksa. Ia tidak ingin perempuan ini kecewa. Pun dia sebenarnya gembira karena itu artinya mereka akan makan berdua saja.
__ADS_1
Bellina melepas jas yang di pakaikan Reddick tadi. Lalu melipat dan meletakkan di sofa ruang tengah terlebih dulu. Setelah itu dia menuju ke dapur. Menghangatkan makanan yang tadi petang di buat oleh ibu. Jadi makanan ini memang sengaja di buat untuk Reddick.
Kaki Reddick mengikuti wanita itu di belakangnya dan menuju ke dapur. Kemudian dia duduk di kursi dan memperhatikan Bellina. Sepertinya wanita itu tidak sadar kalau Reddick mengikutinya tadi. Karena saat ini dia sedang berbicara sendiri.
"Hhh ... Kenapa aku jadi ikutan makan juga?" tanya Bellina pada dirinya. Kruyuk. Suara kelaparan dari perut Bellina terdengar nyaring. Reddick terkejut. "Oh, ternyata aku memang lapar juga." Bellina tersenyum mendengar itu. Reddick yang memperhatikan ikut tersenyum geli. Namun dia tidak ingin kehilangan momen menggemaskan ini, makanya dia bersikeras untuk tidak membuat suara apapun. "Nah, semua sudah selesai di hangatkan. Sekarang aku harus memanggil ... Oh, Lionel?" Bellina terkejut melihat Reddick sudah ada di meja makan.
"Ah, iya ... aku baru saja datang dan duduk. Sepertinya kamu sudah selesai menghangatkan makanan ya ..." Reddick segera berpura-pura baru datang. Karena sepertinya Bellina akan malu dan tidak nyaman jika tahu sejak tadi Reddick memperhatikannya. "Jadi kita bisa makan sekarang?" tanya Reddick membuyarkan ketegangan Bellina.
"Y-ya. Kita bisa makan sekarang. Aku akan meletakkan makanan ini di meja." Raut Bellina langsung berubah. Tidak lagi tegang. Jadi sikap berpura-pura Reddick tadi berhasil mengelabuinya. Tubuh Reddick beranjak dari kursi dan ikut membantu Bellina membawakan makanan.
"Makanannya banyak sekali?" tanya Reddick terkejut. Dia baru menyadari ini setelah semua makanan ada di meja.
"Iya. Ibu sengaja memasak untuk mu." Bellina jujur.
"Apakah ibu tidak lelah membuat semua ini? Aku makin jadi merasa bersalah," ujar Reddick.
"Tidak apa-apa. Karena kamu sangat baik pada ibu, beliau membalasnya dengan hal kecil seperti ini," kata Bellina.
__ADS_1
"Ini bukan hal kecil Bellina. Ini Mengagumkan. Aku yang tidak punya ibu, merasa sangat bahagia mendapatkan gantinya." Bola mata pria ini terlihat berbinar. Reddick tersenyum bahagia. Dia tulus saat mengatakannya. Bellina jadi tertegun melihat itu.
...______________...